Pidato Mayor Isman tentang utang para pejuang kepada rakyat yang membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan selalu terngiang-ngiang di telinga Y.B. Mangunwijaya muda. Permenungan yang mendalam atas isi pidato itu memberikan pengaruh yang sangat besar saat Mangunwijaya mengambil keputusan untuk masa depannya.
Ia memutuskan menjadi seorang pastor Katolik agar bisa membalas budi kepada rakyat. Padahal, sebelumnya ia sudah bercita-cita ingin menjadi arsitek. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, kemudian memang menjadi pastor dan akrab dengan panggilan Rm. Mangun. Namun, kemudian ia lebih dikenal sebagai penulis, budayawan, kolumnis, dan juga arsitek.
Setelah melalui pendidikan yang panjang, akhirnya pada 8 September 1958, Mangun ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.
Rupanya, perjalanan studi Rm. Y.B. Mangunwijaya, Pr masih panjang. Setelah ditahbiskan, Rm. Mangun ditugaskan untuk melanjutkan studi ke Fakultas Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (ITB) kemudian melanjutkan studi arsitekturnya ke Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman.
Sepulang dari Jerman, Rm. Mangun menjalankan perannya sebagai seorang pastor sambil tetap menjaga hubungan yang dekat dengan rakyat kecil sambil mulai menulis beberapa karya. Di tengah-tengah karyanya tersebut, Rm. Mangun mulai terlibat dalam proses renovasi tempat ziarah Gua Maria Sendangsono.
Tahun 1980, berita tentang penggusuran warga bantaran Kali Code Yogyakarta mulai memanas. Rm. Mangun memberikan perhatian yang sangat besar pada peristiwa ini. Ia bahkan mendapatkan izin khusus dari Mgr. Kardinal Darmoyuwono untuk mendampingi warga tepi Kali Code yang terancam digusur.
Sebagai bentuk penolakannya atas rencana penggusuran tersebut, Rm. Mangun sampai melakukan aksi mogok makan. Pada masa-masa itu, secara konkret Rm. Mangun melakukan pendampingan dan pelayanan kepada kaum terbawah yang tinggal di bantaran Kali Code.

Pendampingan terhadap masyarakat di Kampung Code inilah yang menjadi salah satu alasan Rm. Mangun akhirnya mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED), selain beberapa karya pendampingan lainnya seperti di Kedung Ombo, Boyolali dan Grigak, Gunungkidul.
Waktu tinggal di Pantai Grigak, Gunung Kidul, pada 1987, selain menuliskan novel Burung-Burung Rantau, Rm. Mangun merumuskan draf Anggaran Dasar Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (YDED). Yayasan ini berfokus kepada penyediaan pendidikan bagi anak-anak yang kesulitan mengaksesnya karena situasi dan kondisi orang tuanya.
Ia juga mendampingi masyarakat di beberapa daerah yang terpinggirkan agar bisa hidup mandiri dengan mengandalkan kemampuan mereka sendiri. Bagi Rm. Mangun, pendidikan anak merupakan kunci untuk mengubah kondisi keluarga yang miskin dan terpinggirkan. Untuk itulah kemudian Rm. Mangun mengakuisisi sebuah SD di Dusun Mangunan, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Proses pendirian yayasan ini diawali dengan membuat Laboratorium Pendidikan di pertengahan tahun 1987. Dari laboratorium inilah kemudian berkembang dan menjadi Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Yayasan ini tepatnya berdiri pada 4 Agustus 1989 dengan tempat kedudukan di Gg. Kuwera 14, Gejayan, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman.
Yayasan DED dengan laboratoriumnya didirikan atas keprihatinan yang mendalam tentang kondisi pendidikan secara umum di Indonesia, khususnya pada tingkat pendidikan dasar yang sangat menyedihkan.
Sudah berpuluh-puluh tahun kita tidak punya lagi sekolah dalam arti sejati. Yang ada hanyalah tempat penataran yang diterapkan kepada anak dengan porsi penghafalan bahan-bahan berkuantitas banyak yang sebagian besar tidak relevan menghadapi hidup riil anak dan sering sama sekali bertentangan dengan pedoman-pedoman sehat psikologi perkembangan anak.
Yayasan DED memetik salah satu kesimpulan yang penting bahwa yang paling menderita di bawah struktur-struktur pemiskinan sebenarnya adalah anak-anak, tanpa “sepengetahuan dan seizin” mereka, mereka lahir terlempar oleh “nasib” ke dalam situasi yang sama sekali melawan kecenderungan alami pengembangan diri mereka sebagai anak yang benar-benar anak.

Faktanya, Yayasan DED tidak mempunyai kekuatan dan waktu cukup untuk mendampingi kategori anak-anak yang sungguh memerlukan dedikasi waktu penuh 100%. Oleh karena itu, Yayasan DED akhirnya memilih kategori anak-anak miskin yang pendampingannya masih terjangkau dari sisi waktu dan energi, yakni anak-anak normal dari keluarga-keluarga yang tidak paling miskin dan menderita.
Yang mungkin dapat dikatakan mayoritas anak-anak yang seumumnya disebut anak-anak yang tidak mampu. Anak-anak buruh tani, anak tukang becak, penjaja kecil, dan sebagainya, yang masih tinggal bersama orang tua atau wali meski dalam kondisi yang amat kurang, dan yang masih dipaksa untuk menolong orang tua mereka ikut membantu mencari nafkah.
Seperti yang diungkapkan Rm. Mangun dalam buku Sekolah Merdeka (edisi revisi), kondisi pendidikan dasar di Indonesia sangat menyedihkan. Pada hakikatnya sudah terlalu lama kita tidak punya guru lagi dalam arti yang sejati. Tentulah perkecualian sedikit ada, akan tetapi mereka pun menderita karena mereka seolah-olah tidak “diperbolehkan” oleh sistem menjadi guru dan pendidik yang baik. Yang ada adalah lima kategori sosok berikut: penatar, instruktur, komandan, birokrat, dan pawang. Yang disebut murid atau siswa pun, apalagi anak, sebenarnya sudah terlalu lama tidak ada lagi.
Oleh karena itu, Yayasan DED ingin menyumbang kepada nusa dan bangsa, agar kini yang disebut guru tetapi nyatanya hanya penatar, instruktur, komandan, birokrat, atau pawang dikembalikan menjadi guru lagi dalam arti pendidik yang sejati. Dan, anak-anak yang sekarang praktis adalah kader-kader dalam ukuran kecil tadi kembali dihargai dan dihadapi sebagai anak yang sungguh anak dan murid. Inilah yang menjadi inti perjuangan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar.
Rm. Mangun meyakini bahwa kelas merupakan sanggar kreatif dan bukan ruang steril yang pasif. Di sekolah ini bukan rangking tinggi maupun ijazah yang dikejar, melainkan justru kesetiakawanan sosial. Tidak ada murid yang bodoh dalam kredo Rm. Mangun dan sekolah yang ia selenggarakan.
Tidak hanya berfokus pada guru dan anak didik, Rm. Mangun secara intensif berdialog dengan orang tua-wali murid. Hal itu dilakukan guna memperoleh masukan dan persoalan apa saja yang dialami anak-anak didiknya dalam keluarga. Tampaknya, ia sangat menyadari bahwa sekolah mula-mula ialah keluarga.
Sekalipun SD Mangunan kini tidak lagi didominasi oleh anak-anak miskin, para pegiat pendidikan di sana terus mengembangkan konsepsi pendidikan kritis sang pendiri Dinamika Edukasi Dasar (DED), pengelola SD Eksperimen Mangunan, berusaha setia menghayati “pohon pendidikan” yang digagas Rm. Mangun.

Pelajaran Sejarah dan Geografi berada pada akar guna membentuk orientasi diri dan identitas. Sains, Matematika, dan Bahasa menempati posisi batang. Secara khusus, Rm. Mangun membagi tahapan proses belajar mengajar yang menyesuaikan jenjang prasekolah dan pendidikan dasar dalam mata pelajaran bahasa.
Berbagai kesenian sebagai ungkapan jiwa berikut citra manusia menempati ranting dan dedaunan. Pohon pendidikan ini disinari rembulan budi etis Pancasila dan surya religiusitas.
Lima mata pelajaran khas SD Mangunan tetap dipertahankan. Pertama, “Komunikasi Iman” yang bukan seperti pelajaran agama kebanyakan. Kedua, “Membaca Buku Bagus”. Ketiga, “Membaca Meja”, berisi pelbagai informasi menyerupai majalah dinding yang kini dilaksanakan satu semester sekali.
Keempat, melalui “Musik Pendidikan”, anak didik diajak menyadari bahwa dirinya sendiri ialah sumber dan pencipta musik. Anak didik mula-mula diarahkan untuk menghasilkan suara yang harmonis lengkap dengan ekspresi seperti bertepuk tangan, bersiul, maupun kreativitas lainnya. Melalui musik, anak didik diajak mengenali dirinya sendiri hingga ia mantap bermusik.
Kelima, “Kotak Pertanyaan” merangsang anak menulis pertanyaan dan memasukkannya dalam sebuah kotak. Anak yang pandai bukanlah anak yang pintar menjawab tetapi yang pintar bertanya, demikian kepercayaan Romo Mangun. Anak didik dilatih merumuskan pertanyaan sebagai tanda ia berpikir. Jangankan pada tingkat SD, pada tingkat perguruan tinggi sekalipun setelah dosen selesai membahas dan forum diberi kesempatan bertanya, belum tentu mahasiswa berani bertanya secara langsung atau berebut tanya pada kesempatan awal.
Rm. Mangun tidak menafikan bahwa hal yang terkait pengetahuan, informasi, persekolahan, hingga penyelenggaraan pendidikan merupakan perihal besar yang tak lepas dari percaturan politik. Pengajaran dan pendidikan haruslah tetap mengabdi kepada anak-anak.
Sejak 1994, Rm. Y.B. Mangunwijaya mendapat izin dari Yayasan Kanisius dan restu dari Mendikbud, Prof. Dr. Wardiman Djajadiningrat untuk mengujicobakan gagasan tersebut dengan menggunakan Sekolah Dasar Kanisius (SDK) Mangunan, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Rm. Y.B. Mangunwijaya mendampingi para guru dan terlibat dalam mengajar di SDK Mangunan. SDK Mangunan kemudian dikenal sebagai SD Eksperimental Mangunan.

Pada 1995, atau 4 tahun sebelum Rm. Mangun wafat, Dewan Pengurus Yayasan DED dalam hal ini adalah Rm. Mangun bersama Dra. Yetti Nuryawati mengambil langkah strategis dengan membentuk kepengurusan yayasan yang terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara, serta Bidang Bengkel Laboratorium dan Urusan Properti.
Pada 2002, pengelolaan Yayasan DED diserahkan kepada Keuskupan Agung Semarang. Maka, sejak tahun tersebut, SDKE Mangunan kembali menerima murid baru (setelah beberapa saat tidak menerima murid karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan) dan proses pembelajaran berlangsung secara normal kembali.
Sepeninggal Rm. Mangun, pimpinan yayasan silih berganti mulai dari Rm. Yohanes Puja Sumarto, Pr, Rm. Pius Riana Prabdi, Pr, dan Rm. C.B. Mulyatno, Pr, dengan Direktur mulai dari Rm. Yohanes Sari Jatmika, Pr, Rm. Gregorius Kriswanto, Pr, kemudian Rm. Basilius Edy Wiyanto, Pr dan Rm. Bernardus Singgih Guritno, Pr.
Banyak peristiwa penting yang terjadi pada periode ini, di antaranya pemindahan lokasi SD dari Kampung Mangunan ke Tanah Kas Desa Kalitirto, pendirian TK Eksperimental Mangunan, dan juga pendirian SMP Eksperimental Mangunan. Yayasan DED juga mengakuisisi dua SD dan satu SMP sehingga sekarang total ada enam unit yang dikelola. Keenam unit tersebut adalah TK Eksperimental Mangunan, SD Eksperimental Mangunan, SD Eksperimental Mangunan Gowongan, SD Eksperimental Mangunan Kerten, SMP Eksperimental Mangunan, dan SMP Kebangsaan Bharata, Jumapolo.
Saat ini Ketua Yayasan DED dijabat Rm. Vincensius Bondan Prima Kumbara, Pr dengan Direktur Yayasan DED dijabat Rm. Albertus Hesta Hana Wijayanto, Pr
Tanggal 4 Agustus 2026 ini, Yayasan DED sudah berusia 37 tahun. Untuk sebuah lembaga yang bergelut di bidang pendidikan dan kepedulian kepada kemanusiaan, tentu sudah banyak hal yang dilakukan.
Selama waktu itu sudah banyak yang dilakukan untuk mewujudkan cita-cita dan harapan dari Rm. Mangun terkait dengan kepedulian kepada mereka yang miskin dan tersingkir, serta tidak memiliki akses untuk menjangkau fasilitas pendidikan dan sosial yang disediakan, baik oleh pemerintah maupun swasta. Meski demikian, tentu belum semuanya dapat dicapai. Bahkan, masih cukup jauh dengan apa yang dicita-citakan Rm. Mangun.
Apa pun itu, perjuangan belum selesai. Tantangan yang dihadapi juga tidak mudah. Namun, semangat dari para penerus perjuangan Rm. Mangun di Yayasan DED sejak Rm. Mangun berpulang sampai saat ini harus dilanjutkan. Meski tantangannya tidak ringan, Rm. Mangun bukan pribadi yang suka pada kemapanan. Justru prinsip untuk terus bereksplorasi dan berpikir dan bertindak “nggiwar” selalu diberikan kesempatan untuk berkembang.
Apa yang diwariskan oleh Rm. Mangun bukan hanya sekadar perlu dirawat, tetapi harus terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang dihadapi, utamanya dengan perkembangan teknologi yang seolah tidak terbendung dan dihentikan.
Selamat ulang tahun yang ke-37, Yayasan DED.
Augustinus Windu Aji








