Menolong Tanpa Batas

Yustina Rina Setyawati

Sosok285 Views

Perjalanan hidup Yustina Rina Setyawati (52) satu adonan dengan perjalanan imannya. Rina yang lahir dan bersekolah Yogyakarta, Indonesia kini menetap di Hampshire, Inggris Raya.

Tumbuh di Prambanan, Kalasan, Sleman, di rumah neneknya, Rina akrab dengan candi sejak belum ada kewajiban membeli tiket masuk. Ketertarikan dengan candi dilanjutkan dengan mengambil jurusan A4/Budaya ketika SMA. Meski kuliah di jurusan Antropologi, Rina tetap mempelajari Hindu dan Buddha. Bersama Landung Simatupang, Linus Suryadi, dan Thomas Hariyadi, Rina blusukan menelusuri candi-candi di jalur Yogya-Solo yang kala itu hendak digusur guna pembangunan ring road.

Ketertarikan pada budaya kuno Hindu-Buddha melalui candi-candi itu pulalah yang mempertemukan Rina dengan Thomas Crick (53), suaminya. Walaupun bule Inggris, Thomas tertarik candi-candi. Thomas memiliki buku-buku tentang Buddhisme, Dalai Lama, Tibet, dan kawasan Himalaya. Membaca buku-buku tersebut mendorong Rina mencari persamaannya dengan ajaran Gereja Katolik. Mereka berdua sering berdiskusi tentang ajaran Buddhisme. Thomas beberapa kali tinggal di Budhist meditation centre, kadang meditasi beberapa hari di petapaan Budha di Myanmar, semacam retret dalam Katolik. Dia juga bermeditasi rutin di rumah.

“Suami saya pemeluk agama Buddha,” ungkap Rina yang pernah menjadi pembaca berita di BBC Radio siaran Indonesia di London. Mereka bertemu di Yogyakarta ketika Thomas belajar bahasa Indonesia untuk bekerja dengan VSO (Voluntary Service Overseas), lembaga dari Inggris yang mengirim relawan ke negara-negara berkembang. Rina sendiri kala itu bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia untuk orang asing. “Perbedaan kepercayaan justru saling memperkaya” tutur Rina.

Setelah menikah pada 2002, Rina harus berpindah-pindah negara mengikuti tugas suami. Perjalanan berpindah negara ini merupakan kesempatan menemukan diri. Proses packing diikuti membongkar rumah, memilih barang yang terus disimpan, mana yang tidak perlu, mana yang bisa disumbangkan, mana yang harus dibuang. “Itu semacam proses retret,” ujar ibu dari Salila Kusumita Crick (15) dan Felix Laksmana Crick (11) ini.

Yustina Rina Setyawati (keempat dari kiri)

Di setiap tempat baru selalu ada tantangan yang berbeda. Di Tanzania, listrik kerap mati, air leding kadang ada kadang tidak, suplai barang di supermaket tergantung cepat lambatnya kapal barang datang dari luar negeri. Dengan dua anak kecil (bayi dan umur 4 tahun waktu itu), Rina dan suami menjadi lebih kreatif untuk menyediakan keperluan rumah tangga. Suami menjadi punya hobi baru, seperti membuat sabun mandi batangan, membikin yoghurt dan roti di rumah, sehingga tidak tergantung toko. Rina belajar berkebun, menanam berbagai sayur dan bumbu dapur untuk masakan Indo maupun masakan Eropa.

“Semua itu membuat keluarga kami lebih kreatif dalam mengatur hidup,” ucap relawan di Friends Without Borders Portsmouth ini. Di lembaga ini Rina membantu mengajar bahasa Inggris untuk para pengungsi dan pencari suaka yang datang ke Inggris.

Karena berasal dari Indonesia, di berbagai tempat Rina kerap mendapat pertanyaan tipikal yang berhubungan dengan imannya: “Apakah anda Muslim?” Sebab, di koran dan televisi, Indonesia disebut sebagai the biggest moslem country in the world.

“Saya menjelaskan bahwa meski 80% populasi memang Muslim, jumlah 20% dari 273 juta itu bukan Muslim. Ini jadi salah satu cara ‘mengenalkan’ Indonesia,” kata alumnus program master di London School of Economics & Political Science (LSE) ini.

Ini terbukti ketika bila ada berita buruk dari Indonesia, misalnya bencana alam, banyak yang kemudian mengirim pesan, mengecek apakah keluarga dan teman di Indonesia semua selamat. Ini artinya, orang-orang menaruh perhatian terhadap Indonesia.

Rina tetap mengikuti peribadatan di gereja Katolik pada hari Minggu atau hari besar lainnya. Rina memaknai keimanan dalam relasi antara dirinya pribadi dan Tuhan. Rina lebih suka pergi sendiri ke gereja agar lebih berkonsentrasi berdoa dan tidak diganggu keinginan hendak bertemu seseorang di gereja.

Berkumpul di Anglican Church menjadi tidak terelakkan, karena dekat rumah dan kebutuhan bersosialisasi (srawung tangga). “Karena tinggal bersama masyarakat Gereja Anglikan, saya menjadi mengenal gereja tersebut,” tutur ibu yang pernah pengajar bahasa Indonesia di Universitas SOAS, London ini. Hampir semua tata caranya (urutan Misa, lagu Gereja) sama dengan Gereja Katolik Roma. Perbedaan mendasar adalah kepala Gereja adalah Ratu Inggris (naskah ditulis sebelum Ratu Elizabeth II wafat-Red), maka dalam doa sebelum komuni, umat tidak berdoa untuk Paus, tetapi untuk Ratu. Pastor Gereja Anglikan bisa menikah dan kini sudah ada pastor wanita.

Gereja paroki memiliki fungsi rohani dan sosial. Di masa lalu, gedung gereja juga sebagai tempat rapat kampung dan perayaan-perayaan desa, karena gereja merupakan gedung terbesar yang memuat banyak orang. Sekarang, fungsi ini dilaksanakan di village hall atau community centre (semacam balai desa). Namun, Gereja Anglikan masih terus melakukan aktivitas sosial ini melalui church fair (semacam pasar murah) di awal musim panas (Juni). Penduduk desa menyumbangkan tanaman, buku-buku, mainan anak, juga botol anggur. Berbagai aktivitas seperti menggambar, menggambar wajah, merangkai bunga, dilaksanakan. Uang yang didapat dimasukkan kas Gereja untuk pemeliharaan gedung gereja dan biaya-biaya lainnya. Church fair meski dilakukan oleh dan untuk Gereja, kegiatannya merupakan kegiatan desa.

Gereja desa di tempat tinggal Rina diperkirakan mulai ada sekitar tahun 1120. Sebelumnya, bangunan itu merupakan tempat pemujaan bagi agama asli Inggris (pagan). Dibangun oleh Santo Wilfrid, didedikasikan untuk Santo Nikolas. Nama gerejanya St. Nicolas Church, Wickham.

Rina juga mengikuti rapat desa, misalnya karena akan ada pembangunan stadion sepak bola di batas desa. Penduduk desa menolak, karena akan ada peningkatan volume jalan (traffic).

 “Perjumpaan dengan berbagai iman kepercayaan di berbagai negara membentuk diri saya untuk menyatakan iman dengan cara berempati kepada masyarakat tanpa memandang agamanya,” ungkap umat Dioses Portsmouth, Inggris ini.

Seminggu sekali Rina menjadi relawan pengajar bahasa Inggris kepada pengungsi yang umumnya Muslim atau Hindu dari Srilanka. Di Tanzania, Afrika, Rina aktif menggalang dana untuk sebuah rumah sakit yang menangani perempuan yang “dibuang” oleh suami mereka. Di Myanmar, Rina membantu sebuah shelter untuk ibu-ibu korban KDRT dan wanita muda yang hamil di luar nikah atau korban kekerasan seksual.

Rina meresapkan ajaran Yesus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Alih-alih sibuk dengan rumusan iman, Rina memilih langsung terjun berbuat baik bagi orang lain. Berdasar pada Injil Lukas 10: 29-37 tentang “Siapakah sesamaku manusia?”, juga ajaran almarhum ayahnya bertahun-tahun lalu, “Siapa menanam bakal memetik buahnya.” Rina pun tak lagi membangun batas batas untuk/kepada siapa dia menolong orang lain.

P. Citra Triwamwoto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *