Ruang publik Indonesia dalam beberapa waktu terakhir terasa semakin tegang dan rapuh. Panggung komedi, yang seharusnya menjadi ruang bermain bagi imajinasi, kritik, dan tawa, justru berubah menjadi arena konflik.
Ketika Pandji Pragiwaksono diperiksa setelah menampilkan special show Mens Rea, yang dipersoalkan bukan lagi sekadar kata-kata yang ia ucapkan, melainkan niat yang diasumsikan tersembunyi di baliknya.
Perdebatan tentang Mens Rea menggeser perhatian kita dari isi kritik ke tafsir atas batin seseorang. Di sini kita melihat betapa cepat masyarakat kita melompat pada penghakiman: seseorang bisa ditetapkan “bersalah” bukan karena apa yang dilakukan, melainkan karena apa yang kita kira ia pikirkan.
Situasi ini tidak berdiri sendiri. Sejak awal tahun 2025 yang lalu, muncul tagar #IndonesiaGelap sebagai simbol kekecewaan publik terhadap aneka kebijakan yang dirasa tidak berpihak pada rakyat kecil. Dalam konteks ini, seni kembali memainkan peran klasiknya: menjadi bahasa perlawanan, cermin kegelisahan, dan ruang bagi suara-suara yang tak terdengar.
Namun, justru karena daya kritisnya itulah, seni menjadi sasaran kecurigaan dan represi. Pembredelan lukisan Yos Suprapto, pembatalan pementasan Teater Payung Hitam, dan permintaan maaf paksa terhadap Band Sukatani memperlihatkan pola yang sama: ketika seni terlalu jujur dan terlalu tajam, kuasa lebih memilih membungkam daripada berdialog.
Data Koalisi Seni yang mencatat 405 korban pelanggaran kebebasan berkesenian hingga pertengahan 2025 menunjukkan bahwa ini bukan sekadar insiden, melainkan gejala sistemik dalam cara kita mengelola perbedaan dan kritik.
Dalam terang iman Kristiani, situasi ini mengundang kita untuk berefleksi secara lebih dalam. Injil menunjukkan bahwa Yesus sendiri hidup dalam dunia yang penuh ketegangan politik, ekonomi, dan religius.
Di bawah bayang-bayang Kekaisaran Romawi dan elite religius Yahudi, hukum sering kali menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan dan menekan yang kaum yang lemah. Para pemungut cukai bekerja untuk penjajah, para pemuka agama menjaga tatanan yang menguntungkan mereka, sementara kaum miskin, janda, dan orang berdosa dibiarkan terpinggirkan. Di tengah dunia seperti itu, Yesus hadir bukan sebagai penghibur yang netral, melainkan sebagai suara kenabian yang mengusik.
Sebagaimana para seniman, Yesus juga berbicara dengan bahasa yang “artistik”, melalui perumpamaan, metafora, dan tindakan simbolik. Misalnya, Ia menyebut para pemuka agama sebagai kuburan yang dilabur putih, menyingkap kemunafikan di balik kesalehan lahiriah.
Ia mengisahkan orang Samaria sebagai teladan kasih, sebuah sindiran tajam terhadap eksklusivisme religius. Ia bahkan mengusir para pedagang dari Bait Allah, sebuah tindakan simbolik yang menggugat sistem ekonomi yang memeras orang miskin atas nama agama.
Seperti para seniman hari ini, Yesus tidak sekadar menyampaikan informasi; Ia mengguncang kesadaran. Dan, seperti para seniman yang bersuara kritis, Ia pun dituduh, disalahpahami, dan akhirnya disingkirkan.
Ia dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan penghujatan dan pemberontakan. Mereka menyerahkan Yesus kepada Romawi dengan tuduhan sebagai pemberontak, sejajar dengan Barabas yang juga dituduh memberontak (Luk. 23:19).
Sebagaimana dikisahkan dalam Injil, akibat kebenaran yang Ia suarakan, Yesus wafat di atas salib Romawi (bdk. Mat. 25:27-56; Mrk. 15:21-38; Luk. 23:26-49; dan Yoh. 19:16-37). Ini bukan sekadar tindakan keagamaan atau hukum, tetapi juga strategi politik dan simbolik untuk membungkam pengaruh yang tak dapat mereka kendalikan.
Di sinilah kita bisa merefleksikan salib dalam terang situasi kita sekarang. Salib bukan hanya simbol penderitaan pribadi, melainkan juga tanda benturan antara kebenaran dan dominasi kuasa yang takut kehilangan kendali. Yesus dihukum bukan karena Ia bersalah secara hukum, melainkan karena suara-Nya terlalu mengganggu tatanan yang dominan dan mapan.
Dalam istilah modern, Ia dihukum karena “niat”-Nya: niat untuk membebaskan, untuk membongkar kemunafikan, dan untuk memihak mereka yang tertindas.
Seorang teolog pembebasan, Gustavo Gutiérrez, mengingatkan bahwa iman Kristiani sejatinya tidak pernah netral. Iman selalu berwujud dalam keberpihakan. Bagi Gutiérrez, keselamatan bukan hanya urusan jiwa setelah mati, tetapi juga soal bagaimana manusia dibebaskan dari struktur sosial, ekonomi, dan politik yang tidak adil dan menindas.
Dalam kerangka ini, membela kebebasan berekspresi, melawan pembungkaman, dan membuka ruang dialog bukan sekadar sikap politik, tetapi juga tindakan iman. Itu adalah cara konkret mengikuti Yesus yang memilih berdiri di sisi mereka yang disingkirkan.
Dalam konteks masa kini, para seniman yang dibungkam karena keberaniannya menyuarakan kebenaran merupakan cerminan dari wajah Kristus yang terus hadir dalam sejarah. Karya seni yang jujur dan tidak tunduk pada tekanan kelompok dominan yang menindas merupakan wujud dari partisipasi nyata dalam misi kenabian Kristus, yang mengacu pada sebuah panggilan untuk menyuarakan suara mereka yang tak bersuara, dan membela mereka yang tertindas.
Karena itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Gustavo Gutiérrez, ketika para seniman diserang karena karyanya, pertanyaan kita sebagai orang beriman bukan hanya: “Apakah ini melanggar hukum?” tetapi juga: “Siapa yang sedang dibungkam? Suara siapa yang sedang kita takutkan?”
Di dunia yang mudah tersinggung dan cepat menghakimi, iman Kristiani justru mengajak kita untuk lebih sabar mendengar, lebih berani berdialog, dan lebih rendah hati mengakui bahwa kebenaran sering kali datang melalui suara yang tidak nyaman.
Pada akhirnya, seni dan iman bertemu pada satu titik: keduanya berani menyingkapkan realitas apa adanya. Seni yang jujur, seperti Injil, tidak selalu membuat kita nyaman. Ia bisa melukai ego, mengguncang keyakinan palsu, dan memaksa kita bercermin.
Namun, justru di situlah ia menjadi jalan pembebasan. Sebagaimana Kristus disalibkan karena kebenaran yang Ia hidupi dan wartakan, para seniman yang bersuara hari ini berdiri dalam jejak yang sama.
Mereka mengingatkan kita bahwa kebebasan dan keadilan tidak pernah lahir dari kepatuhan yang bisu, melainkan dari keberanian untuk mengatakan yang benar, bahkan ketika harga yang harus dibayar begitu mahal.
Christian Aldo Kusuma














