Bantul. Menyambut hari jadi ke-90, Paroki St. Yakobus Klodran Bantul menyelenggarakan seminar kesehatan bertajuk “Loving Yourself and Others” pada Minggu, 18 Februari 2024 di Aula Susteran Gembala Baik, Pendowoharjo, Sewon, Bantul.
Sebanyak 35 remaja usia 12 sampai 15 tahun mengikuti seminar yang dipandu Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr dan dr. Adelina Vista Nurasti Pradanita, Sp.KJ (K) bersama Tim Karya Sosial Gembala Baik.
Dalam pengantarnya, Rm. Merdi menyatakan kesehatan bukan melulu terkait fisik atau lahiriah, tetapi juga insecure atau merasa tidak aman (enjoy). Maka, peserta diajak untuk mencintai diri sendiri.

“Para remaja mengalami pengalaman tidak menyenangkan, membuatnya insecure, bahkan identitasnya ditutupi. Dalam akun-akun media sosial atau game, namanya dibuat aneh-aneh. Foto profilnya beruang gemoy, padahal aslinya kurus. Hal-hal seperti ini kita alami dalam hidup kita,” tutur Pastor Kepala Paroki St. Yakobus Bantul ini.
Rm. Merdi mengingatkan, masa-masa remaja adalah kesempatan. Masa yang rentan sekaligus penuh dengan peluang. “Usia 9 – 14 tahun menjadi masa yang rentan. Gampang sekali kecil hatinya. Tetapi juga menjadi peluang untuk didampingi menjadi lebih baik sehingga sehat secara mental,” paparnya.
Sejumlah penelitian menyebutkan beberapa masalah kesehatan dalam diri remaja. Antara lain kecemasan, demensia (masih remaja tetapi pelupa), COVID-19 yang sudah dialami, godaan minuman keras, penyalahgunaan narkoba, stres, dan yang paling tinggi adalah kesehatan mental.
Hal ini lain dengan anak-anak dengan kondisi mental berbeda. Mereka adalah orang-orang yang butuh diperhatikan karena mempunyai kesulitan sejak dari awal.
“Kalian bukan termasuk anak-anak seperti itu, tetapi dalam perkembangannya rentan sekaligus punya peluang mengalami kesulitan-kesulitan yang terkait dengan kesehatan mental,” terang Rm. Merdi sembari menambahkan bahwa seminar kesehatan ini bertujuan supaya para peserta makin sadar pentingnya mencintai diri sendiri dan orang lain.
Pada sesi berikutnya, dr. Vista menyebutkan problem pada remaja antara lain cemas, sedih, negative thinking (nethink), mengalami gangguan makan, maupun “barcode” (upaya menyakiti diri sendiri karena tekanan psikologis).
“Remaja itu merasa sudah gede, nggak mau diatur-atur orang tua. Juga punya masalah dengan teman atau pacar. Kalau punya masalah jadi sedih, itu wajar. Nggak apa-apa. Sedih, cemas, dan kecewa itu wajar,” ungkap dr. Vista.
Namun, hal itu menjadi tidak wajar ketika berlangsung selama lebih dari dua minggu. “Masalah sudah selesai tetapi masih cemas. Takut nilainya jelek, setelah keluar ternyata bagus, masih cemas. Kayak dunia ini mau berakhir. Itu harus waspada,” wanti dokter yang praktik di RSUD Panembahan Senopati Bantul ini.
“Kalau lebih dari dua minggu, terus-menerus nggak pernah bahagia, ada pikiran untuk menyakiti diri sendiri, harus hati-hati. Begitu kamu merasa lebih baik mati karena hidup nggak ada gunanya lagi, itu tanda-tanda mengalami mental illness,” imbuhnya.
Dampaknya, tugas-tugas sekolah menjadi drop serta memengaruhi hubungan dengan teman-teman. Dokter yang juga umat Paroki St. Yakobus Bantul ini menceritakan pengalamannya menemui dua anak perempuan yang menyukai satu anak lelaki yang sama sampai berkelahi dengan membawa geng masing-masing. “Mereka sampai masuk rumah sakit karena mengalami luka-luka (fisik). Cowoknya sama sekali tidak menengok mereka,” kisah dr. Vista.
Bila mengalami permasalahan yang mengganggu psikis, upaya yang bisa dilakukan misalnya berbicara dengan orang dewasa atau sahabat yang bisa dipercaya. “Silakan juga datang kepada dokter atau psikolog. Bertemu saya juga boleh. Saya menerima curhatan. Beberapa remaja bertemu saya tidak punya keluhan, hanya ingin bercerita. Saya mendengarkan ceritanya sampai 30 menit. Nggak apa-apa kalau itu membuat kalian merasa lebih nyaman,” tawar dr. Vista.

Lalu, dr. Vista memaparkan cara supaya punya mental sehat. Pertama, mengatakan hal positif kepada diri sendiri. “Terkadang kita lupa, kita bisa baik kepada orang lain, tapi lupa baik kepada diri sendiri. Misalnya habis jalan jauh, kita bisa bilang, ‘Terima kasih, kakiku, kamu sudah membawaku jalan jauh ke mana-mana.’”
Ia pun mengajak para peserta untuk mencoba mengatakan hal positif kepada diri sendiri. “Nggak apa-apa hari ini kamu belum berhasil, tetapi besok pagi kamu akan bisa lebih baik,” kata dr. Vista meyakinkan.
Kedua, menulis diary atau buku harian dengan membiasakan diri mensyukuri hari ini. “Misalnya kamu bertemu teman yang lama nggak ketemu. Kamu tulis di buku dan mengungkapkan rasa syukurmu. Jadi, kita menulis hal-hal yang bisa kita syukuri pada hari ini,” contoh dr. Vista.
Selain itu, cara yang lain ialah fokus dengan mengerjakan satu pekerjaan pada satu waktu, berolahraga, dan cukup istirahat. “Anak-anak zaman sekarang itu tidurnya cuma sebentar. Tidur pukul 12 malam, karena main game atau ponsel. Bangun pukul 4 pagi lanjut main ponsel lagi,” ujar dr. Vista.
Akhirnya, dr. Vista berpesan, “Kita harus mencintai diri kita sendiri. Kamu harus sehat dulu, mencintai diri sendiri, sebelum kamu bisa membantu orang lain. Itu prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Sikapi diri kita dengan hal-hal positif sehingga pikiran kita berguna. It’s okay to not be okay. Nggak pa-pa kalau lagi sedih, yang penting kamu akan bangkit lagi.”














