Konflik Israel-Palestina, Apa Peran Gereja?

Jendela957 Views

Perang Israel dengan Palestina saat ini masih saja terjadi. Peperangan yang terjadi juga makin menimbulkan banyak korban jiwa yang terus berjatuhan. Tidak hanya golongan tua yang turut terkena imbasnya, golongan muda seperti anak-anak dibawah umur juga menjadi korban dari peperangan yang terjadi.

Seiring berjalannya waktu, peperangan yang terjadi juga menimbulkan kesenjangan hak asasi manusia (HAM). Selanjutnya, kita patut untuk bertanya, apa yang menyebabkan terjadinya perang Israel dan Palestina serta apa yang dapat dilakukan untuk meredam peperangan ini. Pertanyaan lain yang dapat diajukan adalah peran Gereja dalam ensiklik Fratteli Tutti sebagai sarana dialog antaragama.

Perang Israel dan Palestina diawali dengan adanya peran Zionis Israel. Zionis Israel adalah para penggawa yang ingin membentuk sebuah negara Yahudi di Palestina. Gerakan ini dipimpin oleh Theodor Herzl, seorang wartawan Yahudi yang menghimpun kembali masyarakat Yahudi diaspora untuk kembali membentuk negara dengan hukum Yahudi dan wilayahnya mencakup wilayah Israel yang ada di Palestina. Perang antara Israel dan Palestina juga sudah terjadi 100 tahun lamanya.

Perang Israel dan Palestina juga sudah sewajarnya dikatakan sebagai pelanggaran HAM. Sebab, beberapa kaum Zionis juga menyerang warga-warga sipil bahkan balita yang juga terkena dampak dari perang ini. Kaum Zionis Israel sendiri bukan sepenuhnya tentara Israel, melainkan warga Yahudi yang ingin kembali mendirikan rumah nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina.

Hal ini terbukti pula dari Zionis Israel yang meluncurkan serangan sejak tahun 2012, 2014, dan 2021 kepada warga Palestina. Pada tahun 2014, selama 50 hari, penyerangan tentara Israel telah membunuh 2.100 warga sipil Palestina yang terdiri dari 1.462 orang dewasa dan 500 anak-anak.

HAM yang dilanggar juga telah melibatkan anak-anak. Bahkan, pengadilan Israel menyetujui bahwa anak-anak di atas umur 12 tahun dapat dipenjara. Setiap anak-anak yang dipenjara juga diperlakukan secara tidak adil seperti tidak diberikan akses untuk menelepon orang tua, pembatasan pembelajaran juga diberlakukan bagi para anak-anak yang ditahan, dan pengasingan bagi anak-anak Palestina. Tentunya perilaku seperti ini tidak menjadi sebuah tujuan utama Gereja dalam membangun sebuah persaudaraan dalam diri umat-Nya.

Dialog antaragama

Perang antara Israel dan Palestina semestinya dapat dibangun dengan sikap membangun dialog antarumat beragama di Israel dan Palestina. Paus Fransiskus sendiri menerbitkan sebuah Ensiklik tentang persaudaraan, yaitu Fratelli Tutti. Ensiklik yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus memiliki tujuan untuk membangun hakikat persaudaraan yang terbuka dan memungkinkan untuk mengakui, menghargai, serta mengasihani sesama terlepas dari kedekatan fisik dan tempat mereka tinggal.

Pada kasus Israel dan Palestina dapat ditemukan adanya kesenjangan antara perebutan tempat tinggal dan kedekatan fisik. Bangsa Zionis Israel yang memiliki tujuan untuk membangun kembali rumah mereka di Israel tentunya bukan menjadi bentuk untuk mewujudkan hakikat persaudaraan yang terbuka dan menghargai setiap orang.

Pada konteks ini tentu dibutuhkan dialog. Dialog beragama yang dibangun tentunya diharapkan memberi sebuah kesadaran bagi sesama untuk mendengarkan dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Apabila dilihat dari perspektif komunikasi, dapat diandaikan jika semua pihak saling memahami dan saling mengambil bagian, memberi, dan menerima. Melalui perspektif ini juga dapat diterapkan dalam perang Israel dan Palestina. Pandangan yang dibangun tidak hanya memiliki sebuah daerah untuk diri sendiri melainkan hidup berdampingan dengan sesama. Warga Zionis sendiri harus mengambil bagian jika menginginkan sebuah tempat dan harus menerima apa yang menjadi sebuah tatanan budaya dan dialog dalam daerah tersebut.

Dialog juga dapat dilihat dari perspektif pengalaman. Tentunya pengalaman yang dimiliki oleh kaum Zionis dengan warga Palestina dapat menjadi sebuah perpaduan yang istimewa. Perspektif ini membuka ruang tidak hanya untuk bertukar ajaran tetapi sekaligus membuka ruang untuk saling tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari. Apabila perspektif ini dapat dijalankan maka akan muncul dialog antaragama yang semakin membangun dan memiliki perasaan saling membutuhkan antara Zionis dengan warga Palestina.

Pada saat ini dibutuhkan sebuah dialog yang harus mencakup beberapa perspektif di atas sehingga timbul segala rasa menghargai. Selain itu dapat diandaikan pula setiap bangsa dapat hidup berdampingan apabila membuka diri akan kerja sama yang saling membangun. Kaum Zionis ataupun warga Palestina tentu harus memiliki sikap terbuka untuk membangun dialog yang kuat.

UTUSAN/Slamet Riyadi

Kunjungan Paus di Indonesia

Selama perang Israel dan Palestina terdapat sebuah kabar hangat tentang kunjungan Paus ke Indonesia. Kunjungan Paus ke Indonesia membawa tiga tema besar yaitu Faith, Fraternity, Compassion. Tiga tema besar yang dibawa memiliki pesan dan makna yang tersirat dan tersurat untuk membangun dialog antaragama. Tiga tema besar yang dibawa juga layak menjadi acuan untuk menyikapi perang Israel dan Palestina.

Selama menjalani kunjungan apostolik, Paus Fransiskus memberi waktu untuk melakukan pertemuan interreligious di Masjid Istiqlal. Paus mengatakan bahwa ia merasa senang ketika berada dalam masjid terbesar di Asia. Pertemuan yang dilakukan oleh Paus Fransiskus tentu menjadi sebuah sarana untuk membuka dialog secara lebih mendalam.

Kondisi dunia saat ini semakin tertutup dalam bayang-bayang gelap dunia yang tertutup. Dialog yang dibangun juga menjadi sarana untuk membangun keterbukaan dan membagikan kasih bagi sesama. Pertemuan yang berlangsung juga makin mengukuhkan pesan yang ingin dibawa oleh Paus Fransiskus, yaitu Fraternity.

Pertemuan yang berlangsung di Masjid Istiqlal juga menghasilkan sebuah deklarasi, yaitu Deklarasi Istiqlal. Penandatangan deklarasi ini berdasar pada kekhawatiran Paus tentang situasi kemanusiaan dunia saat ini. Melalui deklarasi ini juga diharapkan dapat membangun kembali semangat untuk membangun dialog beragama dan menjunjung tinggi bahwa perbedaan itu indah.

Target bersama

Pada saat ini tentu sebagai umat beragam kita harus memiliki concern yang satu padu. Perlu untuk membangun komitmen untuk membangun kesadaran bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus dihindari tetapi diterima. Begitu pula perang Israel dan Palestina yang memiliki peluang untuk membuka dialog dengan lebih terbuka.

Setiap pribadi, baik dari Zionis maupun warga Palestina, harus memiliki kesadaran untuk saling menerima, bukan untuk saling menghilangkan atau menghancurkan. Kita seharusnya bersama-sama membuka pandangan baru untuk menjadikan perbedaan sebagai sarana membuka dunia yang lebih terang dan damai.

Roney Karol Litoya Surbakti (Seminaris Seminari Mertoyudan Tahun Keempat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *