Kediri. Lingkungan St. Matias, Paroki St. Yakobus Bantul, D.I. Yogyakarta mengadakan ziarah dan rekreasi (ziarek) ke Gua Maria Lourdes Puhsarang, Kediri, Jawa Timur pada Sabtu, 14 Oktober 2023. Kegiatan ziarah ini rutin diselenggarakan Lingkungan St. Matias setiap bulan Rosario atau Oktober.
Tema ziarah yang diikuti 41 peserta ini ialah “Seduluran Salawase” (Bersaudara Selamanya). Yulius Sunaryo, Ketua Lingkungan St. Matias sekaligus ketua panitia ziarah, menuturkan, “Selain bertujuan untuk meningkatkan keimanan umat Katolik di Lingkungan Santo Matias, ziarek ini juga untuk meningkatkan persaudaraan dengan semboyan ‘Seduluran Salawase’.”
Semangat persaudaraan juga tampak dari keikutsertaan dua muslimah yang merupakan warga sekitar Lingkungan St. Matias. Sekretaris panitia ziarah, M.Y. Titik Marsiswati, menyatakan bahwa kehadiran mereka adalah wujud mempraktikkan pola moderasi beragama sesuai Program Nasional Jangka Menengah yang dicanangkan pemerintah.
Moderasi beragama adalah konsep yang menekankan pada sikap saling menghormati dan toleransi di antara kelompok agama yang berbeda. Konsep ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih dan mengamalkan agamanya masing-masing, tanpa adanya tekanan atau intimidasi dari pihak lain (sumber).

“Mereka tidak ikut ibadat, tetapi menikmati suasana daerah di sekitar gua Maria yang sangat luas dan mengunjungi pasar tradisional. Mereka juga kami berikan waktu dan kesempatan untuk menunaikan salat. Yang utama, mereka mengenal budaya umat Kristiani dan bisa ikut rekreasi,” ujar Titik.
Perjalanan menuju Puhsarang dari Bantul dilakukan pada Jumat, 13 Oktober 2023 pukul 21.30 dengan satu unit bus Gege Transport. Saat mulai berangkat, peserta melaksanakan doa Rosario di dalam bus. Rombongan tiba di Puhsarang pukul 03.00 dini hari dan langsung transit di Wisma Mbah Kung untuk istirahat, mandi, dan sarapan.

Aktivitas ziarah dimulai dengan ibadat Jalan Salib dengan dipandu tim liturgi, yakni Bonifatius Slamet, Fransiska Romana Juwarsih, C. Ratih Rusmarini, dan Mariana Sumaryani. Usai Jalan Salib, peserta melanjutkan aktivitas rohani dengan berdoa Rosario bersama di Ruang Peristiwa Gembira kemudian berdoa secara pribadi di depan replika gua Maria Lourdes Prancis.
Peserta yang secara fisik masih kuat mengikuti Jalan Salib dengan 14 perhentian. Sementara itu, peserta lanjut usia yang sudah tidak kuat berjalan dipandu doa jalan salib dengan duduk di depan gua Maria dan dipimpin oleh Titik.

Untuk mengikuti ziarek ini, para peserta berkontribusi dengan iuran yang dikelola bendahara panitia, Maria Elisabeth Ambar Nursari. Selain itu, ada donatur yang mendukung terselenggaranya kegiatan, yakni Petrus Lanjar Wijiyono yang merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantul dan menjadi pelindung kepanitiaan ziarek serta Kolonel Suharyadi.
“Special thanks kepada Pak Lanjar dan Pak Haryadi yang sudah men-support kegiatan ziarek kali ini. Semoga Tuhan Allah senantiasa melimpahkan berkat-Nya bagi keluarga Pak Lanjar dan Pak Haryadi yang telah bermurah hati kepada kami semua,” ucap Lucia Tri Camaradini selaku wakil ketua panitia.

Setelah aktivitas ibadat di Gua Maria Lourdes Puhsarang berakhir, perjalanan dilanjutkan dengan mampir ke Monumen Simpang Lima Gumul (SLG), ikon Kediri yang bentuknya mirip Arc de Triompe yang berada di Paris, Prancis. Kunjungan ini sekaligus untuk menikmati makan siang yang sudah disiapkan tim konsumsi, Maria Sumiyati dan A. Ika Palmira Satriarini.

Sembari melanjutkan perjalanan pulang menuju Bantul, rombongan juga mampir ke Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi, Jawa Timur. “Dengan mengunjungi Simpang Lima Gumul maupun Benteng Pendem Ngawi, makin menambah wawasan kami mengenai tempat rekreasi dan warisan budaya di Jawa Timur,” pungkas Sunaryo menerangkan.














