Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan berbagai metode pembelajaran modern, pendidikan tidak lagi cukup hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Bagi SMA Kolese De Britto Yogyakarta, pengalaman nyata menjadi bagian penting dalam proses pembentukan manusia seutuhnya.
Keyakinan itulah yang diwujudkan melalui keberadaan Laboratorium Alam dan Rumah Studi, sebuah ruang belajar terpadu yang menghadirkan alam sebagai guru, refleksi sebagai jalan bertumbuh, dan pengalaman sebagai sumber pembelajaran.
Terletak di kawasan Pambregan, Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di lereng selatan Gunung Merapi, Laboratorium Alam dan Rumah Studi berdiri di atas lahan seluas 3,3 hektare yang dikelilingi panorama alam yang asri dan udara pegunungan yang sejuk.
Suasana tenang tersebut menjadi lingkungan yang ideal bagi siapa pun untuk belajar, berdialog, berefleksi, sekaligus membangun kebersamaan.
Menurut Rektor Yayasan De Britto, Rm. Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ, pembangunan Laboratorium Alam dan Rumah Studi merupakan wujud nyata komitmen Yayasan De Britto dalam menghadirkan pendidikan yang utuh dan relevan dengan tantangan zaman.
Ia menegaskan bahwa proses pendidikan yang berkualitas tidak hanya membutuhkan ruang kelas yang memadai, tetapi juga ruang-ruang pengalaman yang memungkinkan peserta didik bertumbuh secara intelektual, emosional, sosial, ekologis, dan spiritual.
“Laboratorium Alam dan Rumah Studi kami hadirkan sebagai tempat belajar yang menghubungkan manusia dengan alam, sesama, dan Tuhan,” tutur Rm. Pitoyo.
Di tempat ini para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar mengenali dirinya, membangun kepedulian, mengembangkan kepemimpinan, serta menghayati nilai-nilai hidup yang akan menjadi bekal ketika mereka terjun ke tengah masyarakat.
“Karena itu, pengembangan kawasan ini akan terus dilakukan agar semakin mampu menjadi ruang pendidikan, refleksi, dan pemberdayaan, tidak hanya bagi warga SMA Kolese De Britto, tetapi juga bagi sekolah, komunitas, dan masyarakat luas yang ingin bertumbuh bersama,” sambung Rm. Pitoyo.
Sementara itu, Kepala SMA Kolese De Britto, R. Arifin Nugroho, menyampaikan, “Sarana yang dibangun selalu didedikasikan untuk siswa, yaitu lab alam dan rumah studi ini contohnya.”

Di lahan yang luas itu ada dua bagian, yaitu lahan di bagian depan dan belakang. Di bagian depan ada sawah, kebun, peternakan, lapangan outbound; ini merupakan sumber pengalaman belajar yang lengkap.
Anak-anak akan punya cara pandang kompleks lewat ilmu pengetahuan yang terintegrasi. Mereka akan berpikir utuh, tidak mendikotomikan ilmu pengetahuan atau memandang fenomena dari satu sisi kacamata kuda saja.
Di bagian yang lebih ke dalam, menjauh dari gerbang utama, masuk ke situasi yang lebih hening. Banyak ruang tersedia untuk memaknai, merefleksikan, dan berkontemplasi terhadap pengalaman yang diperoleh di lokasi bagian depan.
“Inilah pendidikan yang selalu mengusahakan membentuk para siswa menjadi pribadi yang utuh, optimal, dan seimbang,” ungkap Arifin.
Lebih dari sekadar lokasi kegiatan luar kelas, kawasan ini dirancang sebagai pusat pembelajaran yang memadukan pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, kepemimpinan, spiritualitas, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam semangat pendidikan Jesuit.
Di tempat inilah peserta didik diajak mengalami langsung proses belajar yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga mengolah hati dan membentuk kepribadian.
Berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik secara rutin dilaksanakan di Laboratorium Alam dan Rumah Studi. Mulai dari pembelajaran berbasis proyek (project based learning), penelitian lapangan, praktik observasi, pelatihan kepemimpinan, dinamika kelompok, rekoleksi, retret, hingga berbagai kegiatan pengembangan karakter.
Melalui pengalaman langsung di alam terbuka, siswa belajar berpikir kritis, bekerja sama, beradaptasi dengan lingkungan, sekaligus menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama serta alam ciptaan.
Bagi SMA Kolese De Britto, alam bukan hanya objek pembelajaran, melainkan ruang perjumpaan yang menghadirkan pengalaman hidup. Setiap aktivitas selalu diakhiri dengan refleksi agar pengalaman yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi kebijaksanaan yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Pendekatan ini merupakan implementasi nyata dari Paradigma Pedagogi Ignatian (PPI) yang melihat secara utuh terkait konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi sebagai satu kesatuan dalam pendidikan.
Dengan demikian, pembelajaran tidak semata mengejar capaian akademik, tetapi juga mengembangkan dimensi intelektual, emosional, sosial, moral, dan spiritual peserta didik.

Keberadaan Laboratorium Alam dan Rumah Studi juga menjadi salah satu sarana penting dalam mewujudkan profil lulusan khas SMA Kolese De Britto, yakni 1L + 5C.
Para siswa didampingi menjadi Learning atau pembelajar sepanjang hayat yang dipersiapkan menjadi Leader dengan Competence dalam bidang akademik, Conscience atau hati nurani yang benar, Compassion atau kepedulian terhadap sesama, Commitment dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan, serta Consistency dalam menyelaraskan pikiran, perkataan, dan tindakan.
Selain memiliki nilai pendidikan yang kuat, Laboratorium Alam dan Rumah Studi juga terus dikembangkan sebagai kawasan pembelajaran terpadu yang nyaman dan representatif.
Di dalam kompleks tersedia aula terbuka yang menyatu dengan alam, ruang pertemuan tertutup untuk kegiatan diskusi maupun pelatihan, camping ground yang mendukung aktivitas luar ruang, jogging track sepanjang hampir satu kilometer yang mengelilingi kawasan, serta ada kolam pemancingan.
Kawasan ini juga diperkaya dengan kebun buah yang menjadi media pembelajaran sekaligus pelestarian lingkungan. Berbagai tanaman seperti durian, mangga, avokad, jambu kristal, jambu air, sawo bludru, hingga kedondong tumbuh di area tersebut.
Bahkan, saat ini tengah dipersiapkan sebuah kebun anggur varietas luar negeri sebagai bagian dari pengembangan edukasi pertanian modern dan konservasi lingkungan.
Tidak berhenti di situ, SMA Kolese De Britto juga sedang membangun sebuah kafe edukatif di dalam kawasan Rumah Studi. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi ruang yang nyaman bagi para pengunjung, peserta pelatihan, maupun tamu yang menginap untuk berdiskusi, mengerjakan tugas, membaca buku, atau sekadar menikmati secangkir kopi di tengah suasana alam yang tenang. Konsep ini memperkuat Rumah Studi sebagai ruang belajar yang hidup, hangat, dan mendorong lahirnya berbagai gagasan kreatif.
Komitmen SMA Kolese De Britto untuk menghadirkan pendidikan yang berdampak juga tercermin dari keterbukaan fasilitas ini bagi masyarakat luas. Laboratorium Alam dan Rumah Studi dapat dimanfaatkan oleh sekolah, perguruan tinggi, komunitas, organisasi, lembaga, instansi pemerintah, maupun perusahaan untuk menyelenggarakan pelatihan, rekoleksi, retret, rapat kerja, pengembangan organisasi, penelitian, hingga berbagai kegiatan pendidikan dan luar ruang lainnya.
Dengan lingkungan yang mendukung, fasilitas yang terus berkembang, serta semangat pendidikan yang berakar pada nilai-nilai Ignatian, Laboratorium Alam dan Rumah Studi menjadi lebih dari sekadar tempat belajar.
Ia merupakan ruang bertumbuh, tempat manusia belajar mengenali dirinya, membangun relasi dengan sesama, merawat alam sebagai rumah bersama, dan menemukan kehadiran Tuhan dalam setiap pengalaman hidup.

Kawasan seluas 3,3 hektare di lereng Merapi inilah SMA Kolese De Britto terus menegaskan bahwa pendidikan terbaik lahir ketika ilmu pengetahuan berpadu dengan pengalaman, refleksi melahirkan kebijaksanaan, dan karakter ditempa melalui perjumpaan nyata.
Sebab, bagi De Britto, masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas, tetapi juga pemimpin-pemimpin pengabdi yang mampu menggunakan pengetahuan, hati nurani, dan belas kasih untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat dan dunia.
Chr. Danang Wahyu Prasetio Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta














