Jiwa Reflektif Generasi Serbainstan

Keranjang231 Views

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Refleksi adalah suatu gerakan atau pantulan di luar kesadaran sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar. Intinya, refleksi adalah cara kita untuk membangun kesadaran diri.

Saat ini kita tinggal dalam dunia yang serbainstan. Semua dapat kita akses melalui media online. Banyak aplikasi yang dapat membantu kehidupan kita. Apakah hal ini berbahaya bagi kita atau justru akan menguntungkan kita? Jawaban pertanyaan ini dapat kita peroleh dengan cara berefleksi.

Kita hidup di zaman yang segala sesuatunya berhubungan dengan teknologi. Seperti halnya ketika ingin makan, kita dapat memesannya melalui aplikasi. Ketika kita ingin mencari sebuah informasi, kita cenderung akan langsung membuka Google atau suatu website untuk mendapatkannya, padahal validasinya pun belum tentu terjamin.

Teknologi tentu membantu kita dalam menjalani kehidupan. Semua dapat kita peroleh dengan begitu mudah. Namun, di balik itu jika kita selalu bergantungan dengan teknologi, akan membahayakan diri kita sendiri.

Kemajuan teknologi membuat kita cenderung lebih mudah menyerah, karena kita tidak dapat menerima apa yang kita inginkan. Seiring berkembangnya zaman, kita akan menjadi objek atas teknologi. Padahal, sebenarnya kita adalah subjek atas teknologi tersebut.

Kita yang seharusnya mengendalikan teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan kita. Maka, diperlukan jiwa reflektif untuk mengatasi hal ini. Dengan memiliki jiwa reflektif, kita akan mampu menanggulangi peristiwa ini.

Bagaimana cara untuk berefleksi? Cara berefleksi sangatlah mudah, yakni dengan cara melihat pengalaman yang telah terjadi pada hari ini dan menuliskan ke dalam sebuah buku tentang peristiwa menarik yang terjadi pada hari ini. Saya akan menyajikan beberapa contoh refleksi saya pribadi.

Contoh pertama, pada hari ini saya merasa sangat sedih, karena saya tidak terpilih menjadi bagian dari pengurus OSIS di sekolah saya. Saya merasa diri saya menjadi pasif apatis di komunitas ini. Namun, ada hal yang perlu saya sadari, yakni pada tahun ketiga ini saya sedang mengerjakan karya tulis sebagai salah satu syarat kenaikan.

Saya melihat ada peluang positif dari hal ini. Tuhan mau supaya saya fokus untuk mengerjakkan karya tulis, karena Ia tahu bahwa saya bukan pribadi yang bisa memanajemen waktu dengan baik. Maka, Ia tidak mengizinkan saya untuk menjadi bagian dari pengurus OSIS, karena Ia mau saya fokus terhadap karya tulis.

Dari pengalaman ini kita mengerti bahwa tidak semua hal yang terlihat baik di mata kita, belum tentu terlihat baik di mata Tuhan. Dalam contoh kasus di atas, saya mengira bahwa dengan menjadi pengurus OSIS itu baik, tetapi Tuhan lebih mengerti bahwa saya sedang mengerjakan karya tulis sebagai salah satu syarat kenaikan.

Ia tahu bahwa saya bukan pribadi yang mampu mengatur waktu dengan baik. Maka, Ia tidak mengizinkan aku untuk menjadi pengurus OSIS agar saya fokus terhadap karya tulis. Dari kasus ini kita juga belajar bahwa di setiap hal yang tidak kita sukai atau tidak kita senangi akan tetap ada sisi positif yang dapat kita ambil.

Kekuatan kata-kata. Sebelum pertandingan selalu menyemangati diri sendiri. (Foto: Canva)

Contoh kedua, pada hari ini, tim basket sekolah saya akan mengadakan pertandingan persahabatan dengan sekolah “X”. Sekolah “X” ini sangat terkenal dengan fisik dan kekuatannya, dan jujur saja hal tersebut membuat saya merasa takut.

