Hati yang Peka, Lebih dari Sekadar Kata

Papan Tulis820 Views

Pemberitaan Injil merupakan kebutuhan mutlak setiap orang yang mengalami perjumpaan dan persahabatan dengan Yesus. Inilah yang menjadi panggilan kita bersama sebagai Gereja, yakni perjumpaan iman yang menyelamatkan dalam Kristus.

Paus Fransiskus menulis: “Kita semua dipanggil untuk memberikan kesaksian yang benar kepada semua orang dan kepada seluruh bangsa tentang kasih Tuhan yang menyelamatkan, terlepas dari ketidaksempurnaan kita, Tuhan menawarkan kepada kita: kedekatan-Nya, kata-kata-Nya dan kekuatan-Nya, dan memberi makna pada kehidupan kita” (Evangelii Gaudium, 121). Kelemahan kita bukanlah alasan untuk meredupnya cahaya kemuliaan Kristus. Maka di mana pun, Injil hadir membawa kehidupan bagi mereka yang menerimanya.

Panggilan inilah yang mendorong kami untuk live in selama satu bulan di sebuah Yayasan SLBB tuna rungu-wicara “Dena Upakara” yang dikelola oleh para suster PMY. Di sana, terjadilah sebuah perjumpaan iman untuk mengalami kasih Tuhan bersama anak-anak hebat dan istimewa.

Dunia sering beranggapan bahwa mereka yang memiliki keterbatasan pada pendengaran akan mengalami keterasingan, kesunyian dan kesepian. Hal ini dapat mengakibatkan stigma negatif yang merendahkan status sosial mereka. Namun, di Dena Upakara, kami tidak merasakan pelabelan itu. Anak-anak hebat ini mendapatkan pendidikan sejak usia dini (PAUD) hingga SMP.

Suasana di tempat itu tidak terasa sunyi, bahkan jauh dari kata sunyi. Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan semangat yang tinggi. Mereka bermain, menangis, tertawa, bergurau, dan belajar seperti anak-anak seusia mereka. Walau tidak dapat merespons dengan bahasa verbal, mereka menikmati setiap momen dengan sepenuh hati.

Para suster bersama anak-anak Dena Upakara dan para ibu asrama.

Bahasa cinta

Di asrama ini, anak-anak hampir selalu bekerja sama dalam setiap aktivitas, sekecil apa pun. Mereka dididik untuk saling bekerja sama, guna melatih keakraban, rasa kebersamaan, dan kepercayaan sebagai komunitas. Ini adalah langkah awal yang penting, mengingat mereka sebelumnya kesulitan dalam berinteraksi.

Semua kegiatan dilakukan dalam kebersamaan dan dalam keheningan, kasih, kebahagiaan, dan kehangatan hadir tanpa perlu banyak bicara. Dunia yang tampak sunyi dari luar penuh kehidupan yang memikat.

Di sinilah kami belajar bahwa evangelisasi juga menuntut sebuah kerja sama sebagai anggota tubuh Kristus dalam membangun Kerajaan Allah (bdk Apostolicam Actuositatem art.2). Mereka berkomunikasi dengan “bahasa hati” atau “telepati”. Tanpa kata, mereka dapat menyampaikan pesan dengan efektif melalui tatapan, isyarat, sentuhan, dan bahasa tubuh. 

Hati mereka yang peka mampu mengutarakan lebih dari sekadar kata. Senyuman mereka menjadi bukti cinta yang tulus. Mereka selalu saling menciptakan pemandangan cinta yang menakjubkan. Tepat seperti kata-kata Helen Keller: “Hal-hal terbaik dan terindah di dunia ini tidak dapat dilihat atau disentuh saja, mereka harus dirasakan dengan hati.”

Sr. Selfina SPM dan Sr. Anjelita CIJ mengajar anak-anak membuat rosario dan gelang.

Masa depan tidak pernah dipilih

Di Dena Upakara, anak-anak hebat itu memulai langkah pertama mereka dalam berbahasa kepada dunia meskipun mengalami keterlambatan berbicara, yang menghambat kemampuan kognitif dan imajinasi mereka. Meskipun tidak dapat membayangkan masa depan, mereka tetap memiliki harapan dan memahami perbedaan mereka dari orang lain.

Satu pengalaman menyentuh terjadi ketika seorang gadis berusia hampir 15 tahun bertanya, “Mengapa aku berbeda dari Mama, Papa, dan kakakku?” 

Meskipun hidup dalam keluarga yang berkecukupan, ia merasa seperti aib lantaran tidak diperkenalkan saat ada tamu. Pengakuannya menyadarkan kami bahwa ada banyak hal dalam hidup yang tidak dapat kita pilih. Layaknya berada di jalan panjang, kita hanya diperintahkan untuk “berjalan saja”, tanpa memilih mampu atau tidak, suka atau tidak.

Kami merenung, apakah mereka akan tumbuh pesimistis dan terluka seumur hidup? Tak ada pilihan untuk menyatakan bahwa satu keadaan lebih baik dari yang lain. Lebih baik menerima semuanya apa adanya. Mungkin mereka tidak ingin hidup seperti ini jika memiliki pilihan, tetapi hidup harus terus berjalan.

Namun, apakah mereka siap menghadapi kenyataan bahwa mereka berbeda? Belum. Mereka perlu waktu untuk mempersiapkan diri melalui pendidikan yang membekali mereka dengan ilmu, iman, dan keterampilan hidup. Dalam proses itu, mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi tangguh yang memahami keistimewaan mereka sebagai bagian dari rencana Tuhan.

Para suster live in menemani makan bersama.

Mutiara di dasar laut terdalam

Pengalaman bersama anak-anak hebat tunarungu-wicara di Yayasan Dena Upakara telah menumbuhkan iman kami lebih dalam akan Kristus. Kami mengajarkan pendidikan iman, sekaligus tumbuh bersama mereka dalam keterkaguman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, mengingat pemahaman kosakata mereka perlu dikembangkan lagi. Iman ini terletak dalam kedalaman hati dan dirasakan.

Sebagai religius, kami dipanggil untuk mewartakan Injil dengan cara yang baru, memperkenalkan Tuhan dalam bahasa yang sederhana sesuai dengan kemampuan mereka. Menjawab pertanyaan mereka, seperti “mengapa berdoa” atau “mengapa Tuhan tidak terlihat”, tidaklah mudah.

Namun, iman anak-anak ini terus dibina melalui doa dan partisipasi Ekaristi. Fasilitas yang mendukung memungkinkan mereka mengikuti seruan umat menunjukkan keberpihakan Gereja terhadap mereka yang lemah.

Meskipun terbata-bata, mereka turut serta dalam seruan umat dan seluruh tindakan Ekaristi, menciptakan momen yang menyentuh. Kami kagum akan iman besar yang dimiliki anak-anak hebat ini menyadari kebesaran Tuhan melampaui kata-kata. Iman mereka terbentuk sejak dini di tempat ini. Lahir dari keheningan dan kedalaman hati yang paling murni.

Sr. Desi KYM memberi pendalaman aktualisasi diri sebagai wujud beriman.

Menghadirkan cinta

Awalnya, kami datang dengan tujuan memberikan pembelajaran bagi mereka yang menjadi subjek kegiatan kami. Namun, sebetulnya, justru mereka mengajarkan ketulusan, arti sebenarnya dari kebahagiaan, serta pentingnya mensyukuri dan menghargai setiap detik dalam kehidupan kepada kami.

Anak-anak hebat itu tidak hanya mengubah cara pandang kami terhadap dunia, tetapi juga mengubah cara pandang kami terhadap diri sendiri. Kami dibantu untuk melihat bahwa keterbatasan fisik atau mental bukanlah penghalang untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan. Melihat senyum mereka, tersirat kesempurnaan kehangatan yang menyentuh jiwa, dan cinta yang tanpa syarat. Bukti besarnya cinta Tuhan yang menjadikan kita sempurna.

Bunda Teresa mengungkapkannya sebagai bahasa cinta: “Bukan seberapa banyak yang kita lakukan, bukan seberapa banyak yang kita berikan, tetapi seberapa besar cinta yang kita letakkan dalam melakukan dan memberi.” Anak-anak hebat ini mengajarkan kami arti mencintai kehidupan yang penuh cinta.

Inilah pengalaman berharga yang akan selalu kami bawa dalam perjalanan hidup dan panggilan kami sebagai religius, yakni untuk membagikan cinta Tuhan bagi sesama. Cinta akan menerangi dunia, tidak peduli betapa sulit jalannya.

Setiap orang Kristiani, sejauh mana ia dikuduskan, menjadi makin berbuah bagi dunia ini. Para uskup dari Afrika Barat telah mengajari kita bahwa “kita dipanggil dalam semangat evangelisasi baru untuk dievangelisasi dan untuk mengevangelisasi melalui pemberdayaan semua orang yang telah dibaptis, agar Anda bisa menjalankan peran Anda sebagai garam dan terang dunia di mana pun Anda berada” (Gaudate et Exultate art.33).

Semoga ini menjadi panggilan kita bersama dalam membagikan kabar sukacita Injil untuk membangun dunia yang lebih baik.

Tim Penulis: Anjelita Elan, Antonia Cristianingsih, Desima Erlinda Agnesia, Maria Lusia Helyanan, Selfina, Dr. theol. D. Bismoko Mahamboro, Pr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *