Sinode mengakui bahwa “sejumlah besar orang muda, dengan berbagai macam alasan, tidak mengharapkan apa pun dari Gereja karena tidak menganggap Gereja sebagai sesuatu yang penting dalam hidup mereka. Bahkan, beberapa secara jelas meminta untuk dibiarkan dalam damai, sebab mereka merasa bahwa kehadiran Gereja justru mengganggu dan menjengkelkan”.
Berbagai masalah tidak pernah selesai di berbagai belahan dunia dari dulu hingga saat ini. Perang, bencana alam, kelaparan, dan masalah lainnya selalu muncul. Masalah-masalah ini mengganggu pertumbuhan para orang muda. Kerap kali orang muda pun menjadi korban dari masalah.
Kerasnya dunia memengaruhi juga pola pikir anak muda dalam memandang Gereja. Ada yang berpikir bahwa Gereja menjadi tidak menarik di mata beberapa anak muda. Gereja membutuhkan orang muda untuk meneruskan regenerasinya. Suatu saat generasi yang baru akan mengambil alih kemudi Gereja dan terus begitu seperti suatu siklus. Siklus ini dapat terputus bila para orang muda tidak mau lagi ikut ambil bagian dalam Gereja. Saat ini, banyak orang muda yang mulai bosan dan meninggalkan Gereja.
Bagaimana mungkin kita membiarkan potensi hebat para kaum muda menghilang dari hidup menggereja? Merujuk pada dokumen Christus Vivit, Bapa Suci mengatakan bila anak muda saat ini tidak menyukai bahasan doktrinal dan moral. Menyadari hal ini, Paus menyerukan agar Gereja mulai berubah dan menyesuaikan diri dengan para orang muda.
Paus menyerukan untuk meninggalkan pola-pola yang kaku dan mulai untuk membuka diri. Lewat Christus Vivit, Paus Fransiskus ingin menunjukkan keprihatinan-keprihatinannya terkait dengan orang muda pada zaman ini. Terdapat dua fokus yang ingin dicapai dalam dokumen ini, yaitu pengembangan dan perjumpaan.
Kegiatan dan pertemuan antarorang muda di lingkup Gereja cukup banyak meliputi kegiatan pemberdayaan kaum muda, kelompok doa, kegiatan kebudayaan, retret, sosial, pelayanan, dan sebagainya. Kegiatan ini diadakan untuk membina orang muda dan menumbuhkan iman akan Yesus Kristus.
Perjumpaan sudah ada, tetapi perlu adanya pengembangan. Pengembangan sosial perlu dilakukan untuk menarik semangat kaum muda dalam hidup menggereja. Paus Fransiskus sendiri melihat bahwa orang muda memiliki potensi-potensi baru yang belum ada sebelumnya.
Dari beberapa peristiwa ketika Paus Fransiskus bertemu dengan para umatnya, lelucon dapat menjadi jembatan untuk mengatasi jurang antara kaum muda dengan orang dewasa. Lelucon dapat menjadi suatu cara untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan yang sudah ada.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan bahwa humor adalah sesuatu yang lucu. Keadaan yang menggelikan hati. Humor tidak memandang status kaya atau miskin, dewasa atau muda, sakit atau sehat, etnis, agama, dan kesenjangan lainnya. Berbagai batasan dapat ditembus dengan humor.
Dalam hal sosial, kejenakaan ketika berjumpa dapat membantu untuk mencairkan suasana. Orang menjadi lebih dekat dan nyaman untuk berinteraksi dengan orang yang berada di sekitarnya. Suasana yang cair merupakan dambaan orang-orang yang butuh untuk rileks dan sedang mengalami masalah.
Tidak ada jurang yang memisahkan lewat tawa. Semua orang berhak tertawa dan bahagia bersama dengan sesamanya. Dari segi kesehatan sendiri. Tertawa dapat merilekskan wajah yang kaku. Tertawa membuat hati gembira dan menandakan bahwa orang tersebut bahagia.
Beberapa waktu sebelumnya, 14 Juni 2024, Paus Fransiskus mengundang sejumlah komedian dari berbagai negara di dunia. Paus mengajak mereka untuk bertemu dan berterima kasih kepada mereka karena telah membuat dunia penuh dengan kegembiraan dengan kehadiran para komedian ini.
Tertawa dan merasa gembira bersama-sama, menebar sukacita di mana pun dan kapan pun lewat lelucon konyol yang kreatif. Paus Fransiskus melihat humor sebagai suatu cara untuk menceriakan dunia ini meski sedang berada dalam berbagai masalah dan ia juga mengajak orang-orang untuk menyadari hal ini. Ini dapat menjadi solusi untuk membawa keceriaan dan mendekatkan semua orang.
Salah satu upaya serta perjumpaan yang saat ini diwujudkan oleh Bapa Suci adalah dengan berkunjung ke sejumlah negara-negara. Perjumpaan yang dilakukan oleh Bapa Fransiskus ingin menunjukan bahwa Gereja itu terbuka dan antusias untuk menerima siapa saja.
Dalam audiensinya di Katedral Jakarta pada Rabu, 4 September 2024, Bapa Suci melontarkan candaan yang membuat para audiens tertawa. Dalam beberapa lelucon yang dilontarkan oleh Bapa Suci, ada lelucon yang berisi tentang keprihatinan yang dihadapi oleh dunia, misal masalah menurunnya populasi di banyak negara maju. Menjadikan lelucon sebagai suatu cara untuk menyampaikan keprihatinan, merupakan salah satu cara Paus Fransiskus mewarta.
Menjembatani jurang antarorang muda dengan generasi sebelumnya menjadi tugas dari Gereja. Di era kolaborasi, hendaknya semua pihak baik muda maupun dewasa dapat bersama-sama berkolaborasi dan menciptakan kebersamaan. Orang dewasa perlu meneladani sikap dari Paus Fransiskus yang menaruh perhatian khusus kepada para anak muda.
Orang muda penuh dengan semangat dan inovasi baru. Gereja memerlukan pembaruan yang inovatif untuk lebih menjangkau para orang muda dan agar dapat mengikuti perkembangan zaman.
Joseph Christopher Seto Setiawan (Seminaris Medan Utama Seminari Mertoyudan)








