Yogyakarta. Dalam rangka menyongsong Peringatan 100 Tahun Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) yang jatuh pada 26 Juni 2024, WKRI Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Magelang menyelenggarakan napak tilas pendiri WKRI Maria Soelastri.
Kegiatan pada Selasa, 2 April 2024 yang diikuti 35 perwakilan dari 12 ranting WKRI se-Kabupaten Magelang ini diawali dengan ziarah ke Makam Kerkhof Muntilan, dilanjutkan ke Makam Celeban Yogyakarta, dan mengunjungi pabrik rokok cerutu PT. Tarumartani, tempat Maria Soelastri memperjuangkan upah buruh perempuan.

Kerkhof Muntilan adalah lokasi dimakamkannya ibunda Maria Soelastri beserta anggota keluarga lainnya. Sementara itu, makam Maria Soelastri terletak di kompleks peziarahan Gua Maria Kerep Ambarawa, Jawa Tengah.
Sementara itu, Makam Celeban Yogyakarta merupakan tempat dimakamkannya Rm. Fransiskus Strater, SJ (penasihat WKRI pertama) dan Rm. Hardjosoewanda, SJ yang mengalami berkembangnya sistem pembagian umat beriman dalam komunitas kecil yang disebut “kring”.

Emilia Ratri, Ketua Panitia Kegiatan, menyatakan kegiatan bertema “Lahir Kembali Semakin Berarti” ini bertujuan untuk memahami sejarah dan latar belakang WKRI.
“Napak tilas ini juga diharapkan dapat menginspirasi anggota WKRI bahwa mewujudkan iman memerlukan perjuangan, serta meningkatkan peran organisasi perempuan Katolik dalam masyarakat,” imbuh Ratri yang didampingi Agatha Sri Sumarti, Ketua Cabang WKRI Kab. Magelang.
Sri Sumarti pun mengatakan Dewan Pengurus Pusat (DPP) WKRI juga akan mengadakan napak tilas dan puncaknya di Ambarawa, 26 Juli 2024. “Tapi dalam kongres juga disepakati rangkaian acara puncak berlangsung sampai Desember 2024,” jelasnya sembari menyebut tema 100 tahun WKRI secara nasional adalah “Geraknya Budi Membangun Pribadi, Mewujudkan Peradaban Kasih”.

Di PT. Tarumartani, para anggota WKRI diajak mengelilingi bangunan pabrik yang mayoritas buruhnya adalah perempuan. Di sanalah dulu Maria Soelastri memperjuangkan upah buruh perempuan, khususnya di pabrik rokok cerutu tersebut.
Ketua Bidang Organisasi, Alexandra Hersi Krisnawati, mengutarakan bahwa dulu Belanda memperlakukan kaum buruh perempuan secara tidak manusiawi. Saat WKRI masih bernama Poesara Wanita Katholiek, organisasi perempuan Katolik ini berhasil menaikkan derajat kesejahteraan upah kaum buruh perempuan, termasuk di NV Negresco yang sekarang dikenal sebagai Tarumartani ini.
“Kami melakukan napak tilas ini untuk mengetahui latar belakang WKRI seperti apa. Saat ini sudah 100 tahun, kalau kami tidak tahu sejarahnya, apa gunanya kami berorganiasi di WKRI? Ibu Soelastri dan teman-teman melakukan kegiatan pertama kali itu ya di sini,” terang Hersi.
Pendamping WKRI, Rm. Agustinus Sudarisman, Pr, berharap napak tilas ini setidaknya dapat mengantar para anggota WKRI agar punya bayangan bahwa mewujudkan iman itu tidak secara otomatis, tetapi juga penuh perjuangan.
“Sebagai penasihat rohani, saya punya visi supaya teman-teman WKRI belajar sejarah pendahulu. Ziarahnya sudah dimulai tahun lalu dengan bedah buku tentang WKRI dalam lima bab. Tahun ini diadakan ziarah ke tempat-tempat yang terkait dengan pendiri,” jelas Rm. Daris.
Pastor Paroki St. Maria Lourdes Sumber, Muntilan ini menyebut Maria Soelastri merasa dirinya sebagai seorang perempuan harus memperjuangkan teman-teman sesama perempuan pada masa itu yang dinomorduakan, salah satunya di Tarumartani.

“Beliau hasil didikan Sekolah Mendoet bersama dua saudarinya. Ibu pendiri WKRI ini punya dua adik, yang satu kelak menjadi suster OSF (pribumi) pertama dan yang terakhir menjadi ketua WKRI pertama. Jadi, pendiri WKRI tidak menjadi ketua, tapi justru adiknya,” kisah Rm. Daris.
Nama adik Maria Soelastri tersebut yakni Fransiska Soekeni Sasraningrat atau Sr. Clara OSF dan Soekirin yang menjadi Ketua WKRI pertama (1924 – 1933). Mereka merupakan putri dari Pangeran Sasraningrat (calon Paku Alam IV yang dibunuh secara terselubung) dan beristrikan R.A. Mutmainah (buyut Pangeran Diponegoro).
Salah satu kakak mereka, yakni Soetartinah, adalah istri Ki Hadjar Dewantara. “Mereka itu cucu Paku Alam III. Mereka adalah orang-orang yang punya peran besar, terutama dalam mengangkat derajat kaum perempuan. Istri Ki Hadjar Dewantara juga menjadi penggerak kaum perempuan, kalau tidak salah di Muhammadiyah,” ujar Rm. Daris.
Imam Praja Keuskupan Agung Semarang (KAS) ini juga berharap WKRI dalam satu abad usianya menjadikan organisasi perempuan Katolik ini kian berkiprah di tengah masyarakat.








