Perziarahan hari ini membawa saya ke sebuah kota kecil di Spanyol, Loyola. Loyola adalah kota tempat kelahiran St. Ignasius. St. Ignasius merupakan pendiri Serikat Yesus dan pembaharu besar dalam sejarah hidup rohani Katolik. Bagi saya pribadi, St. Ignasius adalah santo pelindung yang membimbing dalam kehidupan ini.
Masih terngiang lagu “Datanglah, Tuhan, datanglah”, yang dilantunkan beberapa hari yang lalu. Muncul suatu kegelisahan dalam diri ini. Bila Allah ada pada segala sesuatu yang ada di semesta, mengapa kita masih merindukan kedatangan-Nya Jika Allah sungguh Mahahadir dan Mahakasih, mengapa kita sering merasa harus mencari dan menanti kehadiran-Nya, seolah-olah Ia jauh dan tersembunyi?
Allah Tidak Datang Karena Dicari
Kegelisahan ini membuat saya masuk lebih dalam ke ruang batin. Kehadiran Allah bukanlah sesuatu yang hanya muncul saat dicari, melainkan sesuatu yang senantiasa berlangsung, bahkan saat kita tidak menyadari.
St. Ignasius mengajarkan bahwa Allah dapat ditemukan dalam segala hal. Beliau mengajak kita melihat bahwa Allah tidak hanya hadir pada ziarah ini, di gereja atau dalam doa resmi. Dalam hidup sehari-hari pun, kehadiran-Nya dapat dikenali. Allah hadir dalam percakapan sederhana, dalam kerja dan kelelahan, dalam pengambilan keputusan, bahkan dalam ketegangan dan kebingungan.
Yesus bersabda, “Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Luk 17:21). Pencarian sejati bukanlah upaya menjemput Allah yang jauh, melainkan penyelarasan hati dengan Dia yang sudah hadir sejak semula, seperti ikan yang baru sadar bahwa ia tak pernah lepas dari samudera.
Saya teringat percakapan bersama Ustadz Nur Jabir, seorang penerjemah karya Rumi, saat kami bertemu di Yogyakarta. Beliau mengatakan, “Biasanya kekasih itu dicari dulu, baru ditemukan. Tapi Kekasih yang ini ditemukan dulu, baru dicari.”
Pencarian itu memang tidak pernah usai. Bukan karena Allah sulit ditemukan, melainkan karena keagungan-Nya tak akan pernah dapat sepenuhnya dipahami oleh diri. Karena itulah, kerinduan yang tak pernah padam selalu membakar para pecinta Ilahi.
Meluruhkan Penghalang
Menemukan Allah dalam segala hal bukan berarti menambahkan hal yang sebelumnya tidak pernah ada. Justru sebaliknya, itu adalah proses meluruhkan segala hal yang menutupi pandangan kita terhadap kehadiran-Nya.
Kita diajak melepaskan dorongan untuk menguasai, menilai, atau memaknai segala sesuatu dari sudut pandang kita sendiri. Ketika kebutuhan untuk memahami dan menggenggam mulai reda, yang tersisa bukanlah kehampaan, melainkan beningnya kehadiran yang telah menyertai kita sejak awal.
Rumi pernah menulis, “Tugasmu bukanlah untuk mencari cinta, melainkan hanya untuk mencari dan menemukan semua penghalang dalam dirimu yang telah kamu bangun terhadapnya.”
St. Teresa dari Avila menggambarkan jiwa sebagai istana batin tempat Allah berdiam. Menemukan Allah berarti membersihkan kamar-kamar batin itu dari ego dan prasangka, agar jiwa menjadi tempat tinggal yang layak bagi-Nya.
Ketika pencarian yang gelisah mulai diam, kita pun menyadari bahwa bukan kita yang lebih dulu mencari Allah, melainkan Dia yang terlebih dahulu mencari dan menemukan kita, seperti gembala yang meninggalkan kawanan demi satu domba yang hilang (Lukas 15:4).
Simpul Rohani yang Halus
Namun, kita juga perlu berjaga. Kalimat “menemukan Allah dalam segala hal” bisa berubah menjadi simpul batin yang halus. Tanpa sadar, bisa tumbuh perasaan bahwa diri ini telah melihat lebih dalam, mengalami lebih banyak, atau menjadi lebih rohani daripada orang lain.
Padahal, kehadiran Ilahi tak tunduk pada teknik, perasaan, atau kedalaman spiritual tertentu. Allah tidak memihak pada siapa yang lebih peka atau lebih saleh. Kasih-Nya mengalir bebas, tanpa syarat dan tanpa pengakuan.
Hanya hadir
Di titik ini, saya belajar untuk hanya hadir, tanpa harus memiliki pengalaman yang luar biasa, tanpa harus memahami segalanya, bahkan tanpa harus memberi nama atas apa yang telah menyentuh hati.
Menemukan Allah dalam segala hal bukanlah ajakan untuk menjelajah ke luar, melainkan undangan untuk meluruhkan segala bentuk pemisahan. Ketika tidak ada lagi “aku” yang mencari dan “Dia” yang dicari, yang tersisa hanyalah kehadiran.
Rasul Paulus pernah berkata, “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.” (Kisah Para Rasul 17:28).
Allah tidak datang hanya saat kita menyadari-Nya. Kesadaranlah yang akhirnya diam dan tahu bahwa Dia tak pernah pergi. Saya hidup, bergerak, dan ada dalam Dia. Anugerah rahmat Allah yang sangat berarti adalah kemampuan dapat menyadarinya. Dengan demikian, kita mampu untuk melihat wajah Kristus yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Loyola, 29 Oktober 20225 Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi RS Bethesda Yogyakarta.














