Ia menyebut dirinya Bu Rahmat. Rahmat adalah nama suaminya. Penyebutan itu bagi saya mempunyai dua arti. Pertama, ia menghargai suaminya. Kedua, memang hidup ibu itu adalah sebuah “rahmat”.
Sewaktu meliput kegiatan bakti sosial di sebuah panti wreda, aku berkenalan dengan seorang gadis berparas manis. Namanya Indah. Entah mengapa, sejak pertama bertemu kami langsung “klik”. Sepanjang acara kami mengobrol. Kami seperti sudah kenal lama, padahal baru pertama berjumpa. Indah seorang gadis yang lincah, ceria, dan menyenangkan.
Di pengujung acara, kami bertukar nomor telepon. Waktu itu belum ada ponsel pintar. Jadi, kami berkomunikasi lewat SMS dan terkadang bertelepon. Kesibukan membuat kami jarang bertemu. Hanya terkadang di akhir pekan, kami berjumpa hanya sekadar minum es jus di pinggir jalan sambil berbincang akrab.
Tak kusangka, pertemananku dengan Indah mengenalkanku pada pribadi yang sangat baik hati. Indah mengajakku main ke rumahnya. Aku disambut dengan hangat oleh ibunya di rumah Indah yang asri.
Wanita setengah baya berpenampilan rapi dan modis ini seorang ibu rumah tangga tulen. Setiap pagi, Bu Rahmat menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk suaminya dan Indah. Keluarga ini memiliki usaha toko kelontong yang cukup laris di pasar.
Bu Rahmat wanita yang religius. Setiap pagi ia rajin berdoa di kapel dekat rumahnya. Ia juga aktif di kegiatan lingkungan. Sementara Pak Rahmat adalah orang yang pendiam tetapi tekun bekerja.
Pasangan ini saling melengkapi. Bu Rahmat suka bercerita dan mudah bergaul. Sementara suaminya pendiam dan sabar. Tahun ini mereka berdua merayakan 40 tahun pernikahan.
Pribadinya yang hangat dan penuh kasih membuatnya disukai banyak orang. Hingga suatu ketika, aku merasakan sendiri pelukan kasihnya. Aku senang makan kerang. Asisten rumah tangga keluargaku mengolah kerang itu. Aku menyantapnya dengan lahap.
Tak lama kemudian, perutku terasa sangat sakit. Ternyata, aku keracunan kerang. Badan terasa lemas. Perut terasa sangat melilit. Malangnya, adikku sibuk kuliah. Jadilah, aku hanya bisa merintih di dalam kamar.
Tuhan menolong tepat pada waktu-Nya. Indah menelepon. Aku menangis sambil menceritakan keadaanku. Tidak berapa lama, Indah dan Bu Rahmat datang. Mereka sibuk merawatku. Mereka membawakanku makanan lunak.
Mereka hadir saat aku sendirian, lemah, dan sakit. Mereka memberikanku kehangatan keluarga saat aku jauh dari rumah orang tuaku. Mereka hadir saat aku sangat memerlukan sandaran.
Waktu tak henti mengepakkan sayapnya. Sudah 8 tahun kami tidak berjumpa sejak aku pulang ke Gombong. Indah bercerita, ibunya itu memang “guardian angel”. Bu Rahmat tidak hanya merawat keluarganya. Hebatnya, ia juga merawat keluarga yang lain. Yang terdekat yaitu tetangga-tetangganya.
Teman-teman Indah merasakan sapaan dan kehangatan kasih ibunya. Bu Rahmat hadir membagikan “rahmat” Tuhan yang diterimanya dengan cuma-cuma.
Sore yang sejuk, bel rumahku berbunyi. Ternyata petugas paket datang. Ia membawa satu kardus besar. “Dari siapa ya?” tanyaku heran.
Lalu, saya tersenyum membaca nama pengirimnya. Bu Rahmat tetap mengingatku. Ia mengirim kue kering kacang mete buatannya sendiri yang memang sangat enak.
Dunia ini masih membutuhkan banyak “Bu Rahmat”, seseorang yang mau mengulurkan tangan pada sesama yang membutuhkan. Seorang yang peduli pada gadis yang tinggal berjauhan dengan orang tuanya. Seorang ibu yang menemani, mendukung, dan mencintai teman-teman anaknya dengan tulus.
Ia mendekap mereka semua dalam pelukan kasih keibuannya. Bu Rahmat mengasihi dalam diam. Ia berkarya dengan cara yang tersembunyi.
Terima kasih, Bu Rahmat. Sentuhan kebaikanmu telah menyentuh banyak hati yang sepi, sedih, dan terluka.
Ivonne Suryanto








