SLEMAN — Terik matahari musim kemarau tidak menyurutkan kehadiran ratusan umat Katolik untuk datang ke kawasan Gua Maria Ratu Perdamaian (GMRP) Sendang Jatiningsih, Dusun Jitar, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Sleman, Yogyakarta, Minggu, 13 Septmber 2026. Di tepi Sungai Progo yang menjadi pemandangan menyesukkan Perayakan Ekaristi Syukur 40 Tahun Gua Maria Ratu Perdamaian (GMRP) Sendang Jatiningsih berlangsung.
Perayaan tersebut menjadi ungkapan syukur atas perjalanan tempat ziarah yang selama empat dekade berkembang dari sebuah rintisan sederhana umat. Tempat ziarah yang dirintis di tahun 1986 itu kini telah menjadi salah satu tempat ziarah umat Katolik di Yogyakarta.
Ekaristi dipimpin Vikep Kevikepan Yogyakarta Barat, Romo Yohanes Sunaryadi, Pr. Ia didampingi sejumlah imam, antara lain Romo Patricius Mutiara Andalas, SJ, Romo JB. Mardi Kartono, SJ, Romo Modestus Supriyanto, Pr, Romo Bonifasius Benny Bambang Sumintarto, Pr, Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Romo Petrus Sugiyarto, SCJ, Rektor Skolastikat SCJ, Romo Fansiskus Asisi Mite, Pr.

Hadir pula para sesepuh GMRP, tamu undangan, umat dari berbagai paroki, serta anak-anak dan siswa yang mengikuti berbagai perlombaan dalam rangkaian peringatan 40 tahun. Para pemenang lomba, termasuk lomba paduan suara, turut hadir dalam perayaan tersebut.
Bagi umat, GMRP Sendang Jatiningsih bukan sekadar tempat dengan patung Bunda Maria. Kawasan yang berada di tengah bentang alam pedesaan dengan pepohonan jati dan anek pohon lainnya serta dipinggir aliran Sungai Progo itu telah menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan, berdoa, bersyukur, dan menyerahkan berbagai pergulatan hidup kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.
Berawal dari keinginan umat
Perjalanan GMRP Sendang Jatiningsih tidak dapat dilepaskan dari perkembangan umat Katolik di Jitar dan Pingitan.
Pada awalnya, tempat tersebut dikenal sebagai Sendang Pusung, nama lokal yang merujuk pada sumber air di kawasan tersebut. Perkembangan umat Katolik di wilayah Jitar dan Pingitan telah berlangsung sejak 1950-an.

Salah satu tonggak awalnya adalah pembaptisan FX Dikin di Gereja Santo Petrus dan Paulus Klepu pada Desember 1952. Saat itu ia masih duduk di kelas V SD Kanisius Ngapak. Setahun kemudian, empat rekannya, yakni Ignatius Purwowidono, Petrus Sapardi, Benediktus Semin, dan Paulus Taryono, menyusul menjadi Katolik.
Mereka kemudian menjadi pionir berkembangnya umat Katolik di Jitar dan Pingitan. Petrus Sapardi bahkan mengadakan pelajaran agama Katolik setiap malam Jumat dan turut memelopori terbentuknya lingkungan Jitar-Pingitan.
Kehidupan umat berkembang melalui berbagai kegiatan, termasuk kesenian tradisional. Wayang orang, ketoprak, karawitan, tari kreasi baru hingga selawatan menjadi sarana pewartaan. Pada masa itu bahkan muncul sebutan seperti Wayang Orang Katolik, Ketoprak Pemuda Katolik, dan Karawitan Katolik.
Keinginan memiliki tempat berkumpul dan beribadah kemudian semakin kuat. Hingga pada 8 September 1986, rintisan tempat doa di kawasan sendang mulai diwujudkan. Dari tempat sederhana itulah kemudian berkembang Gua Maria yang kini dikenal sebagai Gua Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih.
“Seratus lima belas dibaptis”
Salah satu saksi penting perjalanan awal GMRP Sendang Jatiningsih adalah Romo Mardi Kartono, SJ. Empat puluh tahun lalu, ia terlibat langsung dalam peristiwa yang menjadi salah satu tonggak penting sejarah umat Jitar-Pingitan.
Menurut Romo Mardi, awalnya umat di Paroki Klepu ingin memiliki kapel atau tempat ibadah di lingkungan masing-masing. Umat Jitar-Pingitan kemudian mengusulkan tempat ibadah sederhana di kawasan sendang.
“Lingkungan Jitar Pingitan ini ingin membuat kapel juga yang tanpa atap. Maka dibuatlah Sendang Jatiningsih karena di kebun sini, di bawah itu ada sendangnya Jatiningsih,” kenangnya.

Setelah tempat tersebut mulai dibangun, sebuah arca Bunda Maria kemudian ditempatkan dan diberkati.
“Peristiwa berikutnya menjadi titik penting bagi perkembangan umat Katolik setempat. Setelah pemberkatan, sejumlah warga datang dan menyatakan keinginan untuk menerima baptis. Akhirnya sebanyak seratus lima belas umat yang dibaptis,” kata Romo Mardi siang itu seusai perayaan Ekaristi syukur.
Pembaptisan dilakukan di tempat yang kini menjadi kawasan GMRP Sendang Jatiningsih. Romo Mardi bersama Romo J. Groenwoud, SJ melayani pembaptisan tersebut.
Menurutnya, peristiwa itu menjadi pengalaman iman yang penting, bukan hanya bagi umat Jitar-Pinggitan, tetapi juga bagi Gereja Paroki Klepu.
“Mereka datang ke pasturan minta saya untuk dibaptis. Tapi dibaptis di tempat ini, yang sekarang menjadi Gua Maria Perdamaian Sendang Jatiningsih,” ujarnya.
Ia melihat perkembangan tempat doa tersebut sebagai anugerah. Orang-orang datang dengan kesadaran dan permintaan sendiri untuk menjadi bagian dari umat Katolik.
Kini, empat dekade kemudian, tempat yang dahulu sederhana itu didatangi umat untuk berdoa, bersyukur, memuji Tuhan dan menyampaikan permohonan.

“Tidak selalu satu tambah satu hasilnya dua”
Saat memberikan homilinya, Romo Yohanes Sunaryadi mengajak umat melihat perjalanan iman bukan dengan semata-mata logika hitung-hitungan manusia.
Ia mengawali homili dengan pertanyaan sederhana: satu ditambah satu berapa? Dua. Dua ditambah tiga? Lima. Dua puluh ditambah dua puluh? Empat puluh.
Namun, menurutnya, hitungan matematis itu tidak selalu berlaku dalam kehidupan iman.
“Ketika menghidupi rahmat iman, hitungannya ora mung iki tambah iki mesti entuk iki. Kadangkala malah tekor,” katanya.
Orang yang melayani Gereja dapat mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran. Bahkan pelayanan yang dilakukan dengan tulus terkadang dibalas dengan kritik, kesalahpahaman atau penolakan.
Sebaliknya, pengalaman iman juga dapat menghadirkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang dimohonkan.
“Satu tambah satu belum tentu dua. Acapkali kita mengalami satu tambah satu hasilnya lima. Dua ditambah tiga menjadi dua puluh. Kenapa? Karena Tuhan memberikan yang lebih dari yang diminta,” katanya.
Romo Sunaryadi kemudian mengaitkan hal tersebut dengan bacaan Injil tentang Petrus yang bertanya kepada Yesus berapa kali harus mengampuni orang yang bersalah kepadanya.
Jawaban Yesus tentang mengampuni “tujuh puluh kali tujuh kali”, menurutnya, bukanlah hitungan matematis yang harus dicapai. Pesannya adalah bahwa kebaikan, pengampunan, pelayanan dan doa tidak boleh dibatasi oleh hitungan manusia.
“Segala kebaikan kita lakukan tanpa batas,” tegasnya.

Pada perayaan 40 tahun GMRP Sendang Jatiningsih, Romo Sunaryadi mengajak umat meneladan Maria yang bersedia membiarkan rencana Allah terjadi dalam hidupnya.
Maria, katanya, bukan hanya teladan karena menjadi Bunda Yesus, tetapi karena keberaniannya mengatakan, “Ya, aku ini hamba Tuhan.”
Karena itu, umat yang datang ke Gua Maria tidak pertama-tama diajak memaksakan kehendak atau rencana pribadi kepada Tuhan. Sebaliknya, umat diajak belajar membuka diri dan membiarkan kehendak Allah bekerja dalam kehidupannya.
“Entah hidup entah mati kita tetap milik Tuhan,” katanya, mengutip Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma.

Menjadi ruang untuk menemukan kedamaian
Empat puluh tahun perjalanan GMRP Sendang Jatiningsih menunjukkan bahwa sebuah tempat ziarah dapat tumbuh dari kesederhanaan dan inisiatif umat. Romo Mardi berharap tempat tersebut terus menjadi ruang yang membantu umat semakin dekat dengan Tuhan.
“Harapan ke depan sebagai tempat ziarah semakin membuat umat beriman dekat dengan Tuhan, baik dalam penghayatan imannya, ungkapannya, tapi juga wujud dalam kehidupan di masyarakat,” katanya.
Baginya, iman kepada Yesus Kristus tidak berhenti pada doa dan devosi. Iman juga harus membawa pengaruh positif dalam kehidupan bersama, terutama ketika masyarakat membutuhkan kekuatan moral untuk tetap berbuat baik dan menghadirkan kasih.

Kini GMRP Sendang Jatiningsih telah melewati empat dekade. Dari Sendang Pusung, tempat sederhana yang tumbuh dari kerinduan umat Jitar-Pingitan, kawasan ini berkembang menjadi ruang doa yang mempertemukan iman, alam, sejarah dan kehidupan masyarakat.
Di tempat ini, umat dapat datang bukan hanya untuk memanjatkan permohonan, tetapi juga untuk belajar berhenti, hening, bersyukur dan membuka diri terhadap rencana Tuhan.
Dengan suasana alam pedesaan di tepian Sungai Progo dan perjalanan sejarah iman yang panjang, GMRP Sendang Jatiningsih kini layak menjadi salah satu tempat ziarah yang patut dikunjungi. GMRP GMRP Sendang Jatiningsih dalah sebuah ruang sederhana untuk mengistirahatkan hati dan kembali menemukan kedamaian.
Ketua Pengelola GMRP Sendang Jatiningsih DS. Putut Hadi Santosa mengungkapkan rasa syukurnya atas 40 tahun tempat ziarah ini. Kata Putut dalam sambutannya, empat puluh tahun adalah ucapan syukur atas apa yang telah Tuhan berikan, sekaligus awal dari tanggung jawab yang baru.
“Maka, apa yang sudah dilakukan GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu selama 40 tahun? Dan apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya?” Anak-anak muda harus mengenal tempat ini. Generasi yang akan datang harus tetap menemukan kedamaian di tempat ini. Dan GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu ini harus tetap menjadi tempat yang terbuka bagi siapa pun yang datang mencari Tuhan, mencari penghiburan, mencari pengharapan, dan mencari kedamaian,” kata Putut.

Siang itu Putut juga mengajak kepada siapapun untuk merawat tempat Sendang Jatiningsih bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan hati. Ia memohon tidak hanya menjaga keindahan dan lingkungannya. Ia berharap juga menjaga roh, nilai, filosofi, dan semangatnya.
Di sela-sela kesibukannya, Suharyanto, Ketua Panitia Perayaan Syukur 40 Tahun GMRP Sendang Jatiningsih mengungkapkan rasa syukurnya pula. Seluruh rangkaian acara bisa berjalan dengan baik. Menurutnya ini semua adalah rahmat dari Tuhan melalui doa-doa dan rahmat perantaraan Bunda Maria Sendang Jatiningsih.
“Semoga umat dan siapapun yang hadir dan berziarah di tempat ini bisa merasakan kedamaian hati dan kiranya Bunda Maria Ratu Perdamaian mengajarkan kepada kita satu hal: “Datanglah untuk doa dan devosi. Pulanglah untuk menjadi berkat dan dimampukan menyebarkan perdamaian ke semakin banyak orang,” pungkas Suharyanto








