Homo Digitalis, Tantangan Pelayanan Pastoral

Jendela957 Views

Dunia digital bergerak dengan sangat cepat dan sangat luas memasuki seluruh alur kehidupan manusia. Kelompok yang paling banyak merasakan pengaruh dari arus digital ini ialah kaum muda.

Kaum muda yang menggunakan media sosial makin hari makin meningkat. Hal ini menjadi suatu keprihatinaan bagi generasi bangsa kita ke depan, jika tidak bisa menggunakan media sosial secara positif dan efektif.

Manusia remaja ini bisa kita sebut sebagai “Homo Digitalis” atau makhluk digital. Kaum muda zaman sekarang lebuh suka dan cenderung untuk hidup dengan pribadi masing-masing, bahkan realitas yang terjadi membuat sebuah fenomena sosial ketika para remaja asyik dengan dirinya sendiri sehingga menjadi pribadi yang kurang mendalam dan kurang dalam berkomunikasi.

Bisa dilihat yang terjadi adalah hubungan yang dibangun bukan melalui interaksi langsung antara subjek dan objek, melainkan melalui platform digital atau internet. Kita mengaitkan dengan iman pada remaja Katolik zaman sekarang.

Iman muda Katolik zaman sekarang janganlah puas dengan dunia internet. Faktornya bisa menjadi kurangnya pemahaman iman di kalangan muda, dengan kata lain bisa menjadi krisis iman. Maka, mereka menjadi mudah berpaling bila ada suatu serangan yang datang ke arah iman mereka karena mereka tidak siap jika menghadapi hal seperti itu.

Di sinilah pentingnya kedalaman bagi para muda, kedalaman untuk melahirkan dan menumbuhkan pendirian yang kuat. Dengan pendirian yang kuat kita bisa melahirkan sikap yang konsisten.

Media sosial pun turut berperan dalam penyebaran ajaran yang menyerang iman, tetapi bukan berarti media sosial adalah akar masalah dari krisis iman pada remaja Katolik. Namun, kitalah yang kurang memanfaatkan media sosial untuk memperdalam iman kita.

Hendaknya teknologi yang menjadi penyebaran ajaran iman dan juga digunakan untuk pengarahan jati diri kepada Tuhan oleh para anak muda. Maka dari itu, anak muda sekarang harus bisa menjadi orang yang beriman dan itu membutuhkan proses untuk dapat menumbuhkan imannya kembali.

Perlu adanya latihan, arahan, dorongan, dan lain sebagainya dalam menumbuhkan iman tersebut dan yang paling penting iman itu membutuhkan perbuatan atau aksi, bukan hanya sebatas menghafal doa-doa, berdoa litani syukur, atau mendaraskan mazmur tiap harinya.

Seperti pesan Paus Fransiskus saat homili di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), umat Katolik diajak untuk mendengarkan sabda dan menghidupi sabda. Begitu pula iman kita, kita sudah mendengarkan dan mengetahui iman kita tetapi kita juga harus perlu menghidupi iman tersebut.

Pandangan inilah yang harus ada dalam diri kaum remaja saat ini. Kaum remaja perlu diarahkan, dituntun, dan dikembangkan iman mereka. Upaya yang mereka dapat wujudkan seperti membangun relasi yang baik, menciptakan suasana yang kondusif, dan terbukanya diri akan perubahan yang terjadi.

Orang Muda Katolik menjadi “kunci”

Orang Muda Katolik (OMK) adalah generasi penerus Gereja. OMK adalah titik kuat bagi perkembangan Gereja ke depannya. Hal yang terjadi pada zaman sekarang, internet sudah menjadi media utama untuk tempat terjalinnya sebuah komunikasi sosial dengan cara yang berbeda.

Realitas yang terjadi adalah komunikasi tidak lagi terjadi hanya ketika orang berjumpa atau berhadapan muka secara langsung, melainkan bisa dilakukan secara virtual meskipun tidak hadir secara fisik atau face to face.

Dengan layanan internet yang sekarang lebih cepat dan luas, platform media komunikasi yang menawarkan fitur-fitur canggih untuk membuka ruang komunikasi publik pun makin banyak. Ini menjadi tantangan untuk para remaja Katolik, terutama dalam pelayanan pastoral.

Dengan adanya perubahan zaman yang berubah begitu pesat, para remaja zaman sekarang sanggup duduk berjam-jam untuk chatting daripada datang ke gereja untuk mengikuti Ekaristi atau sekadar beberapa menit berlutut dan berdoa.

OMK harus bisa berpikir secara luas dalam pelayanan pastoral, karena merekalah kunci untuk mengembangkan Gereja, merekalah generasi penerus Gereja. Maka dari itu, OMK harus bisa menemukan peluang pastoral yang baik pada era yang serbadigital.

Kemajuan media komunikasi pada era digital kerap dimanfaatkan oleh kelompok tertentu seperti untuk memberikan katekese online. Gereja dapat memanfaatkan teknologi digital juga, tujuannya untuk menjangkau kaum muda dengan cara yang lebih kreatif dan interaktif, seperti melalui media sosial, aplikasi mobile, dan platform.

Gereja perlu membuka dialog dengan kaum muda untuk memahami kebutuhan dan aspirasi mereka. Dengan adanya kolaborasi dengan kaum muda dalam berbagai kegiatan pastoral, ini dapat membantu mereka merasa dihargai dan terlibat dalam pelayanan.

Pemberdayaan kaum muda Gereja perlu memberdayakan kaum muda dengan cara memberikan mereka pelatihan dan pendampingan, seperti salah satu dari mereka dipilih untuk menjadi ketua atau pemimpin dalam sebuah event atau dalam pendampingan iman anak dan lain sebagainya.

Pastoral pun harus mengerti hal yang berbau teknologi dan harus mengerti bagaimana menggunakannya untuk memberikan layanan yang efektif. Membuat konten yang menarik menjadi salah satu contoh dalam pelayanan pastoral yang sekarang mulai perlahan diterapkan di setiap paroki dengan menggunakan media sosial dan platform yang populer di kalangan anak muda seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.

Peran pastoral untuk hal seperti ini sangat baik dengan membagikan konten yang menarik dan relevan seperti renungan dari pastor paroki, doa-doa, kutipan inspiratif yang membawa pengaruh baik bagi umatnya, dan video yang membahas isu-isu yang dihadapi kaum muda zaman sekarang.

Kaum muda seharusnya bisa mengajak pastor parokinya dalam pelayanan pastoral yang lebih maju dengan mengikuti era digital zaman sekarang. Melibatkan kaum muda dalam kegiatan pastoral bisa menjadi tempat bagi kaum muda untuk saling terhubung dan berdiskusi tentang iman mereka.

Strategi pastoral berbasis digital juga menjadi kunci dalam menjangkau dan membimbing kaum muda, terutama untuk OMK, secara efektif. Era digital bukan berarti akar masalah dalam pelayanan pastoral dan turunnya pendalaman iman (krisis iman), tetapi bagaimana kita memanfaatkan era digital ini dengan menghadirkan banyak peluang dan tantangan bagi pastoral kaum muda.

Gereja perlu memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau kaum muda dengan cara yang lebih kreatif dan interaktif.

Bernardin Mario Sandya Putra (Siswa Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *