Akal budi yang baik dalam diri pelajar berdampak pada belajar yang baik dan akan mencapai kesuksesan. Pastinya, orang tua, guru, maupun teman-temannya akan bangga atas nilai yang dicapai.
Namun, masih ada saja pelajar yang menyontek pada saat mengerjakan tugas maupun ujian sekolah. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, karena siswa tidak mau lagi belajar sungguh-sungguh dan hanya mengandalkan temannya.
Sebagai mahasiswa Teologi, kami mendapat kuliah Filsafat Pendidikan, salah satu materi yang menurut saya menarik adalah kejujuran siswa. Dalam buku filsafat pendidikan dijelaskan, kejujuran siswa merupakan keutamaan dalam diri setiap pelajar. Kejujuran bisa didapatkan dengan belajar sungguh-sungguh, bertanya kepada teman atau guru ketika belum memahami materi pelajaran, dan tidak menyontek teman saat mengerjakan tugas sekolah serta ujian.
“Jika kita jujur, kita akan berkata bahwa sesungguhnya kita tidak tahu apa-apa. Semua pengetahuan kita hanya merupakan perkiraan cerdas semata, tanpa ada unsur kepastian di dalamnya. Jika kita jujur dengan ini, maka kita bisa mulai belajar dan melihat dunia dengan keterbukaan pikiran. Dunia lalu menjadi tempat yang penuh dengan pertanyaan menarik untuk di jawab” (Dewantara, 2017:66).
Kejujuran siswa contohnya ketika kami mengerjakan UAS (Ujian Akhir Semester) dan tugas kuliah dengan mengerjakan secara jujur, tidak saling menyontek. Sikap jujur yang dimulai dari dalam diri setiap pelajar akan membawa dampak baik bagi teman-teman di sekitarnya untuk mau ikut mengerjakan UAS dan tugas kuliah secara jujur.
Dari pengalaman ini, saya menyadari betapa pentingnya sebuah kejujuran dalam diri seorang pelajar. Saya pun secara istimewa bersyukur. Melalui mata kuliah ini, saya belajar menjalankan sikap jujur sebagai pelajar, anggota Gereja katolik, sekaligus sebagai warga negara.
Sikap jujur dalam diri peserta didik sangat di perlukan agar ilmu yang didapat menjadi lebih berguna dan bermakna. Sebab, nilai yang didapat berasal dari peserta didik itu sendiri.
Kejujuran sangat perlu untuk ditanamkan dalam diri setiap pelajar, yang dapat dimulai dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat mencapai kesuksesan di kemudian hari. Perilaku menyontek seorang pelajar dapat dihilangkan dengan belajar sungguh-sungguh.
Pelajar yang menanamkan kejujuran dan semangat untuk rajin belajar akan mudah berkembang apabila pelajar juga mengikuti proses pembelajaran dengan percaya diri, tidak mudah putus asa, dan tidak merugikan teman karena telah menghilangkan perilaku menyontek. Kejujuran dalam mengerjakan PR dan ujian akan membawa pelajar pada masa depan yang lebih cemerlang.
Pelajar Indonesia yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa dan negara seharusnya mampu menanamkan kejujuran, terutama dalam menempuh pendidikan, dengan tidak menyontek ketika mengerjakan tugas sekolah dan ujian. Dengan demikian, pelajar Indonesia kemungkinan kecil atau bahkan tidak ada lagi memiliki benih-benih melakukan tindakan korupsi ketika mereka nanti sudah lulus dan bekerja.
Semoga para pelajar, dengan bimbingan guru dan orang tua, mampu menanamkan kejujuran dalam dirinya demi masa depan Indonesia yang lebih maju.








