“Bu Suster datang!” Begitulah teriakan anak-anak usia TK dan SD yang tinggal di bantaran kali. Mereka berebutan menyambut sosok biarawati yang datang dengan sepeda ontel yang dipasang keranjang di depannya.
“Bu Suster”, begitulah mereka biasa memanggilnya. Maklum, mereka tidak tahu tentang suster atau biarawati Katolik itu. Mereka hanya tahu Bu Suster adalah sosok malaikat yang peduli pada nasib mereka yang kurang beruntung
“Bu Suster, bawa apa?” tanya anak-anak sambil berebut membawakan barang-barang yang ada di keranjang sepeda ontelnya.
“Ini ada bolu kukus untuk kalian,” kata biarawati bertubuh kurus dengan wajah ramah itu. Ia lalu menggandeng tangan-tangan mungil itu menuju bangunan sederhana yang menjadi “sarang yang hangat dan nyaman” bagi anak-anak itu
Seminggu dua kali anak-anak yang kumal, lusuh, dan bau air sungai itu menunggu kedatangan “malaikat tak bersayap”. Bila Bu Suster datang, berarti ada makanan enak, buku bacaan, dan pelajaran gratis. Bonusnya kasih sayang dan pelukan hangat untuk mereka.
Bu Suster di luar kesibukannya yang seabrek di rumah sakit dan biara menyediakan waktu untuk berbagi kasih dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian orang tuanya itu.
Dengan sabar dan telaten, Bu Suster mengajari mereka membaca, menulis, dan berhitung. Ia kadang mendongeng untuk mereka.
Anak-anak berebutan berada di pelukan dan pangkuannya. Murid-muridnya ada yang yatim, piatu, dan semuanya beragama Islam.
Cintanya tak memandang agama. Kasihnya seluas samudra. Semua yang ia lakukan sebagai persembahan hidupnya bagi Tuhan
Kisah Bu Suster dan anak-anak bantaran kali mengingatkan pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya dulu. Di ujung masa studi, saya dan teman-teman melaksanakan KKN di sebuah desa.
Sore hari, kami memberikan tambahan pelajaran untuk anak-anak desa itu. Anak-anak desa sudah rapi dan wangi ketika kami datang. Mereka sangat bersemangat belajar.
Mereka hidup bersama alam dan belajar dari alam. Mereka terbiasa bercocok tanam, menangkap ikan di sungai, mengejar kupu-kupu di ladang, dan kegiatan menyenangkan lainnya di alam bebas.
Mereka begitu polos dan merindukan kasih sayang. Di bening sinar mata mereka, saya temukan keindahan cinta Tuhan.
Saya teringat kalimat, “Jangan remehkan anak-anak yang miskin dan telantar. Malaikat-malaikat mereka menjaga mereka dan memandang Bapanya di surga.”
Beberapa waktu lalu, publik sempat dibuat terhenyak dengan kasus kekerasan seksual pada anak. Ironisnya, kekerasan seksual itu dilakukan oleh orang dewasa yang mereka percayai, yaitu guru, ayah, paman, dan kakak mereka.
Anak-anak rentan mengalami kekerasan, eksploitasi, dan perundungan karena mereka begitu kecil dan lemah.
Masih adakah Bu Suster lain yang memberikan kasih sayang tulus untuk anak-anak malang itu? Ataukah, orang dewasa sengaja menggunakan kemalangan dan kelemahan anak-anak itu untuk kepuasan sesaat yang menghancurkan masa depan anak-anak tak berdosa itu?
Bunda Teresa pernah berkata, “Kemiskinan yang terburuk adalah kesepian dan merasa tidak dicintai. Penyakit terbesar saat ini bukanlah penyakit lepra ataupun TBC, tetapi perasaan tidak dikehendaki. Ada banyak kelaparan kasih dan apresiasi di dalam dunia saat ini dibandingkan kelaparan makanan.”
Bu Suster datang. Kerinduan anak-anak akan sosok penyayang yang menyayangi tanpa melihat rupa itu begitu kuat. Bersediakah kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan membagikan kasih tulus kepada mereka yang begitu mendambakan kasih sayang?
Ilustrasi: UTUSAN/Slamet Riyadi














