Ketika saya memasuki Toko Ceria, pegawai toko itu sedang melakukan briefing atau pengarahan singkat dari manajer kepada para karyawan. Di akhir kegiatan, mereka menyerukan yel-yel.
Seorang mengatakan, “Toko Ceria,” lalu yang lain mengucapkan, “Sapa, Senyum, Salam.” Lalu, ia berkata lagi, “Toko Ceria,” dan diikuti oleh teriakan, “Menjadi Berkat.”
Setelah itu mereka kembali ke tugasnya masing-masing di toko itu.
Sewaktu mengayuh sepeda pulang dari toko, benak saya mengembara dengan kalimat “menjadi berkat”. Setiap orang tentunya ingin menjadi tanda kehadiran Tuhan bagi sesama.
Namun, bagaimanakah caranya? Itulah yang mesti saya temukan jawabannya.
Di dapur rumah saya telah menunggu tumpukan cucian barang pecah belah kotor sisa sarapan keluarga saya. Sambil membasuh barang-barang itu dengan sabun, saya berkata dalam hati, “Terima kasih, Tuhan, saya bisa menjadi berkat lewat kegiatan mencuci piring ini.”
Rupanya, kalimat itu mampu memompa semangat saya. Saya lalu bersemangat menuntaskan pekerjaan itu.
Begitu pula saat saya menyetrika baju-baju keluarga saya. Saya menggerakkan papan setrika itu seraya berkata, “Terima kasih, Tuhan, semoga baju-baju yang bersih dan rapi dapat menyenangkan keluarga saya.”
Ajaibnya lagi, perasaan yang muncul bukanlah beban, melainkan sukacita.
Hal sederhana lainnya, kala saya menatap daftar nomor kontak teman-teman di gawai saya. Tadinya saya berpikir kalau menjalin relasi dengan seseorang itu yang menguntungkan saja. Kalau tidak bermanfaat bagi saya, lalu untuk apa berelasi?
Pikiran saya berubah bukan lagi apa yang bisa saya dapatkan darinya, melainkan apa yang dapat saya berikan padanya. Bisa saja itu berupa sapaan, kalimat-kalimat peneguhan, atau video-video lucu untuk menghibur.
Menjadi berkat seperti yel-yel pegawai Toko Ceria tidak memerlukan usaha yang spektakuler. Rahmat itu muncul lewat menjalankan kegiatan sehari-hari dengan senang hati, tidak menganggap pekerjaan sebagai beban, menjalin persahabatan yang tulus, dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan bukan hanya saat senang, terlebih sewaktu sedih dan kecewa.
Rasanya, anugerah Tuhan itu mengalir pada jiwa yang mampu mensyukuri hal-hal kecil dalam hidup. Seperti halnya para karyawan Toko Ceria yang ingin menjadi berkat lewat pelayanan mereka kepada pengunjung toko, kita pun diundang menyalurkan kasih Allah lewat karya kita sehari-hari.
Di mana pun, kita dapat memancarkan Rahmat Allah bila kita mampu melihat keindahan meski dalam peristiwa yang tampaknya biasa saja.
Ivonne Suryanto








