Pembentukan Karakter Generasi Muda, Proses Memahami Hidup Beragama

Jendela611 Views

Di dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah bersosialisasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini dapat dilihat ketika suatu kelompok masyarakat dapat menjalani kegiatannya dengan interaktif satu sama lain.

Dari proses tersebut dapat dikatakan bahwa menjadi pribadi yang individualis memang sangat tidak disarankan sehingga kolaborasi dengan orang-orang di sekitar menjadi hal yang sangat penting. Dengan adanya kolaborasi satu sama lain, seseorang semakin dimampukan untuk belajar bersama dan berdinamika seturut dengan aspek-aspek yang mendukung perkembangan dirinya.

Seseorang pasti memiliki cara tersendiri untuk dekat dan merasa nyaman hidup di tengah-tengah masyarakat yang memiliki suku, agama, budaya, ras, dan berbagai aspek lainnya.

Kehidupan seseorang selalu diliputi dengan keagamaan dan perjuangan untuk saling memahami. Dari sini dapat dikatakan bahwa fokus yang ingin ditekankan tidak hanya pada segi intelektual atau kepribadiannya, tetapi hidup moral sosial seseorang kepada semua orang yang ada di sekitarnya.

Dinamika kehidupan antarumat beragama sangat terlihat melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat di suatu lingkungan di dalamnya. Ketika berdinamika dengan umat yang memiliki kepercayaan tertentu pasti terdapat jarak-jarak yang sekiranya dapat memisahkan setiap pribadinya, entah merasa canggung karena belum kenal dan baru bertemu atau tidak ada bahan pembicaraan untuk dibicarakan satu sama lain.

Saya merasa bahwa kehidupan pada zaman ini memang terus mengalami perkembangan yang begitu pesat. Hal ini dapat dilihat dari cara bersosialisasi seseorang melalui berbagai media, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Perkembangan tersebut diikuti dengan praktik keagamaan yang sering kali mewarnai kehidupan sehari-hari. Saya merasa kehidupan beragama dapat dilaksanakan melalui berbagai aspek kegiatan yang dilakukan oleh beberapa orang tertentu.

Saya juga tertarik dengan kehidupan antarumat beragama yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa yang dilakukan bukan suatu hal yang mustahil, tetapi suatu kenyataan yang harus dihadapi seiring berjalannya waktu.

Dari sini saya menganggap bahwa pembentukan karakter dalam masing-masing pribadi setiap orang memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Secara khusus, saya meggunakan gagasan yang diberikan oleh Thomas Lickona sebagai pokok pemikiran mengenai pembentukan karakter. Thomas Lickona adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan seorang profesor dalam bidang pendidikan di State University of New York.

Gagasan konsep yang ditawarkan biasanya berasal dari pengertian yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Secara umum konsep tersebut mengarah pada karakter positif yang dibangun oleh seseorang, yang diawali dengan knowing (mengetahui), filling (mengisi), dan action (aksi).[1]

Dengan diberikannya ketiga aspek tersebut, Thomas Lickona mengharapkan pribadi-pribadi yang dibentuk memiliki karakter agar semakin memanusiakan manusia yang ada di sekitarnya dan bersikap dewasa terhadap berbagai situasi serta kondisi yang terjadi.

Di samping itu, nilai-nilai pembentukan karakter yang diberikan terdiri dari dua bagian, yaitu karakter utama dan karakter inti. Karakter utama berdasarkan pemikiran dari Thomas Lickona adalah kejujuran, belas kasih, kegagahberanian, kasih sayang, kontrol diri, kerja sama, dan kerja keras. Namun, karakter inti berdasarkan pemikiran dari Thomas Lickona adalah tanggung jawab, rasa hormat, keadilan, keberanian, belas kasih, kewarganegaraan, disiplin, peduli, dan ketekunan.[2]

Tata pelaksanaan yang digunakan oleh Thomas Lickona mendukung terjadinya pembentukan karakter tersebut memiliki perbedaan satu sama lain. Thomas Lickona memberikannya dengan cara menjalin relasi atau hubungan yang baik antara orang tua dengan lingkup sekolahnya.

Hal ini bertujuan agar semakin memiliki kesamaan pandangan untuk saling membangun dan mendorong pihak-pihak tertentu dalam penerapan nilai-nilai karakter yang diberikan. Pandangan dari Thomas Lickona tersebut sangat penting untuk diberikan pada setiap orang agar dapat memiliki karakter yang beradab dan berakhlak terhadap lingkungan sekitarnya.

Dengan diberikan pandangan baru mengenai pembentukan karakter untuk kaum muda, harapannya setiap pribadinya mampu memiliki kepribadian yang selaras dengan nilai-nilai yang telah diberikan. Dalam menjalani kehidupan sebagai masyarakat Indonesia, moderasi beragama menjadi sebuah konsep yang sangat relevan untuk dijalani.

Moderasi beragama bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok agama tertentu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga negara Indonesia.[3] Setiap masyarakat Indonesia mampu menciptakan masyarakat yang saling menghormati, memahami, dan hidup dalam kerukunan, yaitu dengan cara mempraktikkan nilai-nilai Pancasila yang menganut prinsip Ketuhanan yang Maha Esa dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pembentukan karakter yang diberikan tidak hanya untuk kaum muda secara umum, tetapi secara khusus juga dapat diberikan bagi para seminaris Seminari Mertoyudan. Dengan dasar yang disampaikan oleh Thomas Lickona, para seminaris diharapkan semakin memiliki karakter yang sesuai dengan arah pembentukan karakter dalam kehidupannya.

Jika para seminaris ingin menjadi pribadi yang memiliki karakter yang baik, pentingnya keterbukaan diri untuk mau dibentuk oleh lingkungan sekitar maupun dari diri sendiri. Dari situlah setiap pribadinya memiliki karakter yang nantinya akan digunakan untuk menghadapi situasi dan kondisi yang terjadi ketika kelak menjadi imam Gereja Katolik di masa yang akan datang.

Menurut saya, para seminaris sangat perlu untuk memosisikan dirinya pada sudut pandang yang akan didapatkan ke depannya. Relevansi pembentukan karakter bagi seminaris Seminari Mertoyudan memiliki kesinambungan terhadap berbagai aspek yang ada di dalamnya, terkhusus meliputi aspek pembinaan sebagai fondasi dasar di seminari, yaitu yang ditunjukkan melalui nilai 3S, yakni Sanctitas (kerohanian), Scientia (pengetahuan), dan Sanitas (kesehatan).

Selama menjalani pendidikan di Seminari Mertoyudan, para seminaris mungkin tidak dapat merasakan hasilnya secara penuh. Namun, ketika nanti sudah lulus atau pindah ke sekolah lainnya, pasti setiap pribadinya akan merasakan betapa besar hasil yang didapatkan.

Kehidupan manusia tidak lepas dengan pendidikan. Pendidikan yang ingin dituju adalah sikap para generasi muda saat ini yang diharapkan mampu untuk dapat memahami konsep hidup beragama. Pendidikan merupakan salah satu aspek pembentuk kepribadian setiap orang yang pada akhirnya menjadi penentu di dalam memperoleh karier yang layak.

Pendidikan tersebut dapat diberikan jika setiap orang dapat melakukan setiap kegiatannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Kebebasan di dalam menentukan kehendak juga sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang sehingga selama proses pembentukan karakter yang dijalani tidak adanya paksaan tetapi sesuai dengan keinginan atau berasal dari dorongan dalam diri sendiri. Sikap yang diharapkan tumbuh dalam diri orang yang diberikan pembentukan karakter adalah menjadi pribadi yang dapat mengimplementasikan berbagai konsep karakter dan semakin mampu untuk mengontrol diri sendiri, terkhusus di dalam bertindak dan memahami hidup beragama.

Di dalam menjalani pembentukan karakter dalam diri setiap orang, sangat penting bagi seseorang tetap menghadirkan Tuhan selama prosesnya. Hal ini dikarenakan semua tindakan yang tidak menghadirkan Tuhan di dalam prosesnya, hasil yang didapatkan juga tidak sesuai dengan yang diinginkan. Relasi yang dijalin kepada Tuhan dan orang-orang di sekitar harus memiliki keseimbangan yang sesuai.

Filipus Agung Nugroho (Seminaris Tahun Keempat SMA Seminari Mertoyudan)


[1] Intan Sri Wardani, Ali Formen dan Mulawarman, Perbandingan Konsep Thomas Lickona dan Ki Hadjar Dewantara dalam Nilai Karakter Pada Ranah Pendidikan Anak Usia Dini Serta Relevansinya di Era Globalisasi, Universitas Negeri Semarang (2020): 460.

[2] Intan Sri Wardani, Ali Formen dan Mulawarman, “Perbandingan Konsep Thomas Lickona dan Ki Hadjar Dewantara dalam Nilai Karakter Pada Ranah Pendidikan Anak Usia Dini Serta Relevansinya di Era Globalisasi,” Universitas Negeri Semarang (2020): 460.

[3] Soleman G. Sipkely,” Moderasi Beragama : Wadah Membangun Indonesia yang Maju dan Harmonis,” Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri Sentani (2023).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *