Ketika mendengar ada salah satu anak muda yang ingin menjadi seorang imam atau biarawan/biarawati, pasti sangat menggembirakan. Namun, bagaimana jika orang muda itu pada akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dan memilih jalan lain.
Dua fase ini pernah aku alami dalam perjalanan hidupku. Aku pernah melakoni hidup menjadi seorang calon imam bagi salah satu keuskupan di Indonesia selama hampir enam tahun. Memang, sebenarnya belum menjadi waktu yang lama jika dibanding proses keseluruhan menjadi imam. Masa itu saya jalani dengan satu tahun berada di seminari menengah, satu tahun di Tahun Orientasi Rohani (TOR), dan 3,5 tahun di seminari tinggi.
Keinginan untuk menjadi seorang imam muncul pertama kali saat aku berada di SMA. Pengalaman di SMA mendorongku untuk mencoba mendaftar ke seminari menengah. Dari sini, aku memutuskan untuk melanjutkan menjadi calon imam di salah satu keuskupan. Perjalanan panggilan ini berusaha aku jalani secara serius. Aku selalu berusaha untuk mengolah keseluruhan diriku supaya semakin baik. Hal ini kulakukan supaya kelak bisa menjadi seorang imam yang baik bagi umat yang akan aku jalani.
Apa yang telah aku bayangkan itu akhirnya jelas tidak akan terwujud setelah aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari jalan panggilan menjadi seorang imam. Pergulatan dan suara hati yang aku alami dalam proses formasi membuatku akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari proses formasi calon imam.
Keputusan yang aku ambil pasti membuat kecewa banyak orang. Orang-orang terdekat ataupun banyak umat Katolik pasti kecewa melihatku tidak bisa menyelesaikan perjalanan panggilan ini dan kelak bisa ikut serta melayani menjadi seorang imam. Aku sungguh menyadari hal itu memang menjadi salah satu konsekuensi yang harus kutanggung dari keputusan yang aku buat. Dengan besar hati, aku menerima segala kekecewaan itu.
Adanya kekecewaan dari banyak orang menjadi sesuatu yang wajar karena aku memang tidak bisa memenuhi semua harapan mereka. Namun, hal yang terpenting bagiku adalah memahami kehendak Tuhan bagi diriku. Adanya suara hati yang terus menggugat diriku, aku anggap sebagai salah satu cara Tuhan berbicara kepada diriku.
Aku sendiri juga tidak bisa memahami mengapa dorongan untuk keluar dari jalan imamat ini sangat kurasakan. Aku hanya meyakini bahwa itu cara Tuhan menyapaku dan mengarahkan pada panggilan hidup yang Tuhan ingin berikan kepadaku. Dengan keyakinan ini, secara yakin dan sadar aku memilih untuk mengundurkan diri, meskipun tahu bahwa ke depan aku pasti akan menghadapi banyak hal sulit, termasuk segala kekecewaan banyak orang.
Tidak ada penyesalan
Keputusanku untuk masuk ke seminari ataupun keluar tidak pernah menjadi pengalaman penyesalan bagiku. Jelas, aku malah sangat bersyukur bahwa aku pernah hidup di seminari. Pengalaman berada di seminari mengajarkanku banyak hal. Seminari membantuku untuk menumbuhkan diri dan imanku. Pengalaman untuk keluar dari seminari juga tidak membuatku menyesal. Ini kuanggap menjadi salah satu perjalanan hidup yang harus kulalui.
Meski sudah berada di luar seminari, aku sendiri kadang bertanya mengapa aku sangat yakin untuk mengambil keputusan keluar. Setiap melihat ke dalam hati, aku hanya menemukan satu hal, ini memang jalan hidup yang Tuhan kehendaki.
Mungkin banyak orang akan mempertanyakan apa memang itu yang benar Tuhan kehendaki pada diriku. Aku hanya akan menjawabnya dengan penuh keyakinan bahwa memang begitu. Buktinya, ya, perasaan damai dan tenang di dalam hati yang kuterima setelah aku mengambil dan menjalani keputusan ini. Perasaan damai dan tenang ini kurasakan di dalam hati yang mendalam. Meski keputusan ini akan membawa pada situasi sulit yang harus kuhadapi, aku merasa tidak pernah takut dan khawatir. Inilah yang kujadikan sebagai tolok ukur mengapa aku merasa keputusan ini adalah keputusan yang tepat bagi hidupku.
Meski kadang sering dicap sebagai orang yang gagal atau tidak kuat berada di seminari, aku sama sekali tidak menyesal dengan keputusanku. Malahan ada perasaan bahagia dan syukur atas keputusan yang kuambil. Rasa syukur itu bukan terletak pada kegagalan yang aku alami, tetapi pada keberanianku untuk memilih. Aku merasa bersyukur bisa memilih sesuai dengan suara hatiku. Aku yakin, pilihan itu memang dari Tuhan yang akan mengarahkan pada panggilan hidup yang lebih baik bagi diriku. Memang, kalau ditanya pada panggilan hidup macam apa, aku masih belum bisa menjawab. Semuanya masih menjadi sebuah misteri yang belum bisa dipahami.
Memahamiku dan orang-orang sepertiku
Aku tahu pasti akan selalu ada rasa kecewa ketika bertemu dengan orang-orang sepertiku ini. Mungkin juga orang sepertiku dicap negatif dan mungkin juga disingkirkan. Memang, aku sendiri pernah khawatir akan situasi ini, tetapi perasaan khawatir itu telah hilang dihapuskan oleh perasaan damai di dalam hati. Aku merasa tidak takut dan khawatir untuk menghadapi semua perasaan kekecewaan itu.
Kami sebagai para mantan sangat bersyukur bahwa banyak orang telah mendukung kami melalui banyak hal dalam proses kami ketika berusaha memberikan hidup kami di jalan imamat atau menjadi biarawan/biarawati. Pasti sekarang kami juga akan mendukung mereka yang masih berada di dalam seminari dan biara. Namun, dukungan yang sama juga masih kami butuhkan saat kami memang harus mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari jalan panggilan menjadi imam atau biarawan/birawati. Kami mungkin memang memberikan perasaan kecewa bagi hampir sebagian besar umat Katolik, tetapi keputusan kami untuk masuk atau keluar biara sebenarnya juga usaha kami untuk memahami kehendak Tuhan pada diri kami.
Terima kasih atas doa yang diberikan, seperti Doa bagi Para Imam yang ada dalam Puji Syukur nomor 184. Kini, doa pada paragraf terakhir doa tersebut yang sangat kami butuhkan, “Kalau ada di antara mereka yang memilih jalan lain, sudilah Engkau tetap memberkatinya, karena mereka pun tetap anak-Mu. Semoga mereka tetap dapat hidup sebagai orang beriman, dan bekerja giat di tengah jemaat-Mu.”








