Enam Pesan Mgr. Rubi untuk Seminaris di Mertoyudan

Papan Tulis676 Views

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMA Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah sebagai sekolah calon imam Gereja Katolik tahun ajaran 2025-2026 mendapatkan apresiasi yang sungguh meneguhkan dari Mgr. Robertus Rubiyatmoko bagi para seminaris dan formator SMA Seminari Mertoyudan.

Dalam kunjungannya di SMA Seminari pada Rabu, 16 Juli 2025, bersamaan dengan Hari Olahraga UNIO Keuskupan Agung Semarang (KAS), Bapa Uskup berkenan meluangkan sedikit waktu untuk memberikan motivasi kepada para seminaris calon imam dan para formator.

Pesan Bapa Uskup yang menguatkan dan meneguhkan para seminaris dan formator pertama-tama mengajak para seminaris dan keluarga-keluarga Katolik menumbuhkan habitus doa. Doa menjadi kekuatan yang sungguh meneguhkan kita umat Katolik dalam menghadapi tantangan hidup yang terjadi, dengan doa pula mampu menguatkan para seminaris pada panggilan hidup untuk menjadi seorang imam masa depan.

Habitus doa yang terbangun di dalam keluarga juga mampu menumbuhkan benih-benih panggilan imam sehingga semakin banyak kaum muda yang terpanggil masuk ke SMA Seminari Mertoyudan. Keluarga adalah promotor utama dan pertama benih panggilan kaum muda menjadi imam.

Kedua, seminaris harus terus melatih kemampuan berdiskresi dan berefleksi, berdiskresi untuk mampu menemukan pilihan yang terbaik di hadapan Allah, dan berefleksi agar semakin dikuatkan dalam menemukan nilai keutamaan hidup dalam situasi apa pun. Ini adalah kekuatan formatio yang mampu menumbuhkembangkan kedalaman dan kedewasaan hidup.

Bapa Uskup berkenan meluangkan sedikit waktu untuk memberikan motivasi kepada para seminaris calon imam dan para formator.

Ketiga, keterbukaan untuk dibimbing, dalam hal ini kejujuran dan kemauan membuka diri menjadi dasar seminaris untuk berubah dan berbenah diri sebagai bentuk pertobatan yang nyata.

Keempat, keberanian para seminaris calon imam untuk menemukan dan mengolah luka-luka batin dalam hidupnya. Luka batin harus dikorek dan diolah agar tidak menjadi penyakit terus-menerus yang jika dibiarkan lama-lama bisa meledak. Pentingnya keterbukaan mengolah luka batin dengan tuntas menjadi sarana formatio yang menguatkan seminaris.

Kelima, ketangguhan dalam kesunyian dan kesepian. Ketangguhan diperlukan agar di dalam kesunyian dan kesepian perutusan tetap mampu menemukan kasih dan kebaikan Allah di dalam perjalanan hidup. Seminaris harus berani dan tangguh dalam menghadapi kesunyian dan kesepian hidup.

Keenam, kerelaan untuk membatasi diri dari sesuatu yang menjauhkan diri kita dari Allah dan panggilan hidup sejati. Seminaris diajak untuk peka, kritis, dan berani mengatakan tidak dalam proses pengambilan keputusan, manakala pilihan itu menjauhkan diri dari Allah.

Pesan ini menjadi kekuatan dan spirit yang meneguhkan para seminaris dan formator untuk menumbuhkembangkan pendidikan dan formatio di SMA Seminari Mertoyudan. Terima kasih Bapa Uskup yang sudah meluangkan waktunya untuk memberikan penguatan dan peneguhan bagi seminaris dan formator SMA Seminari Mertoyudan.

Antonius Agus Sulistyono, S.IP., S.Pd. 
Guru SMA Seminari Mertoyudan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *