Memasuki bulan September 2023, Gereja Indonesia mengajak kita untuk bersama merenungkan Kitab Suci. Kita sebagai umat Katolik diajak untuk merenungkan kembali sosok Allah, sang Pencipta bersama dengan Nabi Yunus dan Yoel melalui tema Allah Sumber Kasih dan Keselamatan.
Tema ini dipilih karena memang sesuai dengan pesan inti dari pewartaan kedua nabi tersebut. Ayat emas untuk BKSN 2023 ini adalah “Allah yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Yun. 4:2).
Kondisi nyata dunia saat ini menunjukkan bahwa dunia bukan lagi menjadi tempat tinggal yang damai, penuh kasih dan keselamatan. Salah satu wujud nyata yang meunjukkan hal tersebut terjadi sewaktu awal pandemi COVID-19.
Di tengah kesulitan yang sedang melanda, tidak sedikit orang, khususnya di Amerika Serikat, menyebarkan ujaran kebencian pada orang-orang Asia. Orang Asia dianggap menyebarkan virus penyebab penyakit. Tidak berhenti di situ saja, ujaran kebencian itu disertai dengan tindak kekerasan.
Di tengah keprihatian dan kesulitan dunia dalam menghadapi pandemi, beberapa pihak justru memberikan tantangan lebih dalam menghadapi situasi yang serbasulit tersebut.
Tindak kekerasan tidak kalah marak terjadi. Belum lama terjadi tindak penyerangan oleh orang tidak dikenal di Kampung Kawe, Lokasi Minning Dokter 36, Kabupaten Pegunungan Bintang.
Kejadian ini mengakibatkan dua orang tewas dan lima orang mengalami luka serius. Hal ini bukan pertama kalinya teradi di Indonesia. Banyak tindakan penyerangan lainnya yang tidak jarang terjadi karena perbedaan-perbedaan yang ada antara satu dengan lainnya.
Kejadian-kejadian di atas cukup untuk menjadi tanda bahwa bangsa Indonesia bahkan dunia sedang tidak baik-baik saja. Dunia senantiasa menghadapi kesulitan Hal ini menjadi undangan bagi kita semua umat Katolik untuk menjadi perantara kasih dan keselamatan Allah di dunia.
Melalui pertemuan BKSN tahun ini, kita semua diajak belajar menjadi perantara kasih dan keselamatan Allah melalui teladan Nabi Yunus dan Yoel.
Nabi Yoel mewartakan Allah yang pengasih dan penyayang di tengah bangsa Israel yang sedang mengalami keputusasaan, kesukaran, dan ratapan karena kehilangan harapan.
Nabi Yoel mengajak bangsa Israel untuk kembali bertobat dan kembali kepada Allah, sebab Ia adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukum-Nya (Yl. 2:4).
Nabi Yunus diutus Allah untuk mewartakan pertobatan kepada Kota Niniwe yang seperti keajaiban dalam sehari seluruh penduduk kota tersebut langsung bertobat, padahal perlu tiga hari untuk mengelilingi kota yang besar tersebut (Yun. 3:1-9). Kota Niniwe akhirnya bertobat dan Allah tidak jadi menjatuhkan malapetaka kepada mereka.
Kitab Yunus tidak banyak membahas pesan pewartaan Yunus, tetapi kita diajak untuk merefleksikan bersama Allah yang pengasih dan penyayang melalui pergulatan yang dialami Yunus.
Nabi Yunus dan Yoel memiliki kesamaan dalam pewartaan, yaitu mereka diutus untuk mewartakan Allah yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia (Yun. 4:2; Yl. 2:13).
Nabi Yunus memiliki hal yang cukup unik untuk diperhatikan bersama. Pergulatan yang ia alami saat dipanggil Tuhan untuk menjadi nabi-Nya menjadi pusat pesan dari Kitab Yunus.
Nabi Yunus melarikan diri saat dipanggil Tuhan untuk menjadi nabi-Nya (Yun. 1:3). Melalui pengalaman dihantam badai besar selama di laut dan berada di perut ikan selama tiga hari tiga malam, menuntun Yunus untuk akhirnya mau menjadi nabi-Nya.
Pengalaman yang dijalani Yunus bukan pengalaman mudah, tetapi hal tersebut mampu membawa Yunus pada Allah. Hal ini tidak akan terjadi jika Yunus tidak mampu merefleksikan apa yang terjadi padanya.
Refleksi bukanlah suatu hal yang baru. Kita tidak belajar dari pengalaman, kita belajar dari merefleksikan pengalaman (John Dewey). John Dewey mengungkapkan bahwa refleksi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu intellectual reflection dan praxiological reflection.
Hal ini lalu dikembangkan oleh seorang filsuf Amerika bernama Donald Schon. Donald Schon membagi refleksi menjadi tiga jenis: Reflection-in-action; Reflection-on-action; Reflection-for-action.
Hal menarik dapat ditemukan dalam jenis Reflection-for-action. Refleksi jenis ini membawa kita pada pengalaman masa lalu dan mengajak memikirkan tentang aksi masa depan.
Jika melihat pengalaman Nabi Yunus, ia mampu merefleksikan pengalamannya tersebut sampai pada aksi nyata menanggapi panggilan untuk menjadi nabi-Nya.
Kemampuan untuk berefleksi ini mampu menuntun kita untuk mau menjadi perantara kasih dan keselamatan Tuhan di tengah dunia yang tidak baik-baik saja. Melalui pertanyaan pendalaman pertemuan BKSN 2023 ini, kita diajak untuk menemukan Allah yang penuh kasih dan menyelamatkan.
Pertanyaan pendalaman yang ditawarkan menuntun kita untuk masuk dalam diri sendiri dan merefleksikannya. Tidak berhenti sampai situ saja, melalui refleksi, kita dapat menemukan hal yang lebih luas lagi yang tidak hanya soal diri sendiri, tetapi juga orang lain. Proses refleksi tidak berhenti hanya pada penyadaran, tetapi juga membangun niat untuk aksi nyata yang akan dilakukan.
Saat proses ini mampu dijalani dengan baik, kita sungguh dapat menjadi seorang perantara kasih dan keselamatan bagi sesama. Aksi nyata yang dilakukan menjadi bukti nyata bahwa kita sungguh menjadi perantara kasih dan keselmatan Allah di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini.














