Sekolah Basis: Membedah Filsafat dengan Pisau Sastra

News1253 Views

Sleman. Majalah Basis kembali menyelenggarakan kegiatan rutin bertajuk “Sekolah Basis” yang memasuki tahun kelima penyelenggaraannya. Kelas yang digelar di Omah Petroek yang beralamat di Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengangkat tema “Sinisme Bersama Navis” pada Sabtu, 27 September 2025.

Sekolah Basis merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun dengan topik pembahasan dan bentuk diskusi yang berbeda-beda. “Setiap tahun bentuknya berbeda. Kali ini sebulan sekali dengan guru atau satu pemateri yang mengambil tema masing-masing, seperti Mbak Dian dengan tema sinis bersama A.A. Navis,” tutur Setyaningsih, pembawa acara Sekolah Basis 2025.

Sekolah Basis bukan sekadar wadah diskusi, melainkan bertujuan memekarkan penulis-penulis Majalah Basis baru. “Tentu saja memekarkan penulis baru, karena itulah yang sebenarnya menjadi tujuan. Sebab, Majalah Basis adalah media penulisan, jadi tentu saja kami ingin lebih banyak penulis yang ke Basis,” lanjut Setyaningsih.

Sekolah Basis bulan kelima pada tahun 2025 kali ini berfokus pada bagaimana Navis sebagai seorang penulis membungkus sinisme dan kritik secara indah dalam karya-karyanya. Seperti yang diungkap Henokh Aldebaran Ngili, salah satu pencinta Basis sekaligus peserta Sekolah Basis, “Hari ini kita membahas tentang sinisme A.A. Navis, bagaimana dia menulis dengan sinis untuk membungkus kritik dengan indah. Tema ini sangat menarik karena sinisme tersebut masih terpelihara.”

Salah satu pengunjung Omah Petroek tertarik pada buku-buku yang ditawarkan Yayasan Basis.

Sebagai pemateri, hadir Dian Vita, seorang editor dan redaktur yang pernah menulis tentang A.A. Navis di Majalah Basis. Dalam pemaparannya, Vita berbagi kesannya membaca karya-karya A.A. Navis. “Saya terhibur, tapi terus juga jadi mikir-mikir atau jadi melamun. Kadang- kadang, ‘Iya, ya, apakah seperti ini?’ atau ‘Ternyata emang seperti itu, ya?’” ujarnya.

Vita juga menyoroti sisi lain dari A.A. Navis mengenai kehidupan pribadinya yang memengaruhi karyanya. “Dalam kasus Navis, saya mendapatkan mungkin sebagian jawabannya dari dua sisi kehidupannya, keluarga dan pendidikan,” jelasnya.

Menurut Vita, Navis menekankan bahwa semua tulisannya, bahkan aktivitas berpolitiknya, merupakan bentuk ekspresi intelektualitas. “Jadi, dia itu jarang menuliskan sesuatu yang mengawang-awang atau berimajinasi,” tandasnya.

Senada dengan itu, Rm. G.P. Sindhunata, SJ selaku Pemimpin Umum Majalah Basis menekankan pentingnya sastra sebagai refleksi filosofi. “Kita mengenal kekayaan bahasa, kepekaan bahasa, dan imajinasi yang justru perlu untuk refleksi filosofis. Filsuf-filsuf besar umumnya merupakan seorang sastrawan seperti Albert Khan, Toto Yesky, dan sebagainya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rm. Sindhu mengajak para peserta untuk aktif dalam dunia sastra. “Tetapi saya percaya, di antara kalian semua yang menyukai dan mungkin beraktivitas sastra, mengutarakan juga pengalaman-pengalaman di sekitar bersastra atau berliterasi pada umumnya. Entah pengalaman dalam berkelompok, entah di kuliah, di fakultas, atau di dalam kegiatan-kegiatan di luar. Basis dari dulu sangat mementingkan mengenai sastra, maka sebenarnya, sangat tidak seimbang kalau Basis dikira hanya majalah filsafat atau kebudayaan, teori-teori secara umum, tetapi juga sastra,” tegasnya.

Oktavianus Adi Kristiyana & Simplisius Calvindoro Ruly Titanio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *