Judul film lawas Kejarlah Daku … Kau Kutangkap yang dibintangi oleh Deddy Mizwar dan Lidya Kandouw ini mengingatkan saya akan cinta Tuhan. Bagaimana bisa?
Saya dulu tertarik dengan seorang pria. Ia disiplin dan rajin kuliah. Sikapnya yang sopan menarik di mata saya. Saya lalu memberikan banyak perhatian padanya. Saya menulis di buku agendanya. Saya menggambar kartun. Untunglah ia menyukai gambaran saya.
Saat berangkat kuliah, saya minta padanya agar saya bisa membonceng sepeda motornya. Hal ini saya lakukan agar bisa berboncengan dan punya waktu berduaan di atas sepeda motor. Karena kami banyak bertemu dan berinteraksi, akhirnya kami berpacaran. Setelah hampir delapan tahun berpacaran, akhirnya kami menikah. Ya, ia adalah suami dan ayah kedua putri saya. Dialah hasil “pengejaran” saya yang berbuah manis.
Kami pernah membicarakan perjalanan cinta kami. Menurut versi suami saya, dialah yang pertama kali mengejar saya supaya mau jadi pacarnya. Ia bilang saya menarik dan kebetulan saya membonceng sepeda motornya, maka sekalian ia mendekati saya. Saya memberitahunya bahwa saya mau naik sepeda motornya karena saya ingin mendekatinya. Kalau saya tidak tertarik padanya, saya lebih memilih menumpang mobil teman lain. Ia terheran-heran mendengarnya.
Pengalaman kisah cinta saya ini membuat saya merenungkan bahwa Yesus sedang “mengejar” dan mendekati kita anak-anak-Nya. Dia gigih dan pantang menyerah. Saya dan suami belajar Kitab Suci dengan teman kami, Jenn, yang tinggal di Canada. Kami belajar Kitab Suci jarak jauh melalui aplikasi gratis di ponsel Android.
Dalam sesi itu, saya merasa Tuhan tidak adil karena Dia mencintai orang-orang jahat. Contohnya Saulus. Ia mempersekusi pengikut Yesus, tetapi Saulus tidak disiksa melainkan Dia sentuh sehingga berubah menjadi Paulus. Dia memakai Paulus untuk menyebarkan Injil. Kasih-Nya memampukan Paulus menjadi rasul tangguh yang luar biasa.
Ada lagi perumpamaan Yesus tentang cinta seorang Bapa yang menerima kembali anak bungsunya. Anak bungsu itu meminta warisan secara prematur untuk berfoya-foya. Si bungsu baru kembali setelah kehabisan uang dan hidup menderita dengan makan makanan ternak. Betapa cinta Tuhan tidak adil di mata saya. Mengapa Saul dan si anak bungsu Dia beri hidup dan diterima kembali setelah melakukan kekejian atau kesalahan?
Dari kisah Saul dan anak bungsu, saya mendapati bahwa cinta Tuhan tidak ada habisnya. Saya memprotes cinta-Nya pada orang lain karena saya merasa iri. Saya menyadari, harusnya kita tidak boleh merasa iri melihat cinta Tuhan pada orang lain. Cinta Tuhan tidak akan habis setelah Dia curahkan pada orang lain. Cinta-Nya pada saya sama besarnya. Hanya bentuknya yang berbeda. Saya tidak diterima kembali sebagai anak durhaka karena saya bukan si anak bungsu. Saya tidak disentuh seperti Saul karena saya bukan Saul.
Saya sadar sudah berlaku seperti anak sulung pada perumpamaan Yesus, yang protes pada ayahnya karena membuatkan pesta untuk adiknya, anak durhaka yang baru pulang setelah kehabisan uang. Sang ayah berkata pada si sulung, “Semua milikku adalah milikmu juga.” Saya seperti si anak sulung yang lupa bahwa saya telah memperoleh cinta Bapa yang sungguh teramat besar.
Kita tidak perlu iri dengan cara-Nya mencintai orang lain. Kita tidak perlu takut cinta-Nya pada kita berkurang karena Ia mencintai orang lain. Saya percaya Tuhan kita memiliki cinta yang berlimpah ruah. Cinta-Nya tak akan habis. Berkat-Nya tidak berkurang pada kita karena harus dibagi dengan orang lain di seluruh muka bumi. Cinta-Nya pada kita utuh.
Setiap hari saya tidak bisa menutup mata dari cinta-Nya. Setiap pagi saya masih diperbolehkan bangun pagi dan boleh kuliah lagi. Pemeliharaan Tuhan ajaib bagi saya. Saat saya ingin kuliah lagi. Tetapi saya bingung bagaimana caranya bersekolah sambil mengurus dua orang anak yang masih kecil? Tuhan menggerakkan orang tua saya sehingga mereka menawarkan diri untuk menjaga anak-anak saya selama saya kuliah.
Hal yang tampak remeh tetapi ajaib bagi saya adalah saat saya ingin makan udang, lauk favorit saya. Saya minta pada-Nya. Beberapa hari kemudian saya mendapat nasi kotak dengan lauk udang saat saya sedang dinas. Saya sangat bahagia.
Lain lagi saat saya merasa stres karena pekerjaan saya, selalu saja ada cara-Nya menolong. Ia mendatangkan orang yang bisa membantu saya. Ia juga menyediakan teman yang mau mendengarkan keluh kesah saya. Untuk merasakan cinta-Nya, kita perlu menyadari bahwa hal-hal yang besar dan hal-hal yang tampak remeh bagi kita, semua adalah tanda cinta-Nya pada kita.
Jenn mengatakan, “Kalau kamu dicintai Dia sebegitu besarnya, dan Dia tidak henti-hentinya mengejarmu dengan cinta-Nya, apakah kamu tidak akan pernah jadi jatuh cinta dengannya?” Tentu Anda tahu jawaban saya? Ya, saya jatuh cinta pada-Nya. Apakah Anda skeptis dan merasa belum melihat cinta-Nya pada Anda? Berdoalah dan mintalah Dia bukakan hati Anda agar bisa merasakan betapa deras cinta-Nya pada Anda. Cinta-Nya begitu besar, jika Anda meminta, siap-siaplah Anda akan “tertangkap”!
dr. Maria Fransiska Deasy Ayuningtyas Tandio
Ilustrasi: www.maxpixel.net














