Permainan Tradisional Mengikis Candu Gawai

Pelita775 Views

Pada era teknologi informasi seperti sekarang, banyak hal mampu memengaruhi anak, salah satunya penggunaan gawai. Seorang anak lebih banyak dekat dengan alat komunikasi dalam kehidupannya dibanding orang tua. Gawai, ibarat dua sisi mata uang, ada nilai positif dan negatifnya bagi anak zaman sekarang.

Modernisasi bidang informasi, diartikan perubahan total dari masyarakat miskin informasi menuju masyarakat yang kaya informasi. Lajunya arus informasi menjadi penyebab pergeseran sistem nilai masyarakat sehingga banyak anak tersandera gawai dan mengganggu anak saat berada di manapun. Maraknya bentuk kekerasan atau perundungan di lingkungan sekolah, salah satu indikatornya karena seorang anak banyak menirukan apa yang dilihatnya di layar gawai.

Bentuk kecanduan gawai yang berlebihan tidak hanya memicu gangguan kesehatan seperti mata, tetapi juga memengaruhi sisi emosional anak. Maka, orang tua dan pendidik kiranya perlu dilibatkan untuk memberikan contoh yang benar, kapan harus menggunakan gawai atau mengurangi (melepas) gawai dalam keseharian anak.

Penelitian menyatakan, keseringan bermain gawai bisa membuat anak menjadi egoistis hingga sulit berinteraksi dengan lingkungan. Tidak mudah memang untuk melarang anak bermain gawai, tetapi paling tidak mengurangi jam mereka terpapar layar gawai di kesehariannya dengan menyibukkan anak melalui kegiatan yang menyenangkan. Maka, perlu dicari solusi dengan cara pendekatan budaya yang akrab dengan keseharian kita. Salah satunya dengan bentuk permainan anak, yang juga merupakan budaya asli Indonesia.

Kekuatan dolanan tradisional anak

Bentuk permainan anak konon bermanfaat bagi perkembangan kemampuan motorik kasar anak, sekaligus juga perkembangan kejiwaan anak (Prof. Dr. Singgih D. Gunawan, 2006). Permainan tradisional yang mengajak anak-anak bermain dengan temannya dapat menghentikan sejenak keasyikan permainan gawai. Tujuannya memberi tempat bagi anak bermain permainan tradisional yang sekarang mulai langka, sekaligus memberikan hiburan menyenangkan bagi anak.

Secara umum, permainan tradisional anak dapat membantu anak dalam menjalin relasi sosial, baik teman sebayanya maupun teman yang usianya lebih muda ataupun lebih tua. Permainan anak juga dapat melatih manajemen konflik dan belajar mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Permainan anak membuat jiwa anak akan terlihat secara utuh dan membangun suasana keceriaan yang dari permainan anak. Di samping melahirkan dan menghasilkan kebersamaan yang menyenangkan, dari permainan ini keterampilan anak terasah sehingga melahirkan penghayatan kenyataan hidup, dapat membantu mengembangkan diri sesuai dengan pertumbuhan jiwanya, sekaligus merawat dan merekatkan interaksi sosial anak-anak. Permainan anak banyak yang seru, seperti jamuran, engklek, gobag sodor, jethungan, dan lainnya.

Jamuran, misalnya, adalah permainan folklore, terdiri dari kombinasi lagu dan gerak. Biasanya ditembangkan anak disertai dengan gerak. Folklore disampaikan turun temurun secara lisan, didalamnya terkandung ajaran nilai, pepatah leluhur, menumbuhkan rasa kebersamaan, keberanian, ajaran etika, tidak egoistis, tolong-menolong, cinta tanah air, dan masih banyak lagi lainnya (Triyono Bramantyo, 2000).

Permainan anak bisa jadi alternatif aktivitas fisik anak. Selain mengembangkan kemampuan motorik, juga melatih kreativitas, mengembangkan kecerdasan sosial dan emosional, mendekatkan anak dengan alam, dan meningkatkan konsentrasi anak, bahkan juga sebagai media terapi anak (Mayke S. Tedjasaputra, 2001).

Nyanyian pada permainan anak dapat jadi sarana pendidikan karakter, karena syair akan membekas pada batin anak. Secara khusus, syair bisa mengajarkan soal interpersonal dan intrapersonal anak. Meskipun banyak memberikan manfaat, sekarang sudah jarang dimainkan, karena banyaknya alternatif permainan modern dan menarik serta bersifat kekinian.

Kiranya cukup elok bila mulai sekarang pemerintah mulai memikiran adanya ruang ideal, untuk kegiatan bermain bagi anak, karena kian sempitnya lahan bermain bagi anak. Dari segi pendidikan, tingkat dasar sampai menengah pun, hendaknya mulai aktif digaungkan serta digerakkan lagi permainan tradisional anak dalam kegiatan di sekolah sebagai wujud cinta budaya daerah. Melalui permainan anak, niscaya dapat meminimalkan kecanduan pada gawai, demi tumbuh kembangnya anak sesuai dengan dunianya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *