“Paus Fransiskus adalah seorang pemimpin agama dan moral yang luar biasa, dan saya akan mengingatnya dalam doa-doa saya di masa yang akan datang.” Begitulah ungkapan hati Amir Hussain, seorang profesor yang mengajar teologi di Universitas Loyola Marymount di Los Angeles beberapa hari setelah wafatnya Paus Fransiskus.
Tulisannya tentang Paus Fransiskus berjudul What Pope Francis meant to me and the Muslim world. Ia sangat mengagumi sosok Paus Fransiskus dan karya-karyanya, meskipun ia sendiri tidak pernah berjumpa secara langsung dengan Paus Fransiskus.
Setelah Paus Fransiskus wafat pada 21 April 2025, banyak orang (baik Katolik maupun non-Katolik) merasa berduka karena kehilangan sosok yang murah hati, sederhana, dan tulus.
Amir Hussain melanjutkan, “Selama masa kepausannya, Paus Fransiskus juga menjangkau dunia Muslim dengan tindakan kerendahan hati yang sederhana. Hal ini dibuktikan pada perayaan Kamis Putih pertama setelah ia terpilih menjadi paus pada tahun 2013. Pada saat itu, beliau membasuh kaki seorang tahanan perempuan Muslim di Roma. Tindakan kerendahan hati yang sederhana itu menunjukkan banyak hal tentang Paus Fransiskus, baik dari segi hubungannya dengan umat Islam maupun kepeduliannya terhadap mereka yang terpinggirkan.”
Dalam tulisan lain, seorang Katolik yang bernama Robert Buckland telah lama meninggalkan Gereja Katolik dan kembali lagi ke pangkuan Gereja Katolik karena terinspirasi oleh Paus Fransiskus dan karyanya, yakni ensiklik Laudato Si’.
Dalam tulisannya yang berjudul How Pope Francis brought me back to the Catholic Church, ia menyatakan, “Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya membaca ensiklik kepausan secara keseluruhan. Bahkan, saya membacanya beberapa kali, dan menemukan di dalamnya sebuah visi tentang tanggung jawab manusia yang melampaui batas-batas denominasi dan tidak dibatasi oleh pertimbangan politik.”
Melalui sosok Paus Fransiskus dan membaca ensiklik Laudato Si’, Robert mulai menaruh perhatian dan kembali ke pangkuan Gereja Katolik yang telah lama ia jaga jarak. Ia menemukan bahwa agama Katolik dapat berbicara dengan penuh makna tentang isu-isu kontemporer, dapat menantang kekuasaan dan bukannya mengukuhkannya.
Pada saat ini, kurang lebih sudah 10 tahun Laudato Si’ diterbitkan, ia telah sepenuhnya kembali menjadi seorang Katolik. Hubungannya dengan Gereja Katolik bukan lagi ketaatan buta atau jarak yang meremehkan, melainkan keterlibatan yang mendalam dan juga penuh perhatian.
Demikian pun dalam sebuah wawancara oleh Vatican News kepada Adrian Pallarols, yang biasa dikenal dengan seorang tukang perak Paus yang juga adalah sahabat karib Paus Fransiskus. Ia menceritakan pengalaman hidupnya bersama Paus Fransiskus ketika masih menjadi seorang Uskup Agung Buenos Aires.
Mereka berkenalan hampir 28 tahun. Tukang perak generasi ketujuh ini biasa bertemu dengan Paus Fransiskus secara teratur. Dalam perjumpaan mereka, kedua sahabat ini membahas teologi serta seni sambil minum susu dan kue yang disiapkan oleh para biarawati.
Paus selalu mempunyai waktu untuk ngobrol dengan Adrian. Adrian mengingat kata-kata Paus saat mereka bertemu bersama, “Jika Anda di sini, itu karena Tuhan berkata Anda harus di sini. Jadi, izinkan saya menemui Anda. Ceritakan kabar Anda dan bagaimana kabar keluarga.”
Betapa murah hatinya Paus Fransiskus, selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan dan menguatkan orang-orang di sekitarnya.
Pertemuan mereka bermula pada tahun 2002 saat restorasi Katedral Buenos Aires, dan pada tahun 2005, mereka membuat sebuah piala bersama, yang mereka hadiahkan kepada Paus Benediktus XVI saat itu.
Bagi Adrian, Bapa Suci telah membawa perubahan besar dalam hidupnya dan menyembuhkannya. Ia merasa Paus Fransiskus selalu memperlakukannya sebagai saudara dan juga teman. Adrian tahu, banyak kekurangan dalam dirinya dan keluarganya. Melalui doa dan dukungan dari Paus Fransiskus, ia merasa diberkati, dilindungi, dan dikuatkan oleh Tuhan hingga pada saat ini.
Pengalaman Adrian Pallarols bersama dengan Paus Fransiskus menunjukkan betapa besar kepedulian Paus Fransiskus terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya. Kata-kata dari Santo Agustinus ini sangat nyata dalam hidup dan karya-karya dari Paus Fransiskus.
Santo Agustinus mengatakan bahwa kisah Yesus berjumpa dengan wanita yang berdosa adalah perjumpaan antara penderitaan atau kesengsaraan dengan belas kasihan (misera et misericordia).
Misera adalah kemalangan, sedangkan misericordia adalah hati yang penuh belas kasihan terhadap kemalangan. Paus Fransiskus mempunyai hati yang penuh belas kasihan terhadap mereka yang malang, seperti para pengungsi dan mereka yang menjadi korban peperangan.
Hati Paus Fransiskus seperti hati Tuhan yang selalu berjumpa dengan manusia apa pun latar belakang hidupnya. Karena itu dalam masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus sungguh menekanankan belas kasihan di atas penghakiman, kedamaian, dan persaudaraan bukan peperangan dan masih banyak lagi ciri khas hidup dari Paus Fransiskus yang menginspirasi banyak orang di dunia ini.
Pada 27 April 2025, hari kedua novendiali, sembilan hari berkabung untuk mendiang Paus Fransiskus yang ditandai dengan Perayaan Ekaristi, Kardinal Pietro Parolin, mantan sekretaris negara Vatikan, mengatakan kepada sekitar 200.000 orang yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus pada hari Minggu Kerahiman Ilahi bahwa Paus Fransiskus telah menjadikan pesan kerahiman Allah yang tak terbatas sebagai inti dari kepausannya.
Kardinal Parolin melanjutkan dengan sebuah kalimat yang sangat bagus, “Kasih sayang kita kepadanya (Paus Fransiskus) tidak boleh hanya menjadi emosi sesaat.” Ia melanjutkan, “Kita harus menyambut warisannya dan menjadikannya bagian dari hidup kita, membuka diri kita terhadap belas kasih Tuhan dan juga berbelas kasih kepada satu sama lain.”
Belas kasihan telah menjadi landasan atau fondasi dari ajaran dan pelayanan Paus Fransiskus semasa hidupnya, secara khusus dalam perjalanan hidupnya sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Kita kembali mengingat kata-kata penting darinya pada tahun 2013. Ia mengatakan, “Saya lebih suka Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena berada di jalanan, daripada Gereja yang tidak sehat karena terkurung dan karena berpegang teguh pada keamanannya sendiri. … Lebih dari sekadar rasa takut tersesat, harapan saya adalah bahwa kita akan digerakkan oleh rasa takut untuk tetap terkurung di dalam struktur yang memberi kita rasa aman yang palsu, di dalam peraturan yang membuat kita menjadi hakim yang keras, di dalam kebiasaan yang membuat kita merasa aman, sementara di depan pintu kita ada orang-orang yang kelaparan dan Yesus tidak bosan-bosannya berkata kepada kita: ‘Berilah mereka makan’ (Mrk. 6:37).”
Kata-kata ini pun ia hidupi dan semuanya itu merupakan bagian dari implementasinya terhadap apa yang sudah diamanatkan oleh Konsili Vatikan II. Gereja harus terbuka dan dialogis. Dengan kata lain, Gereja harus turut serta dalam membangun dunia yang lebih baik. Paus Fransiskus meninggalkan tanda terakhir yang tidak salah lagi tentang makna magisterium.
Dalam kondisi kesehatan yang kurang stabil, ia berjuang untuk tetap kuat dan mau berbicara. Ia bahkan menolak nasihat dari para penasihatnya untuk tetap tinggal di dalam rumah. Ia bersikeras untuk pergi ke luar untuk menyapa umat beriman pada hari Paskah, bahkan dengan risiko kematiannya sendiri.
Paus Fransiskus telah mengajarkan banyak hal kepada dunia dan terlebih khusus kepada Gereja semesta bahwa magisterium menemukan kejelasannya tidak hanya dalam proposisi, tetapi dalam tindakan belas kasih.
Untuk itu sangat penting bahwa Gereja harus meneruskan warisan-warisan dari Paus Fransiskus, terutama kemurahan hati, kesederhanaan, dan belas kasih di tengah dunia yang tengah menghadapi banyak krisis.
Belas kasihan dapat menyembuhkan luka, mendorong rekonsiliasi, mengatasi kebencian, perselisihan serta perpecahan antarumat manusia. Dengan belas kasihan, dunia baru dapat disembuhkan dan diciptakan kembali, memadamkan api ketidakpercayaan, kebencian dan juga kekerasan.
Sebagai orang Kristen, kita tidak dapat mengajarkan belas kasihan dan kasih sebagai kebenaran proposisional tanpa menghidupi belas kasihan dan kasih, sebagai sebuah hubungan yang konkret dengan orang-orang yang kita jumpai dalam hidup kita sehari-hari.
Demikian pun, penting bagi kita orang Kristen untuk membangun persahabatan dengan orang-orang yang kita jumpai. Untuk itu, marilah kita mengaplikasikan semuanya itu, sebagaimana sudah ditunjukkan oleh Tuhan Yesus sendiri dan Paus Fransiskus.
Sebagai sesama manusia, kita senantiasa mendukung perjalanan hidup kita bersama, terutama menghidupi belas kasihan dan kasih kepada mereka yang miskin, terlupakan, dan tersingkir menuju kehidupan bersama yang penuh dengan perdamaian dan persaudaraan.
Hayon Herys








