Setiap orang yang terpanggil khusus menjadi religius, baik sebagai imam, biarawan, atau biarawati, mempunyai keunikan tersendiri dalam sejarah panggilan hidupnya. Tuhan memanggil setiap pribadi dengan cara tersendiri dan penuh kejutan.
Br. Yohanes Don Bosco, MTB terpikat hatinya menjadi biarawan berawal dari pengalaman sederhana. Suatu hari, ia mengikuti Perayaan Ekaristi mingguan di Katedral Pontianak. Saat menerima komuni, ia begitu kagum dengan bruder MTB yang sudah berusia tidak muda lagi dengan penuh semangat membantu imam untuk membagi komuni suci.
Dalam hati kecilnya ia membatin, “Jikalau Tuhan memanggil saya, suatu waktu saya akan melanjutkan bruder itu.”
Sebelum masuk biara, Br. Bosco sudah bekerja menjadi tukang pencatat kayu “cerucuk” di Sungai Ambawang, Sungai Raya, Kalimantan Barat. Hari-hari ia begitu telaten dengan pekerjaannya.
Entah mengapa, hatinya berbisik untuk mengubah nasib dengan mengais rejeki di Kota Pontianak. Pekerjaan yang diterima pun tidak terlalu diperhitungkan. Ia bekerja sebagai tukang parkir di salah satu tempat praktik dokter umum. Oleh dokter, Bosco tidak hanya diberi tugas menjaga parkir, tetapi diberi tugas tambahan untuk mencatat pasien.
Rupanya, ia masih gelisah tentang panggilan hidupnya. Ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan pimpinan bruder MTB demi menyampaikan niatnya menjadi seorang bruder. Tahun 2007, ia pun bergabung menjadi postulan di Kota Pati, Jawa Tengah.
Sulung dari empat bersaudara buah hati pasangan Lorensius Lajim dan almh. Lorentina Dalena ini mengakui, selama pendidikan di ruang formasi awal (postulan-novisiat), tidak terlalu banyak persoalan dalam mengikuti segala aturan dan pembinaan diri menjadi seorang bruder.
Ia mengucapkan profesi perdana pada 15 Agutus 2009. Selama dua tahun, kongregasi memberi tugas kepadanya sebagai pengurus rumah tangga komunitas dan asisten pembina asrama putra SMP Kuala Dua Kembayan, Sanggau, Kalimantan Barat.
Br. Bosco yang suka karaoke lagu lawas ini pada masa juniorat ketiga hingga kaul kekal menempuh studi S-1 Guru Agama Katolik di Sekolah Tinggi Pastoral (STP) St. Agustinus Pontianak.
Berkat kercerdasannya, pimpinan biara memberi kepercayaan menjadi guru agama di tingkat SMP hingga menjadi Kepala SD Karya Budi Putussibau, Kalimantan Barat.
Demi tuntutan karya, di sela sebagai kepala sekolah, ia melanjutkan S-2 di Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKaTN) Pontianak pada 2021-2023. Br. Bosco yang diwisuda pada 9 Desember 2023 ini akhirnya boleh mendapat gelar M.Th.
Ia merasa bersyukur, karena selama dalam proses perkuliahannya banyak sekali tantangan yang dihadapinya, baik soal waktu maupun tugas-tugas yang bertumpuk di sekolah tempat ia memimpin.







