Pada 31 Juli 2024, seorang remaja berinisial HOK (19) menjadi tersangka dalam aksi teror di salah sebuah rumah ibadat di Malang, Jawa Timur. Usaha bom bunuh diri tersebut berhasil digagalkan setelah dia terciduk tengah membuang bahan peledakyang memiliki daya 70% Trinitrotoluena (TNT)oleh warga setempat.
Setelah ditelusuri lebih dalam, HOK terpengaruh pedagogi radikal dari lingkup media sosial yang aktif dalam persuasi akan propaganda keagamaan garis keras. Aksinya diduga memiliki motif menyerukan peperangan pada pemerintah karena tidak menetapkan kedaulatan agama tertentu menjadi dasar negara.
Setelah memahami literatur redaksi seperti di atas atau redaksi lain dengan suasana yang sama, kita akan berpikir bahwa inilah Indonesia. Bukan peristiwa yang jarang muncul di wajah berita, dan merupakan sebuah realitas bahwa di tengah pluralitas bangsa terdapat oknum-oknum dengan idealisme garis keras yang menyuarakan ketidaksetujuan.
Harga besar, harga nyawa dikorbankan. Tentu pelancangan ini dilakukan dengan dasar keyakinan tinggi atas suatu kebenaran. Namun, kini kita mesti merangkum sebuah pertanyaan bahwa benarkah kebenaran tersebut didukung penuh dengan adanya usaha terorisme? Benarkah Tuhan ada dalam Trinitrotoluena?
Hakikat agama dan iman
Hakikatnya keberadaan Tuhan terletak sebagai yang utama dalam diri manusia. Pengutamaan tersebut sampai pada kecenderungan ketika manusia selalu tertuju kepada Tuhan. Misalnya dengan menyadari Tuhan yang hampir ada dalam setiap aspek kehidupan manusia sehingga memiliki pengaruh yang besar dalam dinamika kehidupan.
Meski demikian, pada kenyataannya manusia begitu terbatas untuk memahami Tuhan. Tuhan jadi begitu jauh dalam perspektif manusia. Satu-satunya alasan manusia masih mampu bertahan dalam kemisteriusan Tuhan adalah keyakinan, harapan, dan sumber kebahagiaan. Pada akhirnya, manusia merasa membutuhkan dan merindukan Tuhan di dalam kehidupannya.
Manusia merindukan kehadiran Tuhan, tetapi manusia juga menyadari keterbatasannya untuk memahami Tuhan. Maka, agama hadir sebagai pedoman keyakinan bagaimana relasi manusia dengan Tuhan dapat terjalin. Konsep utamanya ialah manusia-agama-Tuhan. Dengan demikian, kita dapat merangkum bagaimana konsep iman kita secara umum sebagai umat beragama.
Manusia yakin dengan agama untuk tertuju pada Tuhan. Dengan agama, Tuhan mengutama dan tampak lebih terkonsep (meski tak sepenuhnya persis) dalam perspektif manusia yang terbatas.

Hilangnya ke-Tuhan-an dalam iman
Tuhan begitu mustahil untuk dijangkau dan manusia terbatas. Semestinya Tuhan dijadikan tujuan, tetapi keterbatasan manusia sering kali membuatnya melenceng. Maka, sering kali penglihatan manusia dan bagaimana cara manusia beriman hanya sampai pada poin agama.
Bukannya lekat dengan Tuhan, justru lekat pada agamanya. Lekat dengan budaya, tradisi, bahasa, dan unsur lainnya. Menghasilkan kecenderungan karakter yang mekanis sehingga menciptakan pola pikir yang kaku bahkan tertutup dalam kondisi tertentu. Ditambah lagi ketertutupan tersebut membutakan perspektif terhadap realitas yang ada sehingga juga menciptakan cara pikir yang dangkal.
Agama yang seringkali disangkut-pautkan dengan identitas sosial sering kali juga diikuti dengan kepentingan pihak. Dicampurbaurkan dengan ego pribadi sehingga agama bukan lagi soal Tuhan, tetapi kepentingan ego. Oleh karena itu, pola pikir demikian tidak akan siap menghadapi kenyataan pluralitas yang ada. Tindakan-tindakan didasari dengan keyakinan kepentingan atas agama.
Apa yang diutamakan bukan lagi Tuhan, melainkan agama. Tuhan yang semestinya jadi tujuan dalam beragama, Tuhan yang seharusnya menginti dalam hidup manusia, justru lesap di dalam iman-iman yang melenceng dan dangkal. Lantas, apakah fenomena Trinitrotoluena secara tulus sebagai bentuk iman kepada Tuhan yang Maha Esa?
Menemukan ke-Tuhan-an dalam kemoderatan
Seringkali kita mengetahui bahwa realitas menunjukkan perbedaan yang benar-benar ada dalam masyarakat negara Indonesia. Mudah untuk disadari bahwa bangsa ini penuh dengan pluralitas, tetapi akhirnya tidak berhenti di sini.
Mesti dipertanyakan, apakah kita menerima realitas bangsa ini sebagaimana adanya? Apakah kita sudah menerima pluralitas sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat? Inilah jalan kemoderatan. Potitioning diri masuk ke dalam cara pikir kemoderatan sebagai segenap bentuk kepekaan, kesadaran, dan penerimaan akan realitas yang senyata-nyatanya.
Moderat dalam beragama merujuk pada pendekatan yang seimbang dan terbuka terhadap perbedaan dalam keyakinan dan praktik agama. Hal ini juga dapat berarti bahwa pendekatan tersebut dilakukan tetap dalam prinsip, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan secara umum. Merujuk pada keadilan yang lebih fleksibel.
Moderat berarti tidak condong dalam satu prinsip. Namun, apakah hal ini juga berarti bahwa kita setengah-setengah dalam menunjukkan iman kita? Tidakkah kita justru berada dalam kelabilan?
Prinsip moderat mengedepankan keseimbangan, bukan ketidakpastian. Ini mencerminkan sikap yang berpikiran luas dan keinginan untuk membangun jembatan, bukan memecah belah. Dengan demikian, moderasi bisa menjadi landasan yang kuat untuk hidup beragama yang harmonis dan damai. Termasuk menemukan Tuhan dalam kemoderatan.
Bonifasius Merkel (Siswa Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan)













