Palembang. Lebih dari 1.200 umat hadir dalam Perayaan Ekaristi Penahbisan Gereja Katedral Santa Maria Palembang, Sabtu, 25 Maret 2023. Upacara penahbisan dipimpin langsung oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo.
Penahbisan Katedral Palembang ini juga dihadiri Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, serta beberapa uskup lain. Di antara mereka juga hadir perwakilan sejumlah kongregasi dan puluhan pastor.
Upacara penahbisan Katedral Palembang dimulai pukul 09.00 dan diawali dari depan pintu utama gereja. Sebelum prosesi menuju altar gereja, didahului dengan upacara penyerahan palium sebagai lambang suci persatuan dan persekutuan uskup agung dengan Takhta Suci yang diserahkan dari Mgr. Piero Pioppo kepada Uskup Palembang, Mgr. Harun.

Sebelum memasuki gereja juga dilakukan penyerahan kunci gereja dari tim pembangunan Gereja Katedral St. Maria kepada Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo yang kemudian diserahkan kepada Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Penyerahan palium dari Bapa Suci, Paus Fransiskus melalui tangan Mgr. Pioppo kepada Mgr. Yohanes Harun Yuwono juga sebagai tanda penyerahan tugas kegembalaan sebagai Uskup Agung Palembang. Pintu utama gereja pun dibuka dan prosesi agung dengan alunan lagu pembukaan bergema berarak memasuki Gereja Katedral Santa Maria Palembang yang megah.
Sampai di altar gereja, Mgr. Piero Pioppo melakukan pemberkatan air dan dilanjutkan pemercikan ke dinding-dinding, patung-patung, altar gereja yang baru, tabernakel, serta pernak-pernik gereja. Pemercikan penyucian ini sebagai tanda tobat dan kenangan akan pembaptisan. Tak ketinggalan, mimbar sabda serta katedral (kursi uskup/takhta uskup) juga disucikan.
Gereja Katedral St. Maria Palembang sendiri dibangun selama kurang lebih 7 tahun. Pembangunan ini menjadi lama karena berbagai kendala dan masalah yang telah terjadi, terutama pandemi Covid-19 yang mengakibatkan proses pembangunan menjadi semakin lama.

“Katedral di wilayah Sumatra Selatan ini dibangun dengan gaya neo–Gothic. Hal ini bertujuan untuk menghadirkan keagungan dan kemuliaan Tuhan. Suasana ini juga sekaligus untuk mengajak seluruh umat beriman berhimpun untuk memuliakan nama Tuhan melalui doa-doa dan perayaan sakramen. Gereja Katedral St. Maria Palembang juga diperkaya dengan simbol-simbol lokal yang menggambarkan kehadiran Gereja di tengah-tengah masyarakat Sumatra Selatan,” jelas Ketua Katedral St. Maria Palembang Alex Kurniawan Edi dalam sambutannya.
Lebih lanjut, Alex Kurniawan Edi mengungkapkan berbagai tantangan dan kendala saat pembangunan Gereja Katedral St. Maria Palembang terutama ketika datangnya pandemi Covid-19.
“Masa pandemi Covid-19 mengakibatkan seolah-olah dunia berhenti berputar. Tetapi pembangunan gedung ini tidak pernah berhenti walaupun tersendat-sendat. Hal ini dibuktikan dengan selesainya pembangunan Gereja Katedral walaupun dihantam oleh berbagai masalah,” tambahnya.
Sementara itu, Mgr. Yohanes Harun Yuwono selaku uskup Keuskupan Agung Palembang mengungkapkan, tahun ini merupakan tahun syukur bagi Keuskupan Agung Palembang. “Pertama, atas perayaan 100 tahun Prefektur Apostolik Bengkulu yang berdiri sejak 27 Desember 1923. Bengkulu sekarang menjadi bagian Keuskupan Agung Palembang. Kedua, tahun ini kita juga menyongsong perayaan 100 tahun Kongregasi SCJ berkarya di Indonesia. Ketiga, kita juga merayakan 20 tahun Palembang sebagai Keuskupan Agung dan tahun ini, hari ini, 25 Maret 2023, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ genap 30 tahun sebagai uskup,” tuturnya.
Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C, dalam sambutannya berharap dengan penahbisan Gereja Katedral St. Maria Palembang ini semakin memperkokoh kehidupan berbangsa, karya Gereja semakin dirasakan umat dan berdampak pada kehidupan bermasyarakat.
“Semoga dengan pemberkatan katedral yang sungguh indah dan megah ini, sebagai buah kerja sama yang luar biasa. Atas rahmat Tuhan, kita didorong juga untuk memperindah kehidupan rohani, mempermegah kehidupan menggereja, dan memperkokoh kehidupan berbangsa sehingga karya Gereja makin dirasakan umat serta makin berdampak pada kehidupan bermasyarakat yang lebih berketuhanan, berkemanusiaan, dan berkebangsaan Indonesia,” harap Mgr. Anton yang juga sebagai Uskup Bandung ini.
Perayaan ditutup dengan penandatangan prasasti gereja yang dilakukan oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Mgr. Piero Pioppo, dan Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.








