Sejak 21 April 2025 lalu hingga hari ini, konsentrasi dan perhatian Gereja tertuju di Vatikan, Roma. Setelah Paus Fransiskus wafat di usia 88 tahun, 9 hingga 15 hari kemudian akan diadakan Konklaf. Maka, Gereja Katolik, baik para pembesar Gereja hingga umatnya dan perhatian dunia akan tertuju ke sana.
Konklaf yang sudah berlangsung sejak abad pertengahan ini tentu memiliki sejarah panjang dan latar belakangnya yang mendalam. Seperti yang kita kenal sekarang bermula pada Abad Pertengahan dan dibentuk untuk mencegah Takhta Kosong (Sede Vacante) yang berkepanjangan dan campur tangan pihak luar.
Konklaf kali ini, tahun 2025, setelah mendiang Paus Fransiskus wafat, juga akan diikuti oleh Kardinal Ignatius Suharyo dari Indonesia. Ia telah berangkat ke Vatikan pada Sabtu, 3 Mei 2025 dan telah berada di Vatikan untuk dinamika Konklaf yang akan berlangsung mulai Rabu, 7 Mei 2025.
Dalam Bahasa Latin, kata Konklaf adalah kesatuan dari kata cum (dengan) dan clave yang berarti kunci. Kedua kata tersebut mempunyai arti suatu pertemuan Dewan Kardinal yang tertutup dan rahasia yang dilaksanakan untuk memilih seorang Paus baru. Paus sendiri merupakan Uskup Roma sekaligus kepala Gereja Katolik Roma sedunia.
Konklaf lahir 1274 oleh Paus Gregorius X
Dilaporkan oleh Jurnalis Vatican News, Lisa Zengarini, menurut terminologi Gereja, istilah ini merujuk pada tempat terpencil lokasi pemilihan Paus diadakan. Badan Kardinal yang berkumpul di Vatikan untuk memilih. Konklaf sendiri didirikan secara resmi pada tahun 1274 oleh Paus Gregorius X.
Seperti dilaporkan oleh media resmi Vatikan ini, Konklaf akan berlangsung di Kapel Sistina yang berornamen lukisan Michelangelo. Langit-langit Kapel Sistina adalah karya lukis Michelangelo yang dibuatnya antara tahun 1508 hingga 1512.
Lukisan tersebut merupakan salah satu bagian dari lukisan Renaisans Tertinggi. Kapel tersebut dibangun di bawah pimpinan Paus Sixtus IV pada tahun 1477 hingga 1480. Sixtus merupakan nama asal yang diambil hingga menjadi nama Sistin.
Saat Paus Julius II memimpin, ia pun meminta Michelangelo untuk melukis langit-langit kapel tersebut daripada membiarkannya kosong. Hal ini terjadi pada pada tahun 1508. Hingga kini, manfaat kapel ini sebagai tempat bertemunya para Kardinal Gereja dari seluruh dunia dalam proses memilih Paus yang baru. Pemilihan ini tak jauh beda seperti ketika dilakukan saat terpilihnya Kardinal Jorge Mario Bergoglio pada tahun 2013 yang kemudian dikenal sebagai Paus Fransiskus.
Pemilihan Paus di bawah langit-langit karya Michelangelo bertitel Penghakiman Terakhir akan berlangsung untuk memilih Paus ke-267 akan menjadi yang ke-76 dalam bentuk yang dikenal saat ini.
“Konklaf mendatang yang dimulai pada tanggal 7 Mei untuk memilih Paus ke-267 akan menjadi yang ke-76 dalam bentuk yang kita kenal sekarang, yang ditetapkan oleh Paus Gregorius X pada tahun 1274, dan yang ke-26 diadakan di bawah tatapan Penghakiman Terakhir karya Michelangelo di Kapel Sistina,” tulis Lisa Zengarini.
Lebih lanjut, Lisa Zengarini melaporkan, selama berabad-abad, berbagai reformasi secara bertahap dilakukan pembentukan prosedur pemilihan Paus. Katanya, perubahan signifikan pertama diperkenalkan oleh Paus Nicholas II pada tahun 1059 dengan Bulla In nomine Domini, yang menetapkan hanya kardinal yang dapat memilih Paus Roma.
Sebelumnya, penerus Petrus dipilih dengan partisipasi komunitas gerejawi: para imam menilai kandidat yang diusulkan oleh umat beriman, dan para uskup memilih Paus. Pengaruh eksternal dan campur tangan dari kekuatan politik, tentu saja, memainkan peran utama dalam pemilihan, yang sering kali menghambat proses pemilihan.
Pada tahun 1179, Paus Alexander III mengumumkan Konstitusi Licet de Vitanda yang memperkenalkan persyaratan mayoritas dua pertiga — elemen kunci yang masih ada hingga saat ini.
Pemilihan umum di Viterbo pada tahun 1268-1271, yang merupakan pemilihan umum terpanjang dalam sejarah Gereja. Pada gilirannya kemudian muncullah lembaga Konklaf. Kata media informasi resmi kepausan ini, pengaturan ini diformalkan pada tahun 1274 oleh Paus Gregorius X dalam Konstitusi Ubi Periculum yang menetapkan bahwa dalam pemilihan mendatang para kardinal harus dikurung dalam pengasingan “cum clave” baik dari dalam maupun luar.
“Sehingga mereka dapat fokus pada tugasnya untuk memilih kepala Gereja Katolik berikutnya tanpa campur tangan politik atau pribadi apa pun,” tulis Lisa.
Dikisahkan, pemilihan di Kota Viterbo pada tahun 1271 berlangsung hampir tiga tahun (1268-1271), karena campur tangan eksternal, dan dikenal sebagai yang terpanjang dalam sejarah.
Ceritanya tahun 1268, sebanyak 18 kardinal berkumpul di Istana Kepausan Viterbo untuk memilih Paus baru tetapi tidak dapat memutuskan. Karena frustrasi, orang-orang Viterbo memutuskan untuk mengunci mereka di dalam istana, dan menutup pintu-pintunya. Akhirnya, Teobaldo Visconti, yang saat itu menjabat sebagai Archdeacon of Liege, yang bukan seorang kardinal, bahkan bukan seorang pastor, terpilih sebagai Paus Gregorius X.
Konklaf pertama pada tahun 1276
Setelah Ubi Periculum, Konklaf resmi pertama diadakan di Arezzo, Tuscany, pada tahun 1276 dengan terpilihnya Inocentius V. Pada tahun 1621, Paus Gregorius XV memperkenalkan persyaratan untuk pemungutan suara rahasia dan tertulis. Pada tahun 1904, Paus Pius X menghapuskan hak pengecualian apa pun yang diklaim dan memberlakukan kerahasiaan tentang semua yang terjadi dalam Konklaf—bahkan setelah konklaf berakhir.
Perubahan dari abad ke-20 hingga saat ini
Setelah Perang Dunia II, pada tahun 1945, Paus Pius XII mengeluarkan Konstitusi Apostolik Vacantis Apostolicae Sedis yang memperkenalkan peraturan baru. Sejak Takhta Suci lowong, semua kardinal—termasuk Sekretaris Negara dan Prefek Kongregasi—menghentikan tugas mereka, kecuali Camerlengo, Penitensiaria, dan Vikaris Roma. Kemudian, dalam Motu Proprio Ingravescentem Aetatem, Paus St. Paulus VI menetapkan bahwa hanya Kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang boleh memberikan suara.
Tidak semua Konklaf diadakan di Kapel Sistina
Konklaf pertama yang diadakan di Kapel Sistina diadakan pada tahun 1492. Meskipun setiap Konklaf telah diadakan di Kapel Sistina sejak tahun 1878, selama berabad-abad pemilihan telah berlangsung di berbagai lokasi sebelum tempat yang ditetapkan ditetapkan. Sebagian besar masih diadakan di Roma, tetapi 15 konklaf sebelumnya telah diadakan di luar Kota Abadi.
Beberapa Konklaf bahkan telah diadakan di luar Italia. Konklaf tahun 1314-1316 diadakan di Prancis, dan seabad kemudian, Konklaf tahun 1415-1417 diadakan di Jerman.
Dalam Konstitusi Apostoliknya Universi Dominici Gregis, Paus St. Yohanes Paulus II mengukuhkan kapel paling terkenal di dunia, yang disebut Via Pulchritudinis (Jalan Keindahan) sebagai lokasi resmi untuk pemilihan Paus baru.
Durasi Konklaf
Durasi Konklaf bervariasi. Seperti disebutkan di atas, pemilihan terlama dalam sejarah adalah pemilihan Paus Gregorius X, yang memakan waktu hampir tiga tahun. Di sisi lain, ada pemilihan pada tahun 1503 yang hanya berlangsung beberapa jam dan berujung pada pemilihan Paus Julius II.
Bahkan, sungguh singkat terjadi saat juga terjadi saat Konklaf untuk pemilihan Paus Fransiskus. Durasi Konklaf mendiang Paus Fransiskus relatif singkat. Almarhum Paus Fransikiskus terpilih pada tanggal 13 Maret 2013 setelah hanya lima putaran dalam waktu kurang dari dua hari.
Seperti dikatakan oleh Lisa dalam laporannya di Vatican News tentang pemilihan Paus, meskipun selama beberapa abad terakhir yang terpilih adalah pernah menjadi kardinal, ini bukanlah suatu persyaratan. Ia melanjutkan, ini sangat umum, dan Paus terakhir yang diangkat yang sebelumnya bukan kardinal adalah Urbanus VI pada tahun 1378.
Umat berimat di seluruh dunia sudah pasti menunggu peristiwa tanda kabar terpilihnya Paus baru. Seluruh penjuru dunia akan menantikan dalam renungan dan penyertaan doa.
Sembari menanti Paus yang baru terpilih, umat yang di berada di Lapangan Santo Petrus akan menanti peristiwa iman, terpilihya Paus baru. Ini akan ditandai dengan asap putih mengepul dari cerobong asap di atas Kapel Sistina.
Semoga Rahmat Tuhan menyertai proses ini. Berkah Dalem.