Beberapa jam sebelum pertandingan, saya merasa sangat khawatir dan gelisah. Saya takut jika nantinya saya akan menjadi beban dalam tim. Namun, sebelum pertandingan dimulai, saya selalu menyemangati diri saya sendiri. Saya mengatakan, “Kamu pasti bisa, kamu pasti bisa, kamu tidak akan menjadi beban tim. Percaya dengan kemampuanmu sendiri.”

Alhasil, tingkat kepercayaan diri saya meningkat drastis. Ketika dalam pertandingan, hampir setengah dari keseluruhan poin tim sekolah, saya yang mencetaknya. Dari hal ini saya belajar bahwa “kata-kata” memiliki kekuatan yang sangat besar bagi kehidupan kita. Kata-kata mampu mengubah mindset kita.

Dari pengalaman ini saya belajar bahwa kata-kata memiliki power yang sangat besar. Maka, niat saya ke depannya adalah menggunakan power dari kata-kata ini. Jika saya sedang tidak percaya diri, maka saya akan menggunakan kekuatan dari kata-kata itu untuk menyemangati diri saya sendiri.

Dalam kasus ini, refleksi mengajak kita untuk menjadi subjek atas teknologi walaupun teknologi akan terus berkembang. Dengan berefleksi, kita diajak untuk mengontrol diri kita. Jika kita tidak mampu mengontrol diri, kita tidak akan menjadi pribadi yang berkembang, kita hanya akan stuck di suatu titik, yang sebenarnya kita mampu melampaui titik tersebut.

Contohnya, saya tidak bisa memasak, maka saya akan memesan makanan secara online. Jika kita refleksikan, dengan memberi batasan untuk tidak memesan makanan secara online, kita akan memiliki nilai daya juang untuk mencoba memasak. Hal ini memang memerlukan waktu yang sangat lama, tetapi dari refleksi juga kita belajar bahwa bukan hasil yang kita lihat, melainkan bagaimana proses yang akan kita lalui. Proses akan jauh lebih bernilai dibanding hasil.

Kita bisa mencari informasi di surat kabar yang validasinya sudah terjamin. (Foto: Canva)

Contoh kedua, jika kita cenderung mencari informasi di internet yang validasinya belum terjamin, maka akan menjadi hoax apabila kita menyebarkannya kepada publik. Oleh karena itu diperlukan jiwa yang reflektif. Kita harus memberi batasan paad diri untuk tidak selalu mencari informasi di internet. Kita bisa mencari informasi di surat kabar yang validasinya sudah terjamin. Dengan membaca buku atau koran, niscaya akan meningkatkan budaya literasi kita pula.

Lantas, bagaimana refleksi saya terhadap permasalahan ini?

Manusia zaman sekarang ini hampir semuanya ingin supercepat atau instan. Manusia zaman sekarang tidak terlalu suka dengan proses. Buktinya, mereka lebih memilih yang instan daripada suatu hal yang membutuhkan proses. Contohnya, membeli makanan melalui aplikasi.

Jika ditinjau lebih dalam lagi, memasak memang memerlukan waktu yang sangat lama, tetapi dari proses memasak itu kita akan belajar banyak hal. Contohnya dari kegiatan memasak kita akan melatih skill dalam memasak. Selain itu kita juga diajarkan untuk sabar, karena prosesnya sangat lama. Jika kita memesan makanan secara online, apakah akan ada suatu nilai yang akan kita peroleh?

Maka, memiliki jiwa reflektif sangatlah penting bagi generasi yang serbainstan. Dengan refleksi, kita diajak untuk mengendalikan diri, selalu menikmati proses yang ada, dan kita diajak untuk menjadi subjek atas teknologi, bukan menjadi objek atas teknologi.

Selain itu, refleksi harus didukung oleh niat. Jika kita hanya mengetahui bahwa suatu hal itu buruk, tetapi kita tidak memiliki niat konkret untuk berubah, di situlah refleksi tidak memiliki esensi, sedangkan refleksi adalah suatu hal yang eksistensial.

Vinsensius Suryanto

Kelas XII IPS SMA Seminari Mertoyudan Magelang, Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *