Di Zaman yang Berubah, Masih Relevankah Teladan Santo Yusup?

Lima Patung Santo Yusuf di Gereja Jago Ambarawa

Feature232 Views

Ketika tiba dan memasuki halaman Gereja Santo Yusup Ambarawa yang lebih dikenal sebagai Gereja Jago, pandangan segera tertuju pada sebuah patung Santo Yusup yang berjalan bersama Yesus yang telah beranjak remaja.

Santo Yusup terlihat memegang punda Yesus remaja dan mendampinginya saat menempuh sebuah perjalanan. Patung itu bukan sekadar penghias halaman gereja. Di balik karya seni tersebut tersimpan sebuah pesan iman yang mendalam. Sebuah katekese untuk mengajak setiap orang merenungkan kembali makna kehadiran seorang ayah dalam kehidupan keluarga.

Gereja Jago Paroki Santo Yusup Ambawara, Jawa Tengah. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Di kompleks Gereja Santo Yusup Ambarawa yang bersejarah ini ada lima patung Santo Yusup. Kelimanya dengan visual masing-masing dan menjadi media pewartaan yang mengajak umat memahami peran Santo Yusup dari dalam sisi kehidupan.

Di selasar sisi barat Gereja, umat disuguhi dengan Bengkel Iman Santo Yusup dengan patung Santo Yusup yang sedang tidurnya. Sementara itu di dalam gereja, tepat di belakang bangku umat, berdiri patung Santo Yusup dalam peristiwa wafat bahagia. Patung ini pun menjadi pelindung mereka yang menghadapi akhir kehidupan.

Sementara itu sebelah kiri altar gereja, tak jauh dari panti koor, berdiri patung Santo Yusup yang menggendong Kanak-kanak Yesus. Di sampingnya terdapat sebuah kotak kayu berisi relikui para orang kudus. Sementara itu, patung kelima berada di lorong depan ruang rekreasi pastoran.

Rm. Stephanus Bratakartana, SJ, mengatakan kepada utusan.net kelima patung tersebut bukan sekadar karya seni religius, melainkan sarana pewartaan iman.

“Setiap patung mempunyai katekesenya,” jelas Romo Brata.

Romo Rm. Stephanus Bratakartana, SJ menjelaskan patung-patung Santo Yusup di Gereja Jago Paroki Santo Yusup Ambawara, Jawa Tengah. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Salah satu patung yang paling menarik perhatian ialah patung Santo Yusup yang berjalan bersama Yesus ketika remaja di halaman depan gereja. Santo Yusup digambarkan memegang tongkat peziarah, sementara ia dan Yesus memegang salib dan sama-sama mengenakan sepatu gunung.

Romo Brata mengatakan, simbol-simbol itu bukan dibuat tanpa makna. Katanya, Santo Yusup adalah sebagai pembimbing dalam iman dan kehidupan maka digambarkan memegang tongkat peziarah dan memakai sepatu gunung.

Makna dari patung ini menunjukkan bahwa seorang ayah tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia dipanggil menjadi pembimbing perjalanan iman anak-anaknya. Santo Yusup berjalan di depan sebagai penunjuk arah sekaligus menemani mereka bertumbuh dalam kebijaksanaan dan kasih Allah.

Santo Yusup menggendong Kanak-kanak Yesus. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Di tengah zaman ketika sosok ayah sering kali dipahami hanya sebagai pencari nafkah, sosok Santo Yusup justru menghadirkan makna yang jauh lebih mendalam. Menariknya, dalam Injil tidak satu pun perkataan Santo Yusup dicatat. Namun melalui keheningan, kerja keras, kesetiaan, tanggung jawab, dan ketaatannya kepada kehendak Allah, ia menjadi teladan bagi setiap ayah sepanjang zaman.

Dikatakan Romo Brata, Gereja terus menerus menghidupkan teladan Santo Yusup melalui katekese maupun liturgi. Salah satunya melalui lagu Santo Yusup yang Menjaga yang terdapat dalam Puji Syukur (PS No. 644) dan Madah Bakti (MB No. 553).

Santo Yusup di sebelah kiri altar Gereja Ambarawa. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

“Dulu Santo Yusup menjaga Keluarga Nazaret, sekarang ia menjaga keluarga-keluarga Kristiani. Lagu itu bukan sekadar dinyanyikan, tetapi untuk dihidupi agar umat semakin percaya bahwa Santo Yusup sungguh menjadi pelindung keluarga,” kata Romo Brata.

Romo Brata menambahkan, pengenalan akan Santo Yusup sebaiknya dimulai sejak anak-anak masih kecil. Maka katekese tidak harus rumit dan melalui cerita sederhana, simbol-simbol, pengalaman sehari-hari, maupun doa bersama, anak-anak dapat mengenal sosok ayah yang setia, rendah hati, pekerja keras, dan penuh kasih.

“Katekese akan bertumbuh apabila terus-menerus ditanamkan sejak anak-anak masih kecil,” tegasnya.

Patung Santo Yusup Tidur. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Patung-patung di Gereja Jago Santo Yusup Ambarawa ini bukan sekadar penanda ruang-ruang gereja. Inilah undangan untuk melihat kembali makna seorang ayah dalam kehidupan keluarga. Ia hadir sebagai pribadi yang tidak banyak berbicara. Dalam keseharian bersama Yesus dan Maria ia menunjukkan kasih melalui kesetiaan dan tindakan nyata setiap hari.

Saat menyaksikan secara detil patung-patung Santo Yusup di Gereja Santo Yusup Ambarawa, umat Katolik tidak hanya melihat pelindung Gereja Jago. Justru di sini umat dipanggil untuk mengenal lebih dalam Santo Yusup sebagai pelindung keluarga-keluarga Kristiani. Ia seorang ayah yang terus menemani, mendoakan, dan menunjukkan jalan seperti kompas menuju kasih Allah melalui keheningan yang penuh makna.

Patung Santo Yusup meninggal bahagia didampingi Yesus dan Bunda Maria. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Zaman terus berubah dan cepat. Teladan Santo Yusup tetap masih relevan. Seperti dipesankan Romo Brata, ia mengajarkan bahwa seorang ayah sejati. Santo Yusup bukanlah mencari pujian, melainkan mereka yang melindungi tanpa menguasai, membimbing tanpa memaksa, bekerja tanpa banyak bicara. Santo Yusup telah mengajarkan kesetiaan  dan berjalan bersama keluarga menuju Allah Bapa.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *