Di Tengah Situasi Perang Timur Tengah Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia Hadir di Paroki Laurensius Alam Sutera

News1202 Views

Tangerang-Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia (Pope’s Worldwide Prayer Network – PWPN) pada Sabtu – Minggu, 14-15 Maret 2026, hadir di Paroki Santo Laurensius Alam Sutera, Tangerang, Banten. Sejumlah tim PWPN hadir dan dipimpin koordinator PWPN Indonesia Romo Antononius Sumarwan, SJ dari Yogyakarta.

Kehadiran PWPN di Paroki Santo Laurensius adalah untuk memperkenalkan PWPN. PWPN sendiri adalah sebagai salah satu lembaga milik kepausan yang berupaya meneguhkan kembali identitas Gereja sebagai komunitas doa yang hidup dan terhubung secara global.

Pada kesempatan tersebut secara intensif Romo Marwan memperkenalkan  PWPN di Paroki Santo Laurensius melalui rangkaian enam kali Perayaan Ekaristi dalam homili. Sebelum hadir di Paroki ini Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia pun hadir di Paroki Katedral Jakarta. Dalam homilinya di gereja kawasan Alam Sutera ini, Romo Marwan memberikan penjelasan singkat tentang PWPN dan mengajak umat melihat doa mereka dalam cakrawala Gereja universal.

Romo Antonius Sumarwan, SJ saat homili mengenalkan Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia di Paroki Laurensius Alam Sutera Tangerang, Minggu, 15 MAret 2026. UTUSAN/Slamet Riyadi).

Dalam enam kali Ekaristi bersamaan promosi Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia ini para romo yang bertugas pada Misa Sabtu, 14 Maret 2026 pukul 17.00 WIB oleh Romo Marwan, SJ dan pada pukul 19.30 WIB dipimpin oleh Alphonsus Setya Gunawan, Pr bersama Romo Marwan, SJ.

Sementara itu pada Minggu, 15 Maret 2026 pukul 06.00 WIB Ekaristi dipimpin oleh Yohanes Hadi Suryono bersama Romo Marwan. Sedangkan pada pukul 08.30 WIB Ekaristi dipimpin oleh Alphonsus Setya Gunawan, Pr dan homili dibawakan Romo Marwan, SJ. Pada Ekaristi Minggu sore pukul 17.00 WIB dipimpin oleh Victorius Rudy Hartono, Pr sedangkan homili oleh Romo Marwan. Dan pada Minggu malam pukul 19.30 WIB Romo Marwan, SJ memimpin Ekaristi seorang diri. Dalam setiap Ekaristi Romo Marwan selalu yang membawakan homil sekaligus mengenalkan PWPN.

Di awal homilinya, Romo Marwan mengajak umat untuk melihat kejadian perang seperti yang terjadi di Timur Tengah baru-baru ini.  Dunia kembali dikejutkan oleh meningkatnya ketegangan dan perang di Timur Tengah. Konflik antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat yang membuat banyak orang khawatir bahwa dunia sedang bergerak menuju eskalasi kekerasan yang lebih besar. Berita tentang serangan rudal, ancaman senjata, dan ketakutan akan perang pun meluas.

Kepada umat Romo Marwan mengatakan, di balik berita-berita itu ada banyak penderitaan yang diakibatkan. Keluarga-keluarga kehilangan rumah, anak-anak hidup dalam ketakutan, dan masyarakat hidup dalam ketidakpastian.

“Situasi seperti ini sering membuat kita bertanya: mengapa semua ini terjadi? Mengapa manusia terus mengulangi kekerasan yang sama? Mengapa perdamaian begitu sulit dicapai?” tanya Romo Marwan.

Romo Marwan pun mengajak umat untuk mengingat kembali kisah dari Injil Yohanes bab 9 yang baru saja didengarkan umat dalam Ekaristi ini. Ia pun lantas membacakannya.

“Ketika para murid melihat seorang yang buta sejak lahir, mereka bertanya kepada Yesus: Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

Kata Romo Marwan, pertanyaan itu sangat manusiawi. Menurutnya para murid ingin mencari penyebab, ingin mencari siapa yang harus disalahkan. Tetapi jawaban Yesus mengejutkan para murid.

“Yesus berkata: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia. Dengan kata lain, Yesus tidak terjebak pada pertanyaan tentang siapa yang salah. Yesus mengarahkan perhatian pada sesuatu yang lebih penting: bagaimana karya Allah dapat dinyatakan dalam situasi itu,” jelas Romo Marwan.

Melanjutkan homilinya, Romo Marwan pun mengajak umat untuk melihat dari dalam dirinya sendiri tentang perumpaan manusia juga seperti orang yang buta sejak lahir. Dunia tampak tidak mampu melihat jalan damai. Dunia tampak terjebak dalam siklus kekerasan, kecurigaan, dan persaingan kekuatan.

“Jika kita hanya bertanya siapa yang salah, kita bisa terus berdebat tanpa akhir. Tetapi Injil hari ini mengundang kita untuk melihat dengan cara yang berbeda. Yesus berkata: “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang. Artinya, kita tidak hanya dipanggil untuk bertanya, tetapi untuk bertindak bersama Tuhan. Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari karya Allah di dunia,” ungkap Romo Marwan.

Melanjutkan homilinya, kata Romo Marwan terang Kristus itulah yang memberi harapan dalam situasi paling gelap sekalipun. Allah masih dapat menyatakan karya-Nya. Mengutip perkataan Yesus Romo Marwan menambahkan: “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia”.

Buklet Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia, “Mengasih Maria” tahun 2026.

Pada bulan Maret ini situasi dunia sedang dalam konflik perang di Timur Tengah. Intensi doa Paus pada bulan Maret 2026 sungguh relevan. Paus pun mengajak seluruh Gereja berdoa untuk pelucutan senjata dan perang.

Doa ujud Paus itu adalah: “Semoga bangsa-bangsa mengusahakan pelucutan senjata yang efektif, khususnya pelucutan senjata nuklir, dan para pemimpin dunia memilih jalan dialog serta diplomasi daripada kekerasan.”

Kata Romo Marwan, ujud ini bukan sekadar doa politik atau doa diplomatik. Ini adalah doa iman. Doa yang percaya bahwa perubahan dunia tidak hanya dimulai dari meja perundingan, tetapi juga dari hati manusia yang dibuka oleh rahmat Tuhan.

“Di sinilah saya hendak memperkenalkan Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia, atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Pope’s Worldwide Prayer Network, dan mengajak Anda untuk mengambil bagian di dalamnya

Kata Romo Marwan, Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia adalah karya Gereja yang sudah berusia lebih dari 175 tahun. Didirikan oleh para imam Yesuit di Prancis abad ke-19, jaringan ini bertujuan untuk menyatukan doa umat di seluruh dunia dengan hati Paus dan kebutuhan dunia.

“Setiap bulan, Paus memberikan satu intensi doa. Intensi ini seperti jendela yang terbuka ke dunia: kita melihat penderitaan, harapan, dan panggilan kemanusiaan. Dengan mendoakan intensi ini, doa kita tidak berhenti pada diri sendiri. Kita menjadi rasul doa — orang yang diutus untuk membawa dunia ke hadapan Tuhan dan membawa hati Tuhan ke dunia,” katanya.

Di Tengah homilinya, Romo Marwan pun melantunkan lagu Doa Persembahan Harian. Suaranya merdu diiringi musik gereja dan mengalun. Umat pun mendengarkan penuh kidmat.

Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia – Indonesia mengundang Anda untuk bergabung dalam WA Group Mengasih Maria, untuk berlatih rohani bersama.

Doa Persembahan Harian:

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putera-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi pembimbing dan kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi kasih-Mu. Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan…

Setelah melantunkan lagu tersebut Romo Marwan pun mengatakan doa sederhana ini mengajarkan bahwa seluruh hidup bisa menjadi doa. Menurutnya, pekerjaan, kelelahan, kegembiraan, tugas kecil, konflik, kesabaran — semuanya dapat dipersembahkan dan dipersatukan dengan persembahan Kristus dalam Ekaristi.

Maka, katanya, doa tidak hanya terjadi di gereja. Doa bisa terjadi di dapur, di kantor, di sekolah, di jalan macet, di ruang perawatan, di ruang kelas.

“Doa Persembahan Harian melatih kita untuk menemukan Tuhan dalam segala”, tegasnya.

Doa ini, kata Romo Marwan bisa dilakukan secara pribadi dan didaraskan setiap pagi. Ia mencontohkan, hal ini bisa dilakukan dalam keluarga sebagai doa pembuka sebelum beraktivitas. Tak hanya itu, doa persembahan harian ini bisa menjadi pembuka rapat, pelayanan, latihan koor, atau pertemuan lingkungan.

Suasana pengenalan Booklet PWPN. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Ajakan Terlibat

Diakhir homilinya Romo Marwan mengundang umat terlibat dalam Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia. Pertama melalui doa. Pesannya untuk memulai mendoakan Persembahan Harian. Ikuti intensi doa bulanan Paus. Lalu upayakan satu atau beberapa aksi nyata untuk mewujudkan apa yang didoakan.

Kedua melalui dukungan nyata. Pada kesempatan itu Tim Jaringan Doa membawa booklet 2026 berjudul Mengasih Maria. Booklet ini , disusun oleh Romo Leo Sardi, SJ ahli Spiritulitas Ignasian yang saat ini menjadi pembimbing rohani di Collegio Internazionale del Gesu, Rome. Booklet ini membantu siapapun untuk berdoa sepanjang tahun, belajar dari dan bersama Bunda Maria.

Di dalam booklet ini terdapat juga doa-doa yang digubah oleh Romo Sindhunata, SJ. Salah satunya doa tentang “Berhenti Marah. Salah satu kalimatnya menyentuh banyak hati: “Berilah aku rahmat untuk menyadari, asal aku tak menganggap diri penting dan tinggi, aku justru bisa tertawa atas hal-hal yang menyulut marah.” Doa ini terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari umat kota besar.

“Sebelum pulang jangan lupa untuk memperoleh booklet ini. Ongkos cetaknya hanya Rp20.000,00. Namun jika Anda memberikan dana lebih dari ongkos cetak, Anda ikut mendukung program Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia. Dana Anda akan kami pakai untuk membuat booklet ini tersedia juga bagi umat di pelosok Indonesia. Selain itu, dana Anda juga akan kami kirim ke Roma untuk mendukung program internasional Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia,” ajak Romo Marwan untuk mendukung PWPN.

Tim PWPN berfoto bersama seusai bertugas mengenalkan misi Bapa Suci melalui doa. (Dok. PWPN Indonesia).

Dukungan dari Tim PWPWN dan Gereja Laurensius

Pengenalan Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia ini didukung sejumlah Promotor PWPN di Jakarta dan Tangerang. Tim promotor dikoordinasi oleh Susan Makmur dari Paroki Laurentinus Alam Sutera. Tak hanya itu, dukungan yang sungguh besar bagi PWPN adalah dari Paroki Laurensius yang telah mengijinkan dan memberikan kesempatan serta dukungan untuk mengenalkan PWPN di gereha ini.

“Kami sungguh berterima kasih kepada Romo Yohanes Hadi Suryono, Pr selaku Pastor Kepala Paroki Santo Laurensius serta ketiga pastor rekan yaitu Romo Victorius Rudy Hartono, Pr, Romo Alphonsus Setya Gunawan dan Romo Silvester Hari Pamungkas, Pr, juga kepada Ibu Grace Siahaan Njo dari bidang pelayanan, Ibu Maria Christina serta Ibu Rahma dari bidang peribadatan,” kata Romo Marwan, SJ.:

Sebelum memasuki Gereja untuk Misa, umat menerima kartu Doa Persembahan Harian yang berisi informasi PWPN Indonesia. Setelah selesai Ekaristi umat diajak membawa pulang Booklet doa tahunan PWPN 2026 berjudul Mengasih Maria.

Promosi PWPN selama dua hari ini mendapat apresiasi dan sambutan umat sungguh luar biasa. Setidaknya hampir 1.500an eksemplar Booklet dibeli dalam dua hari kegiatan ini. Booklet ini berisi panduan doa sekaligus dukungan konkret bagi pelayanan PWPN di Indonesia dan dunia. Hampir 2.500 eksemplar kartu Doa Persembahan Harian pun dibawa pulang oleh umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *