Ada Batas di Balik Kebebasan

Pelita637 Views

Bebas atau kebebasan bukanlah hal yang tabu atau asing di telinga kita, bahkan setiap orang ingin hidup bebas. Hal ini sangat terasa dan dirindukan oleh mereka yang saat ini sedang terikat entah secara hukum (orang yang dipenjara) ataupun mereka yang merasa terikat oleh karena pilihan hidupnya yang tidak sesuai dengan kehendak sendiri.

Bebas berarti lepas sama sekali atau tidak terhalang dan terganggu. Sedangkan kebebasan artinya adalah kemerdekaan; keadaan bebas (KBBI). Maka, bisa diartikan bahwa kebebasan itu sebagai situasi atau keadaan ketika manusia atau kita sedang tidak di bawah tekanan oleh siapa pun atau situasi apa pun.

Sementara dalam Kitab Suci, paham kebebasan tidaklah dideskripsikan secara harfiah, tetapi sangat banyak tersirat dalam perikop atau peristiwa yang menunjukkan atau menjelaskan bahwa manusia diberi kebebasan oleh Allah.

Misalnya dalam kisah manusia jatuh ke dalam dosa (Kej. 2:8-25, Kej. 3:1-24) bahwa dari awal manusia diberi kebebasan untuk menikmati segala sesuatu yang telah disediakan Tuhan demi kelangsungan hidup manusia sebagaimana yang tertulis dalam Kej. 2:16, “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan BEBAS.”

Namun, di balik kebebasan yang berikan Tuhan kepada manusia (Adam dan Hawa), tetap ada batasan dan larangan. Hal ini jelas tertulis dalam Kejadian 2:17, “Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya.” Sungguh sangat penting kita pahami bahwa kebebasan itu sangatlah relatif (tidak mutlak).

Dalam ilmu sosial jelas ditekankan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bebas (otonom) tetapi terikat. Keterikatan ini mau menunjukkan/menjelaskan bahwa kebebasan yang dimiliki oleh manusia bukan berarti menjadikan manusia (kita) serta-merta bertindak, bersikap, berbicara, atau berbuat sesuka hati serta emosi kita.

Tetap ada batas, aturan, undang-undang, serta norma yang harus kita jaga, ikuti, dan taati sesuai dengan pilihan hidup kita masing-masing. Sesuai dengan status pribadi manusia, latar belakang keluarga, budaya, dan agama kita masing-masing maupun pekerjaan kita sehari-hari.

Sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci, Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memakan segala buah yang ada di Taman Eden, tetapi ada larangan atau batas bahwa salah satu buah dari pohon itu tidak boleh diambil dan dimakan oleh Adam dan Hawa.

Dalam panggilan hidup manusia, baik panggilan untuk hidup berkeluarga maupun mereka yang dengan bebas memilih untuk hidup selibat, hal ini sangatlah penting untuk dipahami dan disadari. Di dalam setiap pilihan yang diambil, tentu ada batas, aturan, janji, bahkan konsekuensi dari pilihan itu.

Kebebasan yang kita gunakan justru mengikatkan diri kita pada suatu situasi dan itu sudah menjadi hakikat dari hidup manusia, bahkan Kitab Suci telah menuliskannya. Mari menggunakan kebebasan itu dengan baik, bukan menyalahgunakan atau memahaminya secara salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *