Gereja “Muda”, Masa Depan Wajah Bumi yang Ekologis

Jendela708 Views

Bumi saat ini mengalami darurat lingkungan yang mengancam sebagian besar generasi sekarang dan mendatang. Hal itu ditandai dengan maraknya bencana alam yang terjadi. Tahun 2023, lebih dari 5.000 bencana alam terjadi di tanah Ibu Pertiwi, mulai dari banjir, kebakaran hutan, longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem. Tanah yang dulu berlimpah manfaat, kini berubah menjadi tanah yang penuh dengan becana dan malapetaka bagi penghuninya.

Bencana lingkungan semakin menjadi perhatian kita bersama, terutama generasi muda, karena di tangan merekalah bumi berharap. Badan Pusat Statistik (BPS) mengestimasi, sebanyak 64,16 juta pemuda di Indonesia pada 2023 setara dengan 23,18% dari total penduduk Indonesia.

Pemuda merupakan harapan bangsa dan masa depan bangsa. Di tangan mereka masa depan bangsa dan bumi ini dipertaruhkan. Apakah sanggup mereka mengemban tugas mulia ini, untuk mempersiapkan lingkungan alam yang layak di masa depan? Atau, malah hanya dapat memperburuk keadaan dengan maraknya bencana alamyang terjadi.

Berkaca pada kehidupan modern umat manusia saat ini, maklumlah bila terjadi krisis lingkungan alam yang gencar-gencarnya. Mengapa demikian? Karena kebutuhan manusia yang tak pernah tercukupi dan pola pikir manusia yang selalu merasa kurang sehingga timbullah pencemaran lingkungan alam.

Pencemaran lingkungan alam yang dilakukan manusia semata-mata dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang tak ada habisnya serta budaya konsumerisme yang berlebihan dapat menghabisi lingkungan alam itu sendiri. Contohnya penebangan liar yang dilakukan di hutan, limbah-limbah pabrik yang tidak terurai di alam, polusi udara yang dihasilkan kendaraan bermotor, dan sampah.

Terdapat 2.000 kasus kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia pada tahun 2023 menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Hal itu disebabkan oleh maraknya penebangan liar yang dibiarkan bebas begitu saja tanpa ada regulasi dan perlindungan hutan dari pemerintah. Seakan-akan pemerintah menelantarkan aset bumi pertiwi hanya untuk ketamakan manusia semata yang pada akhirnya berujung pada bencana-bencana yang kian memburuk.

Bumi sebagai rumah

Saat ini bumi mengalami krisis ekologi yang tidak kunjung berhenti. Manusia, jelas ikut berperan dan terlibat dalam permasalahan ini karena manusia perlu memanfaatkan sumber daya alam di bumi untuk bertahan hidup. Sebagian manusia merasa punya tanggung jawab untuk merawat lingkungan hidup, tetapi ada juga sebagian manusia yang justru malah merusak dan mengeksploitasi sumber daya alam di bumi secara berlebihan yang membuat krisis ekologi.

Krisis ekologi tersebut terjadi akibat ulah manusia yang tidak bijaksana dalam mengolah bumi dan malah merugikan lingkungan. Pada masa modern ini, banyak kegiatan manusia yang merugikan lingkungan seperti penebangan hutan secara liar, membuang limbah tidak terolah, dan konsumerisme berlebihan atau tidak beretika.

Aktifitas itu perlahan membuat bumi dari tahun ke tahun semakin rusak dan tidak asri. Hal itu dapat berdampak luas ke seluruh penjuru bumi, jika tidak segera diatasi mungkin kondisi bumi akan semakin parah.

Pelaku utama yang mencemari air tidak lain manusia sendiri. Manusia sudah mengeksploitasi planet bumi melebihi batas maksimal serta menciptakan kebiasaan boros dan membuang. Ambil saja satu contoh permasalahan, misalnya masalah air menjadi masalah serius di bumi karena mengancam kesehatan umat manusia, terutama kehidupan orang-orang miskin. Kualitas air yang buruk menyebabkan kematian setiap harinya, terutama bagi orang miskin papa yang tidak mampu untuk membeli air bersih.[1]

Gereja dan krisis ekologi

Hadirlah Ensilklik Laudato Si’ yang ditulis oleh Paus Fransiskus sebagai tanggapan Gereja Katolik terhadap krisis ekologi saat ini yang semakin marak terjadi. Paus Fransiskus dalam pewartaannya kepada umat seluruh dunia saat audiensi umum mengungkapkan keresahan dan keprihatinannya mengenai budaya “membuang” yang sangat akut yang dilakukan banyak orang.[2]

Menurutnya, budaya ini merupakan cikal bakal pencemaran yang mengakibatkan lingkungan rusak, banyak orang-orang yang tidak lagi peka dengan pemborosan dan pencemaran sebagai sesuatu hal yang buruk.[3]

Paus juga mendorong kesadaran akan budaya “membuang” ini supaya dikurangi[4] untuk mendorong semua orang peduli dan peka terhadap sesama manusia sekaligus merawat seluruh ciptaan[5] lewat model sirkular produksi, yang mampu melestarikan sumber-sumber daya untuk generasi sekarang dan mendatang

Krisis ekologis ini terjadi secara universal di bumi dan menjadi keprihatinan bersama bagi manusia dan juga para pemimpin agama termasuk Paus Fransiskus (ELS 7)[6]. Permasalahan krisis ekologi ini harus segera diperbaiki bersama-sama secara universal untuk dampak yang menyeluruh bagi semua makhluk hidup di bumi.

Perlu adanya kolaborasi dan kerja sama dalam memperbaiki krisis ekologis. Paus Fransiskus telah menanggapi krisis ekologi ini, yakni diperlukan cara dan pemikiran melalui dialog dan kerja sama dalam merawat bumi (ELS 14)[7]

Gaungan ajakan Gereja

Gereja Katolik ikut berperan dalam menghadapi krisis ekologi dengan mengajak masyarakat secara universal untuk merawat lingkungan hidup. Vatikan memproduksi film mengenai dialog Paus Fransiskus dengan korban krisis lingkungan yang terjadi.

Film ini diproduksi untuk sarana warta kabar sukacita Gereja untuk menyelamakan lingkungan hidup kepada seluruh golongan, terkhusus generasi muda. Film berjudul The Later: a Message for Our Earth berisi dialog Paus Fransiskus dengan lima orang aktivis lingkungan dari latar belakang yang berbeda-beda, mewakili suara masyarakat dunia mengenai rusaknya lingkungan hidup di masa modern ini.

Pada saat dialog, Paus Fransiskus mengibaratkan pandangannya mengenai lingkungan hidup saat ini seperti membangun menara Babel, kesombongan manusia. Seolah-olah ungkapannya berasumsi pada kegiatan “membuang” dan “mencemari” lingkungan hidup dengan tidak ada lagi kesadaran ekologis. Oleh karena ini, Paus Fransiskus menegaskan untuk berhenti menyakiti bumi dengan tindakan-tindakan merusak lingkungan.[8]

Paus Fransiskus juga menyadarkan umat manusia lewat Ensiklik Laudato Si’ bahwa sejatinya manusia sebagai makhluk ciptaan yang mempunyai akal dan budi diberi mandat dan tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan bumi, lingkungan alam, rumah manusia.

Generasi saat ini perlu untuk mempersiapkan generasi muda untuk menjadi pionir utama pada masa kini. Mereka yang “muda” dilatih untuk dapat tangguh, sanggup, dan mampu untuk melanjutkan misi penyelamatan bumi dari krisis ekologi.[9]

Hal itu diharapkan supaya generasi muda selanjutnya di masa depan secara progresif dapat terus menikmati bumi sebagai tempat tinggal manusia yang orisinal dan asri.

Relevansi untuk kaum muda

Oleh karena itu, kaum muda selalu menjadi harapan masa depan bumi untuk terus melestarikan dan merawat bumi dari kepunahan. Di tangan kaum muda, masa depan bumi dipertaruhkan.

Gereja Katolik sudah mengajak umat universal untuk melihat kenyataannya yang pahit, dan kenyataan itu perlu diperbaiki serta dirawat kembali. Hal ini bisa menciptakan iklim dan suasana Gereja “Muda” yang terdiri dari kawula muda umat Katolik, bukan menciptakan generasi yang apatis terhadap krisis ekologi.

Paus Fransiskus sudah memelopori mewartakan kabar keselamatan lingkungan hidup. Para pemuda perlu mewujudkan kabar keselamatan itu dengan tindakan konkret. Jadi, pertanyaan refleksi untuk pembaca: sampai mana dirimu sudah menghayati Kerajaan Allah melalui lingkungan alam?

Mikhael Noven Dewandaru (Seminaris Tahun Keempat Seminari Mertoyudan)


[1]           Fransiskus, Laudato Si’ (24 Mei 2015, art. 27 (terj. Martin Harun OFM, Jakarta: Obor, 2015).

[2]           Fransiskus, Laudato Si’ (24 Mei 2015, art. 20 (terj. Martin Harun OFM, Jakarta: Obor, 2015).

[3]           Fransiskus, Laudato Si’ (24 Mei 2015, art. 20 (terj. Martin Harun OFM, Jakarta: Obor, 2015).

[4]           Fransiskus, Laudato Si’ (24 Mei 2015, art. 22 (terj. Martin Harun OFM, Jakarta: Obor, 2015).

[5]           Purwa Hadiwardoyo, MSF, Teologi Ramah Lingkungan, 31.

[6]           Fransiskus, Laudato Si’ (24 Mei 2015, art. 7 (terj. Martin Harun OFM, Jakarta: Obor,2015).

[7]           Fransiskus, Laudato Si’ (24 Mei 2015, art. 14 (terj. Martin Harun OFM, Jakarta: Obor,2015).

[8]           Film “The Later: A Message for Our Earth”, Off the Fence et Laudato Si’ Movement, 2022.

[9]         Fransiskus, Laudato Si’ (24 Mei 2015, art. 160 (terj. Martin Harun OFM, Jakarta: Obor, 2015).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *