Harapan, Pendorong Gereja Membela yang Lemah

Pelita527 Views

Akhir-akhir ini, pemberitaan mengenai gelombang PHK terus menjadi trending topic yang mengisi hampir seluruh ruang pemberitaan di media massa, baik cetak maupun televisi.

Fenomena ini bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ini adalah gejala dari ketegangan global yang makin nyata, mulai dari perang yang tak kunjung usai, dan ketidakpastian ekonomi yang menyelimuti hampir seluruh lapisan masyarakat.

Peristiwa ini melahirkan babak baru dalam peradaban manusia, ketika kesejahteraan tidak lagi dapat dijamin oleh kerja keras dan dedikasi semata. Keringat dan loyalitas terhadap perusahaan tidak lagi menjadi jaminan keamanan ekonomi, karena sistem global yang saling terhubung juga membawa kerentanan yang saling menular.

Akibatnya, banyak buruh, karyawan, dan bahkan profesional kelas menengah terpaksa kehilangan pekerjaan bukan karena kesalahan pribadi, tetapi karena realitas ekonomi yang bergeser cepat, tidak stabil, dan sering kali tidak adil.

Di balik realitas ekonomi yang suram ini, muncul pertanyaan mendasar bagi semua pihak, terutama bagi umat Kristiani: ke mana masyarakat dapat berpaling untuk memperoleh harapan?

Ketika institusi politik kehilangan arah dan sistem ekonomi gagal melindungi yang lemah, apakah iman, nilai-nilai spiritual, dan refleksi teologis masih memiliki tempat dalam membentuk daya tahan sosial dan batiniah masyarakat?

Di sinilah pentingnya kita menghidupkan kembali dimensi pengharapan, bukan sekadar sikap pasif menanti, tetapi sebagai kekuatan moral dan spiritual yang mendorong pembaruan sosial, solidaritas, dan perlawanan terhadap struktur yang menindas manusia dan martabatnya.

Dalam kerangka ini, pemikiran Jürgen Moltmann (seorang teolog Jerman yang pernah mengalami sendiri getirnya perang), penawanan dan kehampaan zaman modern menjadi sangat relevan.

Moltmann menolak melihat harapan sebagai ilusi rohani belaka. Baginya, pengharapan Kristiani adalah tenaga pendorong perubahan yang mengakar dalam iman akan Allah yang hadir dalam sejarah, Allah yang menderita bersama manusia di kayu salib.

Ia menegaskan bahwa Allah tidak netral dalam menghadapi penderitaan, melainkan berpihak kepada mereka yang tertindas, yang dilupakan sistem, dan yang kehilangan masa depan.

Teologi harapan Moltmann bukanlah sekadar gagasan canggih yang hanya ada dalam ruang akademik atau kelas-kelas teologi, tetapi sebuah panggilan iman untuk bertindak nyata dalam mengubah dunia.

Ia adalah suara kenabian yang menggugah hati nurani, menyerukan agar iman Kristiani tidak berdiam diri, tetapi terlibat secara aktif dalam perlawanan nyata terhadap ketidakadilan, menolak struktur yang menindas, dan ikut membangun masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.

Moltmann mendorong umat Kristiani untuk tidak puas dengan doa dan ibadah semata, melainkan juga terlibat dalam praksis solidaritas, perjuangan hak asasi manusia, dan menciptakan tatanan ekonomi yang tidak lagi mengorbankan kaum lemah demi keuntungan segelintir elite.

Sejalan dengan itu, mendiang Paus Fransiskus melalui dokumen Spes Non Confundit menegaskan bahwa harapan Kristiani adalah kekuatan yang tidak mengecewakan, karena bersumber dari kasih Allah yang nyata.

Mendiang Paus Fransiskus melihat dengan jelas bahwa kaum muda dan para pekerja adalah korban dari sistem ekonomi yang tidak manusiawi. Menurutnya, harapan harus menjadi kekuatan yang mendorong Gereja dan umat beriman untuk membela yang lemah, membangun kembali kepercayaan, dan mewujudkan keadilan sosial.

Dalam dunia yang kian rapuh ini, kita tidak hanya butuh solusi ekonomi atau inovasi teknologi. Kita juga butuh kerangka makna, visi moral, dan harapan yang dapat menyatukan kembali manusia sebagai komunitas yang peduli dan bertanggung jawab.

Di titik inilah, iman dan teologi jika dihidupi sungguh-sungguh dapat menjadi bentuk pemberontakan rohani, bukan untuk memisahkan diri dari dunia, melainkan untuk masuk lebih dalam ke dalam luka-luka dunia, dan menjadi terang yang melawan kegelapan dengan kasih yang membebaskan.

Harapan Kristiani bukanlah kesabaran yang lemah, melainkan keteguhan yang menolak tunduk pada dunia yang tidak adil.

 

Sumber Refrensi

  • Ford, David, and Rachel Muers, eds. The Modern Theologians: An Introduction to Christian Theology Since. 3. ed. The great theologians. Malden, MA: Blackwell Pub, 2005.
  • “Spes Non Confundit.” Dokpen KWI, 2024.

 

Afrinaldi Tahu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *