Yogyakarta. Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 11 Oktober dimanfaatkan oleh komunitas Karya Sosial Gembala Baik untuk menggelar acara inspiratif berupa talkshow dan konseling gratis bagi masyarakat Yogyakarta. Tema besar yang digaungkan yakni “The Girl I am, The Changed I Lead – Embraced by the Good Shepherd for All Generations”.
Acara ini berlangsung selama dua hari penuh, Jumat-Sabtu, 10-11 Oktober 2025 di Ruang Kreatif JNM Bloc, Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, pendidikan, dan hak-hak anak perempuan sekaligus menyediakan platform bagi mereka untuk berbagi dan mendapatkan dukungan.
Gabriela Pipit Lina, Program Manajer Karya Sosial Gembala Baik, menjelaskan rangkaian acara yang dimulai dengan sambutan, pembacaan puisi, dan deklarasi ini melibatkan anak-anak, orang tua, serta pemangku kepentingan yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan anak.

Ada konseling gratis hasil kerja sama dengan psikolog internal dan lembaga psikologi. Talkshow diisi oleh penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), psikolog, serta aktivis yang berbagi cara pulih dari pengalaman tersebut. Pentas kreatif juga dihadirkan dalam kegiatan ini melalui penampilan dari komunitas perempuan berkebaya dan para frater SCJ.
“Dua hari ini temanya serupa, tetapi hari pertama fokus pada keluarga dan hari kedua pada anak remaja. Kami juga mengajak anak-anak untuk mengikuti deklarasi sebagai bentuk komitmen bersama menghentikan kekerasan terhadap anak perempuan,” terang Pipit, sapaan akrabnya.
Selain sebagai momen peringatan, kegiatan ini juga memperkenalkan komunitas Gembala Baik. “Sejak tahun 1980-an, kami punya shelter untuk teman-teman yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan. Selain itu, kami mendampingi komunitas single mom dan anak-anaknya, juga melakukan pencegahan. Kami punya dampingan komunitas yang ada di Kulon Progo dan ini sudah peluang ketiga mereka membuat sistem pencegahan dan perlindungan, paling tidak di desanya,” urai Pipit.

Sejalan dengan itu, Sr. Theresia Kurniawati RGS dari Kongregasi Suster-Suster Gembala Baik menambahkan, “Sejak 2012, Gembala Baik Indonesia awal-awalnya merayakan ini secara bersama dengan anak-anak. Kebetulan, pada waktu itu saya bertugas di pedalaman Kalimantan dan mereka masih SMP dan SMA. Sekarang, mereka sudah memimpin. Ada yang menjadi guru, bidan, bekerja di pemerintahan, dan sebagainya.”
Selanjutnya, Yoseph Edy Setyoharjo, perwakilan Komisi Keluarga Kevikepan Jogja Timur, mengapresiasi kegiatan ini sebagai langkah penting dalam sosialisasi pencegahan KDRT yang masih minim diketahui masyarakat, bahkan di kampung-kampung. “Kami juga sudah menginformasikan lingkungan sekitar agar mengetahui tempat konsultasi jika menghadapi masalah KDRT maupun masalah lain,” ungkapnya.
Acara ini didukung berbagai pihak, termasuk Kevikepan Jogja Barat dan Timur, KPAI, UPTD, organisasi mahasiswa, serta NGO perlindungan perempuan dan anak. Dengan adanya talkshow dan konseling gratis ini, diharapkan kesadaran masyarakat tentang hak anak perempuan dan pencegahan kekerasan dapat makin meningkat serta memberikan dampak nyata bagi perlindungan anak perempuan di Yogyakarta.
Dina & Kezie Tsellamitha Andini Makalew








