Gereja harus terus mengikuti perkembangan zaman dari masa ke masa. Pada zaman ini Gereja sedang menghadapi zaman modern yang semua serbadigital. Hal tersebut menjadi tantangan bagi Gereja untuk bisa selalu hadir di tengah-tengah umat Katolik.
Gereja tentunya tidak serta merta menganggap teknologi itu buruk atau melihat dari sisi negatif saja, melainkan dapat dilihat peluang apa saja yang bisa digunakan agar Gereja Katolik tetap bertumbuh dan berkembang. Ia juga menjadi saksi atas perkembangan ilmu, teknologi, dan komunikasi.
Komunikasi memiliki peranan penting dalam melakukan interaksi antarmanusia. Di dalam Alkitab, manusia selalu melakukan komunikasi dengan Allah. Hal tersebut menjadi sarana agar relasi manusia dengan Allah dapat terjalin melalui sabda dan karya-Nya. Tanpa adanya komunikasi, manusia tidak akan dapat mengerti satu sama lain.
Wawasan kita dapat lebih luas berkat adanya teknologi. Sumber daya yang tersedia banyak, memungkinkan kita untuk belajar tentang tradisi dan praktik keagamaan. Selain itu, teknologi juga dapat membantu manusia untuk memahami lintas agama yang lebih baik dan toleran.
Salah satu contohnya adalah dengan melakukan forum diskusi secara online oleh orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda untuk berbagi pandangan dan pengalaman agar bisa memperdalam iman dan menghargai satu sama lain dalam beragama.
Akses rohani
Pandemi COVID-19 telah menyebabkan banyak perubahan bagi manusia yang tentunya membuat mereka makin banyak menggunakan teknologi untuk melaksanakan kegiatan atau pertemuan tertentu.
Salah satu contohnya adalah mengadakan Misa online yang diadakan oleh beberapa gereja dan dilaksanakan oleh umat dari masing-masing tempat. Di Paroki Katedral Jakarta telah membuka Misa online sejak tanggal 12 Juli 2020 yang Misa hariannya dilaksanakan setiap hari Senin hingga Jumat pada pukul 18.00 dan Misa mingguan yang dilaksanakan pada hari minggu pada pukul 08.30 dan 16.30. Hal tersebut menunjukkan teknologi menjadi alat bantu manusia agar tetap menjalani aktivitasnya seperti melakukan Perayaan Ekaristi tetapi secara online.
Teknologi juga dapat membantu manusia untuk mencari hal-hal tertentu dalam lingkup kerohanian. Kita dipermudah untuk membaca atau mendengarkan renungan, bacaan rohani, dan juga homili dari salah satu imam. Dalam menyampaikan pesan-pesan positif dan juga nilai-nilai keagamaan pun dapat disebarkan lebih luas.
Akan tetapi, interaksi online tidak sepenuhnya dapat menggantikan pengalaman spiritual yang diperoleh dari interaksi secara langsung. Misa offline, pertemuan rohani, ataupun berdoa mempunyai pertumbuhan spiritual yang lebih mendalam dibandingkan hanya berinteraksi jauh-jauhan.
Teknologi sudah seharusnya digunakan hanya untuk melengkapi, bukan untuk menggantikan apa yang sudah ada sehingga tidak mengutamakan penggunaan teknologi jika bisa dihadiri secara langsung.
Pelindung teknologi dan internet
Gereja memiliki seorang beato yang bernama Carlo Acutis. Ia merupakan sesosok orang yang menggunakan teknologi secara bijak. Remaja itu mempunyai minat besar terhadap komputer serta mempelajarinya secara autodidak untuk membuat kode di usia muda.
Ia menggunakan komputer untuk mengelola situs terhadap Gereja Katolik lokal dan juga mengembangkan situsnya sendiri. Carlo Acutis menggunakan teknologi dan internet untuk menyampaikan Injil agar dapat dijangkau oleh banyak orang. Acutis juga terlibat dalam kerja amal dan menghabiskan uangnya untuk membantu orang-orang tak mampu di tempat dia tinggal serta menjadi relawan di dapur umum di Milan.
Beato Carlo Acutis telah memberikan mukjizat kepada orang-orang sakit, salah satunya pasien yang menderita kanker pankreas. Hal tersebut tentunya menjadi kabar yang baik bagi Gereja. Ia menunjukkan orang-orang zaman sekarang pun dapat berpartisipasi atas pertumbuhan iman Gereja. Carlo Acutis juga menjadi tanda bahwa Gereja dapat menghadapi dunia modern dengan menggunakan teknologi sebagai sarana pewarta keselamatan Allah.
Tindakan yang dapat dilakukan manusia saat ini
Manusia saat ini berada di tengah kemajuan teknologi yang pesat dan mempunyai pengaruh terhadap cara mereka memahami dan mengembangkan iman. Media sosial dan platform komunikasi memungkinkan mereka untuk terhubung dengan komunitas keagamaan di seluruh dunia. Mereka dapat berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mendukung satu sama lain meskipun terpisah oleh jarak. Ini menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas yang dapat memperkuat iman.
Di sisi lain, manusia sekarang juga biasanya lebih kritis terhadap informasi yang diterima. Mereka selalu berhati-hati dan diajarkan untuk menyelidiki dalam memeriksa kebenaran-kebenaran pada suatu informasi sebelum menerima pandangan atau pendapat dari hal tersebut. Tentunya hal ini sangat penting agar tidak menimbulkan suatu konflik dan kebingungan terhadap informasi yang diterima.
Banyak orang menggunakan teknologi untuk menunjukkan iman mereka dengan cara yang kreatif seperti membuat konten video, blog, atau siniar yang membicarakan terkait nilai-nilai agama. Hal tersebut dapat memperkaya mereka dalam mengembangkan iman. Tentunya, tindakan tersebut tidak hanya berdampak bagi diri sendiri yang melakukan melainkan juga orang-orang yang menerima atau melihatnya.
Manusia sudah beberapa kali melakukan integritas antara teknologi dan juga hal-hal spiritual. Salah satu contohnya adalah dengan menggunakan aplikasi atau website untuk melihat dan melakukan doa, meditasi, dan hal-hal rohani lainnya.
Manusia zaman sekarang, khususnya generasi muda memiliki peluang besar untuk menggunakan teknologi sebagai sarana pengembangan iman. Mereka bisa menghadapi berbagai hambatan atau tantangan yang ada dengan sikap yang kritis, kreatif, dan kesadaran untuk memperkuat iman tetapi tetap bersatu dengan dunia modern.
Tentunya diperlukan dukungan dan bimbingan dari komunitas terlebih orang religius untuk membantu mereka dalam mengelola teknologi yang digunakan untuk pengembangan iman agar penggunaannya pun dapat bermanfaat dan lebih optimal.
Benediktus Yossiawan Teddy Nugroho (seminaris tahun keempat Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan)








