SMP Kanisius Gayam melanjutkan rangkaian rekoleksi bagi murid kelas IX pada Jumat–Sabtu, 13–14 Februari 2026 di Wisma Wijaya 2, Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Setelah kegiatan rekoleksi tahap pertama pada Desember 2025 yang berfokus pada refleksi diri dan penetapan tujuan, kegiatan lanjutan ini semakin memperdalam pembentukan karakter murid melalui pendekatan spiritualitas Ignasian yang reflektif, kontekstual, dan transformatif.
Kegiatan rekoleksi ini didampingi Rm. Aluisius Dian Permana, SJ, Johanes de Britto Jorgi Prakosa Sonda, S.S., M.A. (pendidik SMA Kolese De Britto), Vincentius Chandra Pratama (Praktik Pengalaman Lapangan Universitas Sanata Dharma/PPL USD), serta tim Campus Ministry siswa yang terdiri dari Peter Antonio Patra, Gerardus Tosanaji Damar Wicaksono, Gabriel Bisma Rajendra, dan Raditya Gigih Darmawan.
Kehadiran para pendamping ini menghadirkan suasana rekoleksi yang hangat, dialogis, dan mendalam, sekaligus menjadi wujud nyata kolaborasi pendidikan Ignasian bersama SMA Kolese De Britto Yogyakarta.
Pada sesi pertama, peserta diajak mendalami materi “Menjadi Pribadi Diskretif”. Dalam sesi ini, peserta dibimbing untuk belajar membuat pertimbangan yang bijaksana dalam mengambil keputusan, mengenali suara hati, serta membedakan mana yang baik, lebih baik, dan terbaik bagi perkembangan diri.
Para fasilitator menekankan bahwa kedewasaan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan refleksi dan kebijaksanaan dalam bersikap di tengah tantangan zaman.

Memasuki sesi kedua, materi berjudul “Menjadi Pribadi yang Memiliki Resiliensi dan Belas Kasih (Compassion)” mengajak peserta memahami pentingnya ketangguhan mental sekaligus kepekaan terhadap sesama.
Melalui dinamika kelompok dan permainan, sharing, dan refleksi kelompok, para peserta diajak melihat bahwa kegagalan dan kesulitan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses pertumbuhan. Nilai belas kasih juga ditekankan sebagai ciri khas pribadi yang utuh, yakni mampu peduli, berempati, dan hadir bagi orang lain.
Suasana kreatif dan penuh harapan tampak pada sesi ketiga, ketika para peserta menggambar poster niat dan cita-citaku dengan tema “Menjadi Pribadi dengan Visi yang Jelas dan Bersukacita”. Melalui media visual, peserta menuangkan mimpi, harapan, dan komitmen pribadi yang ingin mereka wujudkan dalam perjalanan pendidikan selanjutnya. Kegiatan ini menjadi sarana ekspresi reflektif sekaligus afirmasi bahwa setiap peserta memiliki panggilan dan tujuan hidup yang berharga.
Sebagai puncak kegiatan, rekoleksi ditutup dengan ibadat sabda yang berlangsung khidmat dan penuh penghayatan. Dalam suasana doa dan keheningan, para peserta diajak mensyukuri perjalanan rekoleksi, memohon kekuatan untuk tetap setia pada niat baik, serta meneguhkan langkah dalam menghadapi ujian akhir dan jenjang pendidikan berikutnya.
Rangkaian rekoleksi lanjutan ini semakin menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan hati nurani, karakter, dan spiritualitas peserta. Melalui pendampingan yang personal, reflektif, dan inspiratif, para murid SMP Kanisius Gayam tampak semakin mantap, percaya diri, dan bersukacita dalam menatap masa depan.
Kolaborasi antara SMP Kanisius Gayam dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta dalam kegiatan ini juga menjadi cerminan nyata semangat pendidikan Ignasian yang menekankan cura personalis, pendampingan secara utuh bagi setiap pribadi murid.
Rekoleksi ini bukan sekadar kegiatan rohani, melainkan proses pembentukan manusia muda yang diskretif, tangguh, dan penuh belas kasih, selaras dengan nilai competence, conscience, dan compassion yang terus dihidupi dalam jaringan pendidikan Katolik.
Johanes de Britto Jorgi Prakosa Sonda, S.S., M.A. Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Pendamping Campus Ministry








