Mengapa Yesus Meminta Kita Tidak Percaya Begitu Saja?

Sebuah Refleksi Pribadi

Bingkai279 Views

Jangan percaya kepada Yesus. Pernyataan provokatif ini tampaknya bertentangan dengan ajaran bahwa iman itu hanya perlu percaya saja tanpa menggunakan logika. Saya terkejut saat menyadari bahwa pernyataan itu merupakan potongan ayat yang tercantum dalam Injil Yohanes:

“Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku” (Yoh 10:37 TB2)

Ayat tersebut terasa seakan-akan menjadi jawaban bagi kegalauan saya. Perkembangan media sosial yang sedemikian pesat memungkinkan berbagai nubuat, penampakan, serta kesaksian banyak beredar secara luas. Berbagai penampakan – bahkan “roh orang suci” – datang membawa pesan dari Allah. Berkat dan kutuk disematkan bagi orang-orang yang menanggapi nubuat dan kesaksian itu.

Dalam situasi tersebut, saya sempat mengalami pertentangan batin. Yesus mengatakan:

“Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:29 TB2)

Terbersitlah kegalauan dalam diri saya: Haruskah saya segera percaya pada apa yang dikatakan tentang berbagai nubuat dan penampakan yang diajarkan kepada saya? Berdosakah bila saya meragukannya?

sabda.org

Selama ini, saya banyak diajarkan bahwa iman itu sedemikian pasti sehingga tidak boleh dipertanyakan. Berbeda dengan apa yang diajarkan, saya justru merasa bahwa Injil memberi ruang bagi keraguan yang jujur. Peristiwa Rasul Thomas yang meragukan kebangkitan Yesus bukan saya tafsirkan sebagai kurangnya iman. Bagi saya, Rasul Thomas adalah murid yang cerdas. Beliau menuntut verifikasi. Yesus tidak mencela, namun justru memberikan jawaban. Keraguan yang muncul tidak disangkal. Keraguan ini malah diarahkan menuju pengenalan yang lebih dalam. Iman bukan lawan dari skeptisisme yang jujur, melainkan koreksi terhadap skeptisisme yang menutup kemungkinan kebenaran.

Ternyata, hal yang senada ditegaskan lagi oleh Yesus. Yesus juga bersabda:

“Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.” (Yoh 14:11 TB2)

Bagi saya, pernyataan tersebut membongkar asumsi bahwa iman berarti berhenti bernalar. Yesus mengaitkan kepercayaan dengan verifikasi konkret, yaitu karya, konsistensi, dan buah. Klaim tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus terbukti dalam realitas yang dapat dikenali. Iman tidak dibangun di atas otoritas yang kebal kritik, tetapi pada kesesuaian antara pewartaan dan karya.

Yesus justru mengajak kita untuk waspada terhadap nabi-nabi palsu. Kriteria pengujian yang tegas tertulis dalam Kitab Suci:

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Adakah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?” (Mat 7:15-16 TB2)

Iman yang matang tidak menutup pertanyaan, tetapi justru mengijinkan kita untuk menguji dan memilih. Dalam latihan rohani, St. Ignasius Loyola mengajarkan untuk selalu menguji arah gerak batin (Latihan Rohani 175-178). Ada gerak batin yang secara langsung dibimbing Allah, ada yang mengarah ke konsolasi atau desolasi, serta ada yang memerlukan daya jiwa untuk membedakannya.

Santa Theresia Avila

St. Teresa Avila juga tidak menerima mentah apa yang didapatkan, sekalipun itu tampak sebagai visi atau penampakan dari Allah (Puri Batin Ruang 6). Beliau juga tak segan-segan berkonsultasi dan bercerita dengan jujur pada pembimbing rohani. Bagi St. Teresa, apa yang berasal dari Allah menghasilkan buah berupa peningkatan kesalehan, kerendahan hati, kedamaian batin, dan kemauan untuk mengikuti kehendak Allah.

“Buah” tersebut bukan sekadar moralitas umum, melainkan juga merupakan alat pembeda. Dalam hal ini, dibutuhkan evaluasi: Apakah suatu klaim menghasilkan kejernihan, kebebasan, dan kasih yang nyata, atau justru kebingungan, ketergantungan, dan superioritas halus? Kebenaran tidak hanya dibuktikan oleh pengalaman subjektif, melainkan oleh transformasi yang mengarah kepada Allah. Buah-buat tersebut bukan diukur dari intensitas pengalaman, melainkan apakah anugerah tersebut menghasilkan kerendahan hati, kebebasan dari kelekatan, dan kasih yang nyata.

Kita sudah seringkali diajarkan tentang ayat ini:

“Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat 4:7 TB2).

Ayat itu muncul dalam konteks Yesus yang dicobai di padang gurun oleh setan. Dalam konteks itu, yang ditolak oleh Yesus bukanlah pengujian yang jernih, melainkan tuntutan akan tanda spektakuler yang memaksa Allah membuktikan diri sesuai kehendak manusia. Mencobai Tuhan berarti menempatkan Allah sebagai objek pembuktian. Pengujian bergerak sebaliknya: tidak menuntut tanda, tidak mengejar sensasi, tetapi membaca buah secara tenang dan jernih.

Menguji klaim spiritual bukanlah mencobai Tuhan. Pengujian juga ditujukan untuk menguji pemahaman kita. Pengujian ini bukan menguji Allah, melainkan menjaga diri agar tidak tertipu oleh klaim yang tidak berasal dari-Nya, seperti yang juga tertulis dalam Kitab Suci:

Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (1 Yoh 4:1 TB2)

Prinsip pengujian ini tidak hanya muncul dalam Kekristenan. Dalam Buddhisme dikenal Ehipassiko: “Datang dan lihat sendiri”. Pernyataan ini menolak penerimaan buta dan menuntut verifikasi melalui pengalaman yang jernih dan dapat diuji. Dalam tradisi Vedanta dikenal adanya Viveka, yaitu kemampuan membedakan realitas dari ilusi, yang mengharuskan ketelitian dan kejernihan dalam menilai pengalaman batin. Keduanya menunjukkan bahwa kebutuhan akan pengujian dan pembedaan bukan tambahan modern, melainkan kebutuhan dasar dalam setiap jalan spiritual yang serius. Namun, pemahaman paralel ini berada pada tingkat metode, bukan penyatuan doktrin.

Seperti kata St. Teresa, kerendahan hati dibutuhkan dalam setiap sisi kehidupan kita. Tanpa kerendahan hati, pengujian berubah menjadi kecurigaan yang sinis atau alat pembenaran diri. Kerendahan hati merupakan kesediaan kita untuk tidak langsung merasa benar, baik dalam menerima maupun dalam menolak. Kerendahan hati menahan dorongan untuk cepat memberi label “ini dari Allah” atau “ini pasti salah”. Kerendahan hati juga membuka ruang bagi kenyataan untuk menampakkan buahnya. Tanpa kerendahan hati, seseorang bisa menolak yang benar karena terlalu percaya diri, atau menerima yang keliru karena ingin merasa “mengerti”.

Roh Kudus menerangi nalar untuk melakukan pengujian yang benar. Jawaban yang “datang dari Roh Kudus” tidak kebal uji. Jawaban itu justru menegaskan kriteria yang sudah diberikan oleh Kristus, yaitu kesesuaian dengan karya, konsistensi dengan Injil, dan buah yang nyata. Bapa sebagai sumber, Putra sebagai pewahyuan yang dapat dikenali dalam karya, dan Roh Kudus sebagai penuntun pembedaan tidak pernah terpisah. Klaim yang memisahkan pengalaman batin dari uji konkret tidak berdiri dalam kerangka Trinitas.

Buku Konstitusi Jesuit berada di Kamar St. Ignasius Loyola di Roma. (Dok. pribadi).

Karena itu, keraguan yang jujur tidak perlu ditakuti. Keraguan bukan ancaman bagi iman. Baik iman buta yang menolak uji dan skeptisisme tertutup yang menolak kemungkinan kebenaran justru tidak dapat diterima. Di antara keduanya, Injil dan tradisi Gereja menempatkan satu jalan yang jelas untuk menguji segala sesuatu, mengenali dari buahnya, dan mengizinkan Roh Kudus menuntun kita. Uji yang benar selalu mengarahkan kembali kepada Kristus dan menumbuhkan buah Roh dalam ketaatan, bukan menumbuhkan sensasi atau klaim otoritas pribadi, apalagi perasaan elitisme yang meng-iblis-ibliskan pemahaman yang berbeda.

Penilaian atas “buah” tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada individu maupun otoritas. Individu rentan terhadap bias, sementara otoritas tidak kebal dari penyalahgunaan. Karena itu, diskresi yang matang selalu bergerak dalam ketegangan yang jujur antara hati nurani, komunitas, tradisi, dan realitas konkret. Masing-masing dapat saling mengoreksi sehingga saling melengkapi.

Ukuran “buah” tidak boleh direduksi menjadi ketertiban atau kenyamanan. Kebenaran terkadang mengguncang dan menimbulkan ketegangan. Yang diuji bukan apakah suatu gerak menimbulkan gangguan, melainkan apakah dalam jangka waktu tertentu buah tersebut menghasilkan kasih yang nyata, kebebasan dari kelekatan yang tidak teratur, serta kerendahan hati yang tidak mencari posisi.

Saya tidak memungkiri bahwa tidak semua hal dapat ditangkap dan diuji secara intelektual. Ada hal yang melampaui logika. Namun, St. Teresa mengatakan bahwa suspensi daya batin itu terjadi karena rahmat Allah semata, bukan karena kemauan manusia. Karena itu, nalar tetap dipakai sejauh masih berguna, sampai Allah sendirilah yang mengkaruniakan rahmat kepada kita untuk melampauinya.

Refleksi ini menghasilkan suatu pemahaman. Yesus tidak meminta kepercayaan yang kebal kritik. Yesus membuka ajaran-Nya untuk diuji melalui karya dan buah. Keraguan yang jujur tidak ditolak, tetapi diarahkan. Pengujian membutuhkan kerendahan hati agar tidak berubah menjadi alat ego. Roh Kudus menuntun kita supaya proses itu berjalan dengan benar. Maka, setiap klaim berupa nubuat, penampakan, atau “pesan roh” yang menolak diuji, secara internal sudah bermasalah. Iman yang dewasa bukan iman yang berhenti bertanya, tetapi iman yang tahan uji dan rendah hati.

 

Terima kasih Romo Ferdinandus Effendi Kusuma Sunur SJ yang telah memberi masukan kepada penulis.

 

Sleman, 22 April  2026
Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana
dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi
RS Bethesda Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *