Ekaristi dan Klerus

Jendela635 Views

Kita tidak menyangkal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan tersebut telah mengglobal. Hampir semua tempat di belahan bumi ini telah tersentuh olehnya. Singkat kata, kemajuan tersebut telah melahirkan suatu budaya baru, yaitu budaya teknologi.

Salah satu anasir yang dibawa oleh budaya teknologi adalah alat komunikasi seluler yang kita kenal sebagai ponsel, yang dalam perkembangannya menjadi smartphone. Setiap orang mempunyai hak untuk memiliki ponsel, tidak terkecuali umat beriman dan para pejabat Gereja, secara khusus para uskup dan imam.

Penggunaan alat komunikasi tersebut dalam Ekaristi dilarang keras oleh Gereja. Sebab, yang ditekankan dalam Perayaan Ekaristi adalah hati yang terarah kepada Tuhan yang hadir. Klerus yang dipercaya sebagai alter Christi mempunyai peran penting dalam menghadirkan Kristus dan mengajak umat agar mengarahkan hati kepada Tuhan yang hadir dalam Perayaan Ekaristi.

Ekaristi

Perjamuan malam terakhir menjadi momen mulia lahirnya dua sakramen, yaitu Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat. Dalam perjamuan itu, Yesus bertindak sebagai imam agung yang sedang memimpin Perayaan Ekaristi. Yesus kemudian memercayakan para rasul untuk meneruskan perjamuan tersebut di dalam Gereja-Nya. Dalam hal ini, para rasul yang telah diurapi oleh Allah memperoleh otoritas menghadirkan kembali kurban Kristus dalam perjamuan Ekaristi dan memimpin perayaan tersbut. Sebagai pengganti para rasul, uskup yang dibantu oleh para imam juga mempunyai tugas yang sama. Uskup dan imam dalam tahbisan imamatnya telah dikaruniai otoritas untuk melaksanakan Ekaristi bagi umat beriman.

Gereja merefleksikan Ekaristi sebagai sakramen utama. Hal ini ditegaskan dalam ajaran Konsili Vatikan II yang menyebut Ekaristi sebagai “sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani” (LG 11). Sakramen diartikan sebagai tanda dan saranapersatuan mesra dengan Allah dan kesatuan umat manusia (LG 1).

Dalam hubungan dengan itu, Ekaristi sebagai sakramen menjadi tanda dan sarana persatuan dengan Allah dan kesatuan antarumat manusia sehingga Ekaristi merupakan perayaan umat, suatu perayaan yang mempertandakan kehadiran Tuhan dalam umat. Lebih dari sekadar mempertandakan, dalam Perayaan Ekaristi umat sungguh menghayati dalam imannya kesatuan dengan Tuhan yang hadir di tengah mereka sehingga dalam Sakramen Ekaristi terungkap dua dimensi, yaitu Ilahi dan insani. Dengan demikian, hal terpenting dalam Perayaan Ekaristi adalah keterarahan hati pada perayaan tersebut, baik sebagai pemimpin perayaan maupun umat beriman yang hadir.                

Klerus

Peran para uskup dan imam sangatlah penting dalam Perayaan Ekaristi. Sebab, dalam perayaan Ekaristi, kita mengenal kata transubstansiasi, suatu kata yang menjelaskan perubahan substansial suatu materi tanpa mengubah bentuk dari materi tersebut. Transubstansiasi dalam Gereja Katolik terjadi atas roti dan anggur ketika dikonsekrasi oleh imam. Dalam peristiwa itu, bentuk materi dari roti dan anggur tidak berubah, tetapi substansinya telah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Dengan demikian, transubstansiasi atas roti dan anggur menjelaskan perubahan substansi dari roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang utuh.

Kristus sungguh hadir dalam Perayaan Ekaristi. Kehadiran Kristus menyapa setiap umat yang hadir, memberkati, dan mengutus Roh Kudus agar umat beriman tetap berpegang teguh pada imannya dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya dalam kehidupan nyata. Dalam konteks ini, imam berperan mengajak umat beriman untuk senantiasa menyadari kehadiran Kristus. Dengan demikian, Perayaan Ekaristi sungguh merupakan perayaan umat, yang di sana terjadi kesatuan antara umat beriman dengan Tuhan yang hadir dan persatuan sesama umat beriman.

Di samping itu, para klerus harus menjadi tokoh teladan bagi umat dalam menghayati Ekaristi. Mereka orang pertama yang menghayati dengan sungguh kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Mereka mengarahkan seluruh hati dan pikiran mereka kepada Kristus yang hadir sehingga mereka sungguh mengalami persatuan dengan Kristus dan menjadi persona Christi yang sejati.

Kesungguhan para imam menghayati Ekaristi bukan tidak mungkin membantu umat beriman untuk dengan sungguh ikut Ekaristi yang dilangsungkan. Imam yang kurang menghayati menampilkan aura yang kurang membantu umat dalam menghayati Ekaristi. Umat menyimpan dan bahkan sibuk dengan banyak pertanyaan akan keberadaan imam yang demikian. Dengan keseriusan seorang imam memimpin Perayaan Ekaristi, memungkinkan kita melihat Perayaan Ekaristi menjadi perayaan bersama umat dengan Sang Guru Agung yang hadir dalam Ekaristi dan bisa menstranformasi umat, yaitu kesetaraan dengan Dia.

Fakta yang Terjadi

Fakta yang umum terjadi, tidak sedikit umat lebih fokus pada ponsel yang dipegangnya selama Perayaan Ekaristi. Mereka sibuk membalas pesan yang masuk ke ponselnya. Bahkan tidak hanya umat, klerus juga tidak jarang menggunakan ponselnya, walau hanya mengambil gambar. Fenomena tersebut menggambarkan sebuah degradasi penghayatan iman akan Ekaristi. Ekaristi yang dipahami sebagai kehadiran Tuhan secara nyata bisa saja hanya sebuah olahan ratio, bukan kesadaran iman, sehingga Ekaristi itu hanya sebuah seremoni profan yang diikuti tanpa kesadaran.

Berhadapan dengan fenomena tersebut, Paus Fransiskus dalam suatu audensinya pada 8 November 2017 merasa sangat sedih. Kesedihan Paus bisa kita pahami sebagai keprihatinan akan kemunduran kesadaran dan penghayatan terhadap Ekaristi. Paus menanggapi hal itu dengan mencoba mengedepankan arti hakiki dari Ekaristi itu sendiri. Paus mengatakan, “Dalam Ekaristi, umat beriman datang untuk bertemu Tuhan sehingga yang perlu dilakukan adalah mengangkat hati bukan ponsel.”

Pernyataan singkat Bapa Paus mengkritisi kita umat beriman yang menggunakan ponsel selama Perayaan Ekaristi berlangsung. Di suatu sisi, Paus hendak mengajak umat awam untuk kembali kepada kesadaran akan kesakralan Ekaristi. Ekaristi merupakan momen perjumpaan dan persatuan umat dengan Tuhan yang hadir. Oleh karena itu, persiapan hati menjadi sarana penting untuk menyambutnya, bukan dengan barang elektronik.

Di sisi lain, Paus secara tidak langsung mengingatkan para klerus akan posisi mereka sebagai in persona Christi dalam Ekaristi. Para klerus dalam imamat mereka telah memperoleh gelar tersebut dari Kristus sendiri. Sebagaimana yang telah kita katakan sebelumnya, para klerus dalam imamatnya itu menghadirkan Kristus dalam Ekaristi suci. Sebagai imam atau uskup yang terurapi, mereka harus sungguh menghayati Ekaristi yang dibuatnya.

Kesadaran pribadinya akan Ekaristi tersebut memampukan dirinya mengangkat hati umat beriman ke dalam misteri Ekaristi yang dilangsungkan. Teguran Paus terhadap para klerus yang memanfaatkan ponsel berorientasi pada kesadaran akan makna imamatnya serta arti Ekaristi itu bagi umat beriman dan dirinya sendiri.

Harapan

Ekaristi bukan merupakan perayaan hura-hura, tetapi perayaan persatuan umat dengan Kristus. Imam sebagai pribadi yang terurapi hendaknya mempunyai kesadaran akan hal ini. Kesadaran tidak hanya sebatas logika filosofisnya, tetapi juga menyentuh hati terdalamnya. Sebab, imamatnya mampu menghadirkan Tuhan untuk umat dalam Perayaan Ekaristi. Umat beriman hendaknya juga mempunyai kesadaran akan Tuhan yang hadir dalam Ekaristi ingin menyapa mereka. Tidak sebatas mereka, Dia mau memberkati dan menggunakan dirinya yang lemah menjadi duta kebenaran di tengah kehidupan nyata. Dengan demikian, segala bentuk komunikasi lain lewat ponsel dalam Perayaan Ekaristi perlu dihindari. Tinggalkan komunikasimu yang lain untuk sementara dan bangunlah komunikasi baru dengan Tuhan yang hadir dalam Ekaristi dengan hatimu.

Fredy Ndalung, S.Fil.
Alumni STFT Widya Sasana, Malang; Pengajar SD Katolik Santo Yosef, Kediri

Ilustrasi: www.maxpixel.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *