Belajar Memimpin Diri, Bertumbuh, dan Melayani

Papan Tulis176 Views

Menjadi pemimpin bukan pertama-tama tentang memiliki jabatan atau kemampuan mengatur orang lain. Kepemimpinan justru dimulai dari keberanian untuk mengenal diri, berani bertumbuh, dan bersedia menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk melayani.

Semangat itulah yang menjadi jiwa Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS SMP Joannes Bosco Yogyakarta yang berlangsung pada Jumat–Sabtu, 18–19 September 2026, dengan tema “Siap Mengenal Diri, Bertumbuh, dan Melayani”.

Sebelum pelaksanaan LDK, pada Rabu, 16 September 2026 dilaksanaaan Pra LDK dengan penjelasan tentang mengenal diri “kenali dirimu, kenali temanmu” lewat Jendela Johari. Selain itu juga disyampaikan informasi tentang proses dan dinamika serta informasi penugasan, baik pribadi ataupun kelompok, yang harus disiapkan para peserta.

LDK ini menjadi ruang formasi bagi para pengurus OSIS untuk belajar memimpin diri sekaligus mempersiapkan diri menjadi pribadi yang mampu memberikan keteladanan dan membawa perubahan positif bagi lingkungan sekolah.

Konsep LDK menempatkan kepemimpinan bukan sekadar persoalan organisasi, tetapi sebagai proses pembentukan pribadi yang utuh melalui olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak.

Pelaksanaan LDK tahun ini juga menjadi bagian dari semangat kolaborasi antara SMP Joannes Bosco dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Sejumlah pendidik SMA Kolese De Britto, yakni Filipus Dimas Darumurti, M.Pd., Reinaldus Sem Bau Liku, S.Si., dan Chr. Danang Wahyu P., S.Or., M.M., serta alumnus inspiratif SMP Joannes Bosco yaitu Victor Yuna Aditya Putra.

Kehadiran fasilitator dan alumni menambah semangat dan makna tersendiri bagi para peserta yang dengan antusias menyimak setiap sesi

Keterlibatan tersebut menjadi bentuk konkret gerakan 3B: Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi yang dikembangkan SMA Kolese De Britto. Kolaborasi tidak berhenti pada gagasan, tetapi diwujudkan melalui kesediaan untuk berbagi pengalaman, kompetensi, dan praktik baik dalam pembentukan kepemimpinan peserta didik.

Pada saat yang sama, kegiatan ini menjadi salah satu wujud konkret semangat hasil Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS), khususnya dalam membangun jejaring dan sinergi antarlembaga pendidikan Katolik agar proses pendidikan semakin memberikan dampak bagi perkembangan peserta didik dan masyarakat.

Kepemimpinan bukan sekadar persoalan organisasi, tetapi sebagai proses pembentukan pribadi yang utuh melalui olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak.
Berawal dari mengenal diri menuju kepemimpinan yang melayani

Hari pertama LDK diawali dengan pendalaman Kepemimpinan Dominican. Para peserta diajak memahami bahwa pemimpin bukan sekadar orang yang berada di depan, melainkan pribadi yang bersedia menjadi pelayan kebenaran, memiliki hati yang peka, pikiran reflektif, serta keberanian untuk mewujudkan kebaikan dalam tindakan.

Empat unsur kepemimpinan menjadi dasar proses pembelajaran, yakni kesadaran diri, kecerdikan atau kreativitas, cinta kasih dan kepedulian, serta semangat kepahlawanan. Keempatnya menjadi jalan bagi peserta untuk memahami bahwa sebelum memimpin orang lain, seorang pemimpin harus mampu memimpin dirinya sendiri.

Pembelajaran kemudian diterjemahkan dalam berbagai dinamika. Melalui wide games, peserta berhadapan dengan tantangan yang membutuhkan kerja sama, komunikasi, kreativitas, strategi, dan pengambilan keputusan bersama.

Salah satu dinamika berupa teater mini mengajak peserta menghidupkan nilai-nilai kepemimpinan melalui lima tema: kesadaran diri, kreativitas, cinta kasih, semangat kepahlawanan, dan kebenaran.

Dinamika tersebut dilanjutkan dengan permainan pengibaran Bendera Merah Putih serta sharing tiga putaran. Melalui sharing, peserta belajar berbicara sekaligus mendengarkan, menerima pengalaman orang lain tanpa menghakimi, serta menemukan pembelajaran bersama.

Pada malam hari untuk menutup rangkaian LDK hari pertama ditutup dengan Examen, sebuah latihan pemeriksaan batin untuk melihat kembali pengalaman hari itu, menemukan kehadiran Tuhan, mensyukuri pengalaman, menyadari kekurangan, dan menentukan langkah perbaikan.

Peserta berhadapan dengan tantangan yang membutuhkan kerja sama, komunikasi, kreativitas, strategi, dan pengambilan keputusan bersama.
Berefleksi menuju aksi

Hari kedua membawa peserta pada pengalaman yang lebih konkret melalui peregrinasi dan aksi diri. Peregrinasi menjadi ruang untuk berjalan, merenung, dan menyadari bahwa perjalanan kepemimpinan juga merupakan perjalanan batin untuk menemukan kehendak Tuhan serta panggilan pelayanan kepada sesama.

Setelah itu, peserta terlibat dalam tiga bentuk aksi: orasi, kerja bakti, dan aksi sosial. Orasi melatih keberanian menyampaikan gagasan mengenai persoalan lingkungan, khususnya masalah sampah.

Kerja bakti menjadi pengalaman nyata membangun kepedulian terhadap lingkungan, sedangkan aksi sosial mengasah compassion melalui kepedulian terhadap masyarakat dan mereka yang membutuhkan.

Dalam proses LDK ini, hadir seorang figur Victor Yuna Aditya Putra, alumni SMP Joannes Bosco yang dulu juga merupakan pengurus OSIS dan kini menjadi siswa SMA Kolese De Britto.

Keterlibatannya memberikan warna tersendiri karena proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui fasilitator, tetapi juga melalui pengalaman dan keteladanan alumnus yang pernah mengalami proses pembentukan di SMP Joannes Bosco dan kini melanjutkan perjalanan pendidikannya di SMA Kolese De Britto.

Hari kedua membawa peserta pada pengalaman yang lebih konkret melalui peregrinasi dan aksi diri
Kolaborasi yang menjadi gerakan bersama

Kehadiran tim SMA Kolese De Britto dalam LDK OSIS SMP Joannes Bosco menunjukkan bahwa pendidikan tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Sekolah dapat saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat proses formasi peserta didik melalui jejaring yang hidup.

Dalam konteks gerakan 3B, LDK ini menjadi ruang nyata untuk berkolaborasi melalui keterlibatan dua lembaga pendidikan, berkontribusi melalui berbagi kompetensi dan pengalaman kepemimpinan, serta mendorong peserta didik untuk berprestasi bukan semata-mata dalam arti pencapaian akademik, melainkan berani memberikan yang terbaik bagi diri, sesama, dan lingkungan.

Pada akhirnya, LDK tidak berhenti ketika seluruh rangkaian kegiatan selesai. Para peserta diajak melakukan Renovatio Vitae, yakni merefleksikan pengalaman yang telah dijalani dan merumuskan niat perubahan hidup yang dapat diwujudkan setelah LDK.

Di sanalah makna LDK menemukan bentuknya: kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling depan, melainkan siapa yang bersedia terus belajar mengenal dirinya, bertumbuh bersama orang lain, dan mengubah kemampuan yang dimiliki menjadi pelayanan.

Sebab, seperti semangat yang menjadi dasar LDK OSIS SMP Joannes Bosco, seorang pemimpin pertama-tama dipanggil untuk memimpin dirinya sendiri, sebelum dipercaya memimpin dan melayani orang lain.

Chr. Danang Wahyu Prasetio
Humas SMA Kolese De Britto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *