Generasi Muda Gereja Mengatasi Krisis Ekologis

Pelita771 Views

Akhir-akhir ini World Meteorological Organization (WMO) merilis buletin untuk Hari Udara Bersih demi Langit Biru pada 7 September 2024. Pada buletin tersebut, WMO menyatakan bahwa polusi udara ambien menyebabkan lebih dari 4,5 juta kematian dini di dunia setiap tahunnya dan menimbulkan kerugian ekonomi dan lingkungan yang tinggi. Bahkan, WMO menyatakan bahwa tahun 2023 merupakan tahun terpanas sepanjang sejarah, dengan anomali temperatur global 1,45°C.

Dengan begitu, dunia saat ini sedang dalam fase “tidak baik-baik saja”. Masalah utama yang dihadapi dunia saat ini adalah krisis ekologis yang diakibatkan karena buruknya kualitas udara. Bukan hanya di negara maju, tetapi negara berkembang seperti Indonesia pun mengalami masalah yang sama.

Buruknya kualitas udara disebabkan oleh banyaknya kandungan logam berat, karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), ozon (O3), senyawa organik volatil (VOC), dan sulfur dioksida (SO2). Zat-zat tersebut mayoritas terkandung pada asap-asap kendaraan, pemanas/pendingin ruangan, asap industri, dan pembakaran bahan bakar fosil lainnya.

Jika dari Indonesia sendiri masih memiliki pekerjaan rumah yang belum selesai sejak lama, maka Indonesia emas 2045 nantinya akan hanya menjadi angan semata. Tidak ada gunanya jika memiliki ekonominya maju, namun masih memiliki masalah lingkungan.

Generasi muda Gereja

Pada 10 Juni 2024, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyampaikan ajakan kepada generasi muda di Indonesia untuk menempuh gugatan iklim karena dampak krisis iklim di dunia dan Indonesia makin memburuk. Generasi muda adalah harapan negara di masa depan. Kita semua harus melek dengan kondisi iklim saat ini. Jika dibiarkan begitu saja dan tidak ada progres atau kesadaran untuk memperbaiki masalah ini, maka keberlangsungan hidup sehat, aman, dan nyaman tidak dapat dirasakan.

Lalu, sebagai penerus generasi bangsa dan Gereja, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi permasalahan ini? Sebagai landasan, kita harus mengetahui terlebih dahulu alasan generasi muda Gereja berpengaruh dalam mengatasi masalah iklim saat ini.

Gereja adalah persekutuan yang percaya kepada Kristus. Dalam Mat. 25:40, Yesus mengatakan bahwa segala sesuatu yang manusia lakukan terhadap saudaranya, mereka juga melakukannya kepada Kristus.

Kutipan tersebut berhubungan dengan pernyataan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ bahwa alam saat ini sedang menjerit karena segala kerusakan yang telah manusia timpakan padanya karena penggunaan dan penyalahgunaan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Dua kutipan di atas sudah mengajak dan memberi tahu kita bahwa sebagai Gereja, kita harus memerhatikan lingkungan yang ada di sekitar kita. Seluruh alam semesta ini adalah karya cinta kasih Allah terhadap manusia. Kita dapat merasakan cinta kasih Allah melalui alam lingkungan yang ada di sekitar.

Jika kita sendiri malah merusak keseimbangan iklim dan ekologis, maka kita secara tidak langsung telah merusak cinta kasih Allah. Kita harus sadar bahwa krisis iklim, bencana alam, dan anomali cuaca adalah teguran dari Allah. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untutk memperbaiki keseimbangan alam sebagai tanda pertobatan manusia.

Generasi muda Gereja saat ini dinilai kurang aktif dalam mengambil peran di suatu organisasi yang berfokus pada kesehatan lingkungan ataupun organisasi ekologis lainnya. Kebanyakan dari mereka akan menilai bahwa bergabung pada organisasi hanya membuat mereka sibuk dan membuang tenaga mereka.

Tujuan dari organisasi ekologis pun terkadang abstrak karena dampaknya tidak dapat dirasakan secara langsung. Indikator keberhasilannya pun baru dapat dilihat dalam rentang waktu 5-10 tahun atau lebih sesudah kegiatan. Oleh karena itu, akan ada orang muda yang berpikiran bahwa bergabung dengan organisasi itu hanya membuang tenaga dan tidak penting.

Pandangan tersebut terbentuk karena adanya teknologi-teknologi canggih yang membuat segala hal pada zaman ini praktis sehingga ketika kita ditawarkan dengan sesuatu yang lebih lama dan merepotkan, kita secara spontan akan menolaknya. Sadar tidak sadar, mentalitas praktis generasi muda pun terbentuk. Mentalitas praktis inilah yang sebenarnya masih menjadi pekerjaan rumah generasi muda zaman ini.

Generasi muda Gereja harus dapat menanamkan dan mengutamakan sesuatu yang lebih visioner. Jika tidak ada pionir untuk sesuatu yang inovatif, maka pembaruan di masa depan hanya sebatas angan saja. Generasi muda itu harus dapat menjemput bola dan bukan hanya berdiam di tempat untuk menunggu bola datang. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh generasi muda Gereja. Salah satunya adalah dengan mendalami koinonia Gereja.

Koinonia Gereja

Koinonia Gereja dapat diartikan sebagai persekutuan umat dalam membantu bidang material yang berdasarkan pada kasih Kristus dan menopang pemberitaan Injil. Kainonia Gereja memberikan kesempatan untuk berperan aktif membantu sesuai karunia dan telenta yang dimiliki.

Generasi muda tidak perlu menjadi ahli atau pakar lingkungan untuk dapat berperan mengatasi krisis iklim. Hanya dengan talenta atau kemampuan yang dimiliki pun sebenarnya generasi muda sudah dapat mengambil peran. Koinonia Gereja ini dapat menjadi salah satu instrumen untuk generasi muda dapat mensintesiskan antara imam, akal budi, dan hati nurani.

Perwujudnyataan dari koinonia Gereja ini sebenarnya sederhana. Contohnya saja, kita bisa berjalan kaki jika tujuan kita tidak terlalu jauh, kita bisa menggunakan tas ramah lingkungan ketika membeli sesuatu, kita bisa membatasi penggunaan listrik secara berlebihan, dan sebagainya.

Dengan tindakan konkret seperti tadi, generasi muda Gereja sudah ambil peran dalam membantu mengatasi iklim melalui koinonia Gereja. Ambil peran dalam mengatasi permasalahan iklim dan ekologis tidaklah serumit apa yang dipikirkan. Hanya saja terkadang manusia tidak memiliki niat dan memberi hati terhadap kegiatan tersebut sehingga kegiatan tersebut terkesan rumit.

Oleh karena itu, sebagai generasi muda penerus Gereja dan bangsa, mari kita berefleksi bersama, apakah selama ini kita sudah menjaga kestabilan lingkungan dengan segala kemampuan kita. Jika belum, mari kita wujudkan koinonia Gereja, supaya iklim dan dunia kita dapat membaik. Dengan kita mengembalikan kondisi bumi dan iklim, maka kita sudah membalas dan menjaga cinta kasih dari Allah kepada kita.

Yosua Deo Basado (Pelajar dari Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *