Lokasi SDN Tambora di Desa Oi Bura, Kabupaten Bima, NTB yang terpencil di tengah perkebunan kopi, tak menyurutkan tekad seorang bapak guru muda untuk mengajar murid-muridnya.
Jarak dari rumah bapak guru itu ke sekolah sekitar 12 kilometer. Ia mesti melewati hutan untuk menuju “sekolah” sederhana tempatnya berbagi ilmu dan kasih pada murid-muridnya
Murid-muridnya berasal dari keluarga tidak mampu. Sering kali kelasnya “kosong” karena murid-muridnya memilih untuk membantu orang tuanya memetik kopi.
Pada awal hari, ketika cuaca masih teramat dingin, bapak guru itu sudah siap menunggu murid-muridnya di depan sekolah.
Pukul 07.00 tepat, lonceng berbunyi. Anak-anak berbaris di depan kelas. Di muka kelas, wajah generasi penerus bangsa itu tersenyum cerah. Secerah wajah bapak gurunya.
Mereka mencium tangan sang guru dan masuk ke ruangan kelas yang sederhana. Tempat mereka merajut mimpi mencapai cita.
Ruangan kelas itu bukanlah ruang yang biasa digunakan anak-anak di kota besar untuk belajar. Bukan ruang kelas yang nyaman dan ada pendingin ruangannya.
Ruang kelas itu berdinding kayu yang sudah lapuk. Papan tulisnya masih menggunakan blackboard dengan kapur, bukan whiteboard dengan spidol yang bersih itu.
Di meja bapak guru itu, ada buku-buku pelajaran yang sudah usang. Beberapa di antaranya isinya sudah luntur karena tergenang air saat banjir. Buku-buku itulah yang menjadi “jembatan” murid-murid untuk menggapai cita.
Mereka bersemangat belajar dengan dibimbing guru muda yang penuh semangat. “Penyala Lentera” yang rela mengabdikan diri untuk anak-anak Indonesia yang tinggal di daerah pedalaman.
Kehadirannya laksana lilin yang menerangi kegelapan malam. Kehadirannya selalu ditunggu karena memberikan harapan. Ya, harapan untuk merenda hidup yang lebih baik. Murid-muridnya banyak yang bercita-cita menjadi guru karena terinspirasi olehnya.
Seorang wartawan bertanya pada sang guru itu, “Sampai kapan Bapak bertahan di tengah hutan ini dengan kondisi yang serba terbatas?”
Mata sang guru itu menerawang jauh ke depan saat ia berkata, “Saya bertahan sampai Tuhan memanggil saya pulang.”
“Selamat Hari Guru”
Ivonne Suryanto














