Dalam obrolan di refter atau tempat makan, seorang teman frater mengeluh kepada saya, “Sepertinya kamu perlu cek telinga ke dokter THT deh. Masa aku yang ada di sebelahmu, ngajakkamu ngobrol saja nggak kamu dengar?”
Dengan nada bercanda, saya menimpali kata-katanya, “Bro,kamu ‘kan tahu sendiri kalau telingaku memang sedikit pekak, mungkin karena terlalu sering mendengarkan lagu dengan earphone atau malah terlalu sering mendengarkan dosen yang mengajar juga sih. Ha ha ha ….”
Obrolan pun kian seru. Seorang teman di sebelah saya menimpali, “Orang di sebelahmu manggil saja nggak kamu dengar, apalagi kalau ada orang yang ngomonginkamu di belakang ya?”
“Ya, itu untungnya ‘kan? Jadi, hidupmu sehat dan nggak banyak overthinking,”susul teman saya yang lain.
Aku lantas menanggapi, “Jangan-jangan aku juga salah dengarpanggilan Tuhan, ya? Mungkin Tuhan maunya aku kuliah, tapi karena aku pekak, jadi dengarnyamasuk seminari!”
Pernyataan saya itu makin mengundang gelak tawa dari teman-teman. Pernyataan saya itu hanya gurauan semata, ya, jangan dianggap serius!
Tuhan memanggil orang yang pekakatau susah mendengar. Barangkali ini dapat menjadi sebuah refleksi mendalam dalam hidup saya, ataupun sebuah inspirasi bagi hidup Anda yang memilih panggilan berkeluarga. Jika kita hendak berbicara tentang panggilan, maka sasaran kita seharusnya bukan pada “suara” Tuhan yang terdengar abstrak, melainkan pada komitmen kita untuk memilih. Maka, saya lebih setuju dan bahkan mengamini bahwa panggilan Tuhan itu semata-mata adalah keyakinan kita untuk memilih suatu hal.
Kebanyakan dari anak-anak muda ketika ditanya apakah mau jadi pastor, jawaban terampuh yang mereka berikan adalah, “Duh, belum ada panggilan nih.” Padahal, Tuhan memanggil kita semenjak kita dibaptis. Panggilan kita awal mulanya adalah untuk menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti menjalani hidup seturut dengan apa yang Allah kehendaki, terutama bagaimana kita hidup sebagai manusia sebagaimana mestinya. Dari sini saya dapat menyimpulkan satu hal bahwa kepekakan kita dalam mendengar panggilan Tuhan itu bukan karena kita yang tidak mendengarkan suaranya, melainkan karena kita gagal untuk memilih pilihan hidup yang terbaik.
Menjadi seorang imam, biarawan/biarawati, maupun ayah/ibu untuk anak-anak adalah pilihan untuk menghidupi hidup secara baik. Tentang menjadi apa pun diri kita, ketika semua itu membawa berkat bagi orang-orang di sekitar kita, di sanalah titik kita mendengar suara Tuhan. Memang, kenyataannya kita tidak akan pernah mampu mendengarkan suara Tuhan secara nyata. Suara Tuhan itu tampak dalam komitmen kita untuk selalu menjadi baik. Suara Tuhan itu tampak dalam pilihan-pilihan hidup kita (sekecil apa pun itu) yang selalu mengarah pada kebaikan. Suara Tuhan itu tampak dalam kebahagiaan yang kita bagikan kepada orang-orang di sekitar kita.
Kalau begitu, jika ada pertanyaan ditujukan kepada Anda, “Kamu mau jadi imam atau biarawan/biarawati?”, jawablah, “Kalau itu membuatku bahagia, maka aku mau!”
Fr. Andreas Baladika Erjaluyoga
Ilustrasi: jcapsj.org







