Perjalanan panjang serta perjuangan kami sebagai kelompok terpinggirkan bermula dari balik gerbong-gerbong kereta api yang usang (rusak) di belakang Stasiun Kereta Api Lempuangan Kota Yogyakarta.
Di balik gerbong-gerbong kereta yang datang dari berbagai kota, baik Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, maupun Banyuwangi seakan membuat kami nyaman untuk mencari makan dan minum. Bahkan, setiap pagi dan sore kami mandi di balik kereta api yang sedang parkir.
Tidak terasa, hari berganti hari, kami sebagai kelompok marginal yang menekuni pekerjaan sebagai pengamen, pemulung, dan tukang becak, yang datang dari berbagai pelosok tanah air, sungguh bersyukur karena masyarakat sekitar tidak pernah mengusik keberadaan kami.
Tebersit dalam hati kami, andai suatu saat nanti kami bisa memiliki rumah agar dapat beristirahat pada waktu malam, siang, dan kala sakit.
Kami, Komunitas Eben Ezer, adalah kaum marginal yang selalu mendapat stigma negatif, diskriminasi, serta ketidakadilan saat kami berjuang untuk mendapat legalitas sebagai komunitas yang berbadan hukum.
Hal inilah yang membuat kami bersemangat untuk mengejar semua impian dan angan-angan sepanjang siang dan malam. Sebab, kami selalu berpindah-pindah tempat sekretariat Komunitas Eben Ezer.
Ada perasaan gundah dan putus asa saat kami tidak memiliki uang dan donatur dalam mendukung kegiatan kami di komunitas. Bahkan saya, Pieters Alexander sebagai koordinator komunitas, mulai berfikir untuk menyerah.

Namun, semua rekan mulai resah dan gelisah, apalagi mendengar kalau kami selaku pengurus akan membubarkan Komunitas Eben Ezer karena kesulitan keuangan dan lain sebagainya.
Tahun 2006, sekretariat beralamat di Desa Sagan, Caturtunggal, Depok, Sleman, D.I. Yogyakarta (DIY). Tahun 2009, sekretariat pindah lagi ke Dusun Kalongan, Rejowinangun, Maguwoharjo, Depok, Sleman. Berselang satu tahun kemudian, sekretariat dipindahkan lagi ke Samirono, Gang Pakel No. 199 Caturtunggal, Depok, Sleman.
Pengorganisasian Komunitas Eben Ezer tetap berjalan baik di bidang pendampingan anak/orang telantar. Begitu pula program HIV-AIDS dan Napza. Kami bermitra dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) DIY, KPAI Sleman, Dinas Sosial DIY, Puskesmas baik di Kota Yogyakarta maupun di Kabupaten Sleman, bahkan bermitra dengan RSUD Murangan Kabupaten Sleman dalam program HIV-AIDS. Komunitas Eben Ezer pada waktu itu sangat memperhatikan advokasi HAM, kesehatan, serta pendidikan. Kami bermitra dengan Dinsos Sleman untuk isu-isu kesehatan.
Ketika kami mengalami krisis keuangan, hal ini tidak membuat semangat kami pudar. Kami tetap melakukan kegiatan-kegiatan sosial dan pendampingan jika ada rekan yang sakit ataupun meninggal dunia.

Saya sebagai koordinator selalu berpikir agar bisa mendapat tempat yang layak untuk dijadikan pusat pendistribusian informasi serta pelatihan-pelatihan ketrampilan dan lain sebagainya.
Akhir tahun 2013, kegiatan komunitas berpindah lagi ke Dusun Sambilegi, Kelurahan Maguwoharjo, Depok, Sleman. Selama di wilayah kelurahan Maguwoharjo, pihak pemangku wilayah setempat, baik Kepala Desa/Lurah beserta perangkatnya begitu juga masyarakat setempat menerima keberadaan kami. Bahkan, pihak desa mengizinkan pemakaian pendapa desa dan aula untuk berkegiatan, bahkan desa menyediakan fasilitas baik sarana dan prasarana.
Awal tahun 2014, kami melakukan koordinasi dengan pihak Kepala Desa, Panewu (Camat), Dukcapil Sleman, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sleman agar kami bisa diberikan kemudahan dalam mengurus dokumen kependudukan. Hal ini sangat luar biasa, karena kami menjadi satu-satunya komunitas anak jalanan di Indonesia yang menjadi percontohan untuk memfasilitasi anggotanya agar memiliki dokumen kependudukan.
Kami sebagai pengurus dan aktivis hanya bekerja bermodalkan semangat yang tak pernah padam, walaupun banyak sekali rintangan yang datang silih berganti.
Pembaca UTUSAN.NET di mana pun berada, pada Juni 2023, di rumah tempat kami tinggal dan berkegiatan, terjadi konflik antarpemilik tanah dan bangunan. Akibatnya, pada 30 Juni 2023 pukul 16.30, kami dievakuasi oleh petugas BPBD Kabupaten Sleman bersama Rm. Tomo, Pr dan Dinas Sosial ke barak pengungsian di Cangkringan, Sleman.
Satu bulan kami merasakan dingin dan kesulitan di barak. Tanggal 28 Juli 2023, kami dipindahkan kembali ke Rusunawa MBR DIY Gemawang.
Senin, 26 Februari 2024 pukul 13.00, pihak Dinas Sosial mengunjungi kami di rusunawa dan menyampaikan bahwa pada 29 Februari 2024 rusunawa harus dikosongkan. Saat itu saya sedang mengalami sakit. Esoknya, kami sudah keluar dari rusunawa dan saat ini untuk sementara kami berada di Dusun Kalongan, Kelurahan Maguwoharjo, Depok, Sleman.
Perjalanan kami ke barak pengungsian berlangsung pada Jumat, 30 Juni 2023 pukul 16.30. Sabtu, 1 Juli 2023, pihak Pemkab Sleman mengadakan pertemuan maraton di Kantor Bupati Sleman. Kami datang didampingi Rm. Tomo, Pr.
Rabu, 5 Juli 2023, Pemkab Sleman kembali mengadakan pertemuan maraton di Kantor Bupati Sleman dan dihadiri semua pemangku kebijakan, termasuk Panewu Kalasan dan Lurah Tirtomartani. Kami masih didampingi Rm. Tomo, Pr. Pertemuan tersebut membahas rencana pembangunan shelter semipermanen di Dusun Jarakan, Kelurahan Tirtomartani.
Sabtu, 8 Juli 2023 pukul 20.00, kami menghadiri pertemuan sosialisasi dengan warga di wilayah Dusun Jarakan. Kami tetap bersama Rm. Tomo, Pr. Namun, hasil dari pertemuan tersebut ialah penolakan pembangunan shelter.

Sampai saat ini kami masih bermimpi untuk memiliki rumah, tetapi mimpi itu hilang semua akibat diskriminasi.
Kami sangat berharap Pembaca UTUSAN.NET berkenan membantu kami yang sangat ingin memiliki rumah yang layak sehingga dapat mengurangi beban kami. Kami juga sangat membutuhkan satu unit kendaraan agar bisa kami pergunakan dalam mendukung kegiatan kami sehari-hari di komunitas.
Semoga tulisan ini menggugah kepedulian hati para Pembaca UTUSAN.NET yang budiman agar dapat membantu kami, orang yang terpinggirkan, untuk memiliki rumah dan kendaraan. Terima kasih.
Pieter Alexander Yamlean (Koordinator Komunitas Eben Ezer – WhatsApp: 0896-1853-1566)








