Uskup Rubi: KAS Berduka, Romo Kieser SJ, Pengajar Cerdas dan Teladan Hidup

News1055 Views

YOGYAKARTA – Gereja Katolik Indonesia, khususnya Keuskupan Agung Semarang (KAS), berduka atas wafatnya Romo Bernhard Kieser, SJ, imam Serikat Yesus sekaligus dosen senior Teologi Moral Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma. Romo Kieser wafat pada Sabtu, 6 Juni 2026 siang di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Kepergian Romo Kieser meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak, mulai dari rekan-rekan sesama Jesuit, para mahasiswa, alumni Fakultas Teologi Wedabhakti, hingga umat yang pernah mengalami pelayanan dan pendampingannya. Selama puluhan tahun, Romo Kieser dikenal sebagai sosok imam, pendidik, sekaligus pembela kaum kecil yang memberikan pengaruh besar bagi perkembangan Gereja di Indonesia.

Uskup Agung Semarang, Robertus Rubiatmoko, menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas wafatnya Romo Kieser.

“Rm. B. Kieser SJ adalah seorang Romo Yesuit yang sangat mengagumkan: setia, tekun, sederhana, dan ramah dalam berkomunikasi dengan gaya khasnya,” tutur Mgr. Rubiatmoko kepada utusan.net Minggu, 7 Juni 2026 siang.

Menurut Uskup Agung Semarang tersebut, Romo Kieser memiliki keluasan pengetahuan dan wawasan yang luar biasa sebagai dosen Teologi Moral. Hal itu didukung oleh minat bacanya yang sangat tinggi. Ia juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap pengembangan perpustakaan, baik di Kolese Santo Ignatius (Kolsani) Kotabaru maupun di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta.

“Sebagai dosen teologi moral, sangat luas pengetahuan dan wawasannya. Apa yang diajarkan tidak mudah lenyap dari ingatan,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar akademisi, Romo Kieser dikenang sebagai imam yang memiliki keberpihakan kuat kepada kaum kecil dan mereka yang tersingkir. Salah satu perhatian khususnya adalah pendampingan bagi para penghuni lembaga pemasyarakatan.

“Bagi saya, Rm. Kieser sungguh mengagumkan dalam ‘mbelani’ dan ‘ngopeni’ orang kecil dan tersingkir seperti mereka yang ada di penjara-penjara. Hal ini menginspirasi para frater untuk ikut terlibat dalam pendampingan pastoral,” kata Mgr. Rubiatmoko.

Sosok Romo Kieser juga dikenal sangat bersahabat dan rendah hati. Ia mampu menjalin relasi dengan siapa saja tanpa membedakan latar belakang maupun status sosial.

“Rm. Kieser adalah pribadi yang sangat bersahabat dengan siapa pun dan tidak memandang rendah orang lain,” lanjutnya.

Kepergian Romo Bernhard Kieser menjadi kehilangan besar, khususnya bagi keluarga besar Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma. Sebagai salah satu dosen perintis, dedikasi dan pengabdiannya telah membentuk banyak generasi imam, biarawan-biarawati, serta kaum awam yang kini melayani Gereja di berbagai tempat.

Bagi para mahasiswa dan alumninya, Romo Kieser bukan hanya pengajar yang cerdas, melainkan juga teladan hidup yang memperlihatkan bagaimana iman harus diwujudkan dalam keberpihakan kepada mereka yang lemah dan terpinggirkan.

Menutup pesannya, Mgr. Rubiatmoko mengungkapkan keyakinannya bahwa Romo Kieser kini telah menikmati kebahagiaan kekal bersama Tuhan.

“Kini beliau sudah berbahagia di surga bersama para kudus Allah. Rm. Kieser, selamat jalan menuju ke rumah Allah Bapa di surga.”

Selamat jalan, Romo Bernhard Kieser, SJ. Warisan pemikiran, keteladanan hidup, dan semangat pelayanan kepada Gereja serta kaum kecil akan terus hidup dalam hati banyak orang yang pernah mengenal dan belajar darimu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *