Pemimpin Sukses Bukan Banyak Protes, Tetapi Banyak Proses

Kepemimpinan tidak pertama-tama dimulai dari kemampuan memimpin orang lain. Ia bermula dari keberanian seseorang untuk mengenal dirinya sendiri, menyadari kekuatan dan kelemahannya, kemudian memilih untuk bertumbuh dan melayani.

Semangat itulah yang menjadi roh pelaksanaan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS dan Dewan Penggalang SMP Pangudi Luhur Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah pada Jumat, 25 September 2026.

Mengusung tema “Pemimpin Penggerak Perubahan”, kegiatan LDK ini menjadi ruang bagi para pengurus OSIS dan Dewan Penggalang untuk belajar bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar memiliki jabatan atau kemampuan mengatur orang lain.

Kepemimpinan justru diwujudkan melalui keteladanan, pelayanan, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kesediaan menggerakkan perubahan positif bagi diri sendiri dan lingkungan.

Konsep LDK SMP Pangudi Luhur Gantiwarno menempatkan Yesus sebagai teladan kepemimpinan yang tangguh dan inspiratif. Para peserta diajak memahami bahwa seorang pemimpin perlu terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri sebelum dipercaya memimpin orang lain. Karena itu, pembentukan pemimpin diarahkan pada keseimbangan olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak.

LDK menjadi ruang bagi para siswa untuk belajar mengenal diri, menghadapi tantangan, bekerja sama, dan bertanggung jawab atas pilihan yang mereka ambil.
Mengenal diri sebelum memimpin

Proses LDK sesungguhnya telah dimulai beberapa hari sebelumnya. Pada Senin, 21 September 2026, para pengurus OSIS dan Dewan Penggalang mengikuti Pra LDK yang menjadi tahap awal untuk mempersiapkan diri memasuki seluruh dinamika kegiatan.

Dalam Pra LDK, peserta diajak mengenal diri melalui pendekatan Jendela Johari dengan semangat “Kenali Dirimu, Kenali Temanmu”. Pendekatan ini membantu peserta memahami bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri sekaligus bagaimana dirinya dipandang oleh orang lain.

Melalui keterbukaan dan umpan balik, peserta diajak menemukan kekuatan, kelemahan, potensi, serta hal-hal dalam dirinya yang mungkin selama ini belum disadari.

Selain mengenal diri, Pra LDK juga digunakan untuk menjelaskan proses dan dinamika kegiatan, pembagian kelompok, serta penugasan pribadi dan kelompok yang harus dipersiapkan peserta. Dengan demikian, peserta tidak datang ke LDK hanya sebagai penerima materi, tetapi telah dipersiapkan untuk terlibat aktif dalam seluruh proses.

Kepala SMP Pangudi Luhur Gantiwarno, Chatarina Tri Murbani, S.Pd., melihat LDK sebagai bagian penting dari proses pendidikan karakter di sekolah. Dalam kerangka pendidikan Pangudi Luhur, pembentukan pemimpin tidak dapat dilepaskan dari semangat sekolah, yakni “Santun dalam Perilaku, Unggul dalam Prestasi”.

Murbani menegaskan bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal mencapai keberhasilan, tetapi juga kesediaan menjalani proses dengan tekun. “Menjadi pemimpin harus bisa sukses. Namun, sukses itu bukan berarti banyak protes, melainkan banyak proses. Setiap keberhasilan membutuhkan perjuangan, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman,” ungkapnya.

Menurutnya, proses dalam LDK menjadi ruang bagi para siswa untuk belajar mengenal diri, menghadapi tantangan, bekerja sama, dan bertanggung jawab atas pilihan yang mereka ambil.

Kesantunan, dalam konsep LDK ini, bukan sekadar tata krama, melainkan sikap hidup yang tercermin dalam cara peserta didik berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak. Sementara keunggulan dalam prestasi diarahkan agar peserta didik mampu mengembangkan potensi akademik maupun nonakademiknya secara optimal.

Karena itu, melalui LDK, sekolah ingin membentuk pengurus OSIS dan Dewan Penggalang yang tidak hanya mampu menjalankan program organisasi, tetapi juga memiliki hati nurani, kepedulian, tanggung jawab, kemandirian, kerendahan hati, dan kesediaan untuk terus belajar.

Kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memimpin orang lain, tetapi keberanian untuk terus bertumbuh dan menggunakan diri bagi kepentingan bersama.
Kepemimpinan yang berakar pada pelayanan

Dalam pelaksanaan LDK ini, Rm. Harry Setianto Sunaryo, SJ, Pamong SMA Kolese De Britto (Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan), hadir sebagai salah satu narasumber bersama Chr. Danang Wahyu P., S.Or., M.M., pendidik SMA Kolese De Britto yang selama ini aktif mendampingi berbagai kegiatan pembinaan kepemimpinan OSIS dan siswa di berbagai lembaga pendidikan.

Rm. Harry mengajak para peserta untuk berani keluar dari zona nyaman. “Dalam latihan kepemimpinan, kita harus berani keluar dari zona nyaman. Kita tidak akan bertumbuh kalau hanya memilih berada di tempat yang aman dan nyaman. Justru melalui tantangan, kesulitan, dan pengalaman baru, kita belajar mengenal kemampuan diri dan menemukan keberanian untuk berkembang,” tuturnya.

Baginya, kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memimpin orang lain, tetapi keberanian untuk terus bertumbuh dan menggunakan diri bagi kepentingan bersama.

Kehadiran pendidik SMA Kolese De Britto dalam kegiatan ini menjadi bagian dari semangat membangun jejaring dan berbagi pengalaman pembentukan kaum muda. Kolaborasi antarsekolah tidak berhenti pada hubungan kelembagaan, tetapi diwujudkan melalui perjumpaan, pendampingan, dan berbagi praktik baik pendidikan.

Senada dengan yang disampaikan Rm, Harry, Danang menyampaikan proses pembentukan pemimpin muda perlu diarahkan agar peserta tidak berhenti pada kemampuan teknis berorganisasi. “Kepemimpinan harus berakar pada kesadaran bahwa setiap kemampuan yang dimiliki pada akhirnya dipanggil untuk digunakan bagi orang lain,” ungkapnya.

Gagasan tersebut sejalan dengan konsep kepemimpinan Kepangudiluhuran yang menjadi salah satu fondasi LDK. Kepemimpinan tidak dipahami terutama sebagai jabatan, kekuasaan, atau kemampuan mengatur orang lain, tetapi sebagai cara hadir, melayani, memanusiakan, mengembangkan, dan menggerakkan orang lain menuju kebaikan bersama.

Dalam perspektif tersebut, para peserta diperkenalkan dengan empat keutamaan Mgr. Ludovicus Rutten, yakni berorientasi kepada Allah, kegigihan, pengorbanan diri, dan pertobatan. Keempat nilai tersebut tidak hanya dipelajari secara teoretis, tetapi dihidupkan melalui berbagai dinamika selama LDK.

Peserta juga diajak mengenal nilai-nilai 10 Keutamaan Bruder Bernadus Hocken, antara lain percaya kepada Tuhan, rendah hati, melayani dengan tulus, penyerahan diri, keteguhan hati, kewaspadaan, kebijaksanaan, kerja sama dalam komunitas, kehidupan doa, serta kehidupan rohani.

Dari memahami orang lain, tumbuh kepedulian, dari kepedulian lahir pelayanan, dan dari pelayanan, seorang pemimpin mulai menghadirkan perubahan.
Belajar memimpin melalui pengalaman

LDK tidak dirancang sebagai kegiatan satu arah, melainkan para peserta mengalami sendiri proses kepemimpinan melalui berbagai dinamika. Salah satunya adalah wide game, yang mengajak peserta bekerja dalam kelompok untuk memecahkan persoalan, membangun strategi, berkomunikasi, dan mengambil keputusan bersama.

Salah satu dinamika berupa pengibaran Bendera Merah Putih menjadi sarana untuk melihat bagaimana sebuah kelompok membangun kerja sama. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh proses komunikasi, kreativitas, pembagian peran, tanggung jawab, dan kekompakan kelompok.

Peserta juga mengikuti public speaking melalui orasi dengan tema besarnya tentang lingkungan hidup. Melalui kegiatan ini, peserta dilatih menyampaikan gagasan secara percaya diri sekaligus mengajak orang lain melakukan perubahan positif.

Nilai-nilai Kepangudiluhuran kemudian dihidupkan melalui teater mini, dengan membagi dalam empat kelompok berdasarkan nilai; kepekaan, kegigihan, pengorbanan, dan pertobatan yang diterjemahkan ke dalam cerita dan tindakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai tidak berhenti menjadi kata-kata, tetapi dicoba untuk dihadirkan dalam pengalaman konkret.

Proses pendalaman juga dilakukan melalui Examen dan Sharing Tiga Putaran. Dalam Examen, peserta diajak melihat kembali perjalanan hari, mensyukuri pengalaman, menyadari kelemahan, memohon pengampunan, dan menentukan langkah perbaikan. Sementara Sharing Tiga Putaran memberikan ruang bagi peserta untuk berbicara, mendengarkan, memahami pengalaman orang lain, dan menemukan pembelajaran bersama.

Pendampingan kepemimpinan tidak cukup dilakukan melalui ceramah, tetapi membutuhkan pengalaman, refleksi, dialog, dan tindakan.
3B: Berkolaborasi, Berkontribusi, Berprestasi

Kolaborasi antara SMP Pangudi Luhur Gantiwarno dan SMA Kolese De Britto dalam kegiatan ini sekaligus menjadi salah satu bentuk konkret semangat 3B: Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi yang dikembangkan SMA Kolese De Britto.

Berkolaborasi berarti membuka ruang perjumpaan dan belajar bersama. Berkontribusi berarti menghadirkan kemampuan yang dimiliki untuk mendukung pertumbuhan orang lain. Sementara berprestasi tidak semata-mata berarti memperoleh hasil terbaik, tetapi memberikan usaha terbaik melalui proses yang tekun, bertanggung jawab, dan bermakna.

Dalam konteks yang lebih luas, kolaborasi ini dapat ditempatkan sebagai wujud konkret semangat Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS), terutama dalam membangun jejaring pendidikan dan berjalan bersama dalam mendampingi generasi muda.

Pendidikan tidak berhenti pada batas satu sekolah, melainkan sekolah-sekolah dalam jejaring pendidikan Katolik dipanggil untuk saling berbagi, saling menguatkan, dan bersama-sama menghadirkan pendidikan yang memerdekakan serta membentuk pribadi yang utuh.

Danang menyatakan, keterlibatan dalam LDK menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman sekaligus belajar bersama. Pendampingan kepemimpinan tidak cukup dilakukan melalui ceramah, tetapi membutuhkan pengalaman, refleksi, dialog, dan tindakan. Karena itu, LDK dirancang agar peserta mengalami sendiri dinamika menjadi pemimpin sebelum kemudian merefleksikan apa yang terjadi dalam dirinya.

Keterlibatan dalam LDK menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman sekaligus belajar bersama.
Dari LDK menuju perubahan nyata

Akhirnya, keberhasilan LDK bukan hanya terlihat dari kemampuan peserta menjalankan kegiatan OSIS dan Dewan Penggalang setelah pelatihan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pengalaman tersebut mampu melahirkan perubahan dalam diri.

Konsep LDK SMP Pangudi Luhur Gantiwarno menegaskan bahwa peserta perlu melakukan pengendapan pengalaman dan menentukan niat perubahan hidup setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Mereka diajak tidak hanya bertanya, “Apa yang saya lakukan selama LDK?”, tetapi lebih dalam bertanya, “Apa yang terjadi dalam diriku melalui semua pengalaman itu?”

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kepemimpinan pada akhirnya adalah perjalanan pembentukan diri. Seorang pemimpin yang mampu menggerakkan perubahan adalah pribadi yang berani melihat dirinya secara jujur, bersedia belajar dari pengalaman, mampu mendengarkan, berani mengambil keputusan, dan siap bertanggung jawab atas pilihannya.

LDK OSIS dan Dewan Penggalang SMP Pangudi Luhur Gantiwarno pun menjadi sebuah ruang belajar bersama bahwa perubahan besar dapat dimulai dari perubahan kecil dalam diri yaitu dengan mengenal diri sehingga seseorang belajar memahami orang lain.

Dari memahami orang lain, tumbuh kepedulian, dari kepedulian lahir pelayanan, dan dari pelayanan, seorang pemimpin mulai menghadirkan perubahan. Sebab pada akhirnya, seperti semangat yang dirumuskan dalam konsep LDK ini, “Pemimpin Penggerak Perubahan” bukanlah pemimpin yang paling banyak berbicara, melainkan mereka yang berani memulai perubahan dari dirinya sendiri dan menghadirkan kebaikan bagi sesamanya demi kemuliaan Allah yang lebih besar (AMDG).

Chr. Danang Wahyu Prasetio
Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *