Sleman. Baru-baru ini, Pendampingan Iman Remaja (PIR) Paroki St. Alfonsus Nandan berkunjung ke Vihara Karangdjati Nandan. Kunjungan ini bertujuan mengaplikasikan tema Adven 2023 Keuskupan Agung Semarang (KAS), yakni “Menantikan Raja Damai untuk Indonesia Damai” dan tema Natal PGI dan KWI 2023 “Kemuliaan bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi”.
Tema Adven dan Tema Natal ini memberikan arti untuk berani keluar dari diri sendiri untuk membangun persaudaraan antarumat beriman. Persaudaraan diartikan saling berjalan bersama dan bersinergi bersama untuk menciptakan kedamaian dan persaudaraan antarumat beragama yang memiliki tujuan Indonesia damai.
Banyak hal yang terjadi di Indonesia menyebabkan perpecahan antarumat beriman. Dari hal ini, kesadaran itu perlu dimulai sejak dini. Maka, pendamping PIR Nandan mengkonkretkan dengan aksi nyata.
Pastor Paroki Nandan Rm. Jonathan Billie Cahyo Adi, Pr turut mendukung kegiatan positif ini. Meski memiliki banyak kegiatan dan kesibukan, Rm. Billie menyempatkan diri bergabung bersama. Ia mengajak anak-anak untuk membangun persaudaraan bukan hanya kepada sesamanya (umat beriman) melainkan kepada semakin banyak orang (kepada saudara yang berkeyakinan lain).
Selain itu, Rm. Billie juga mengatakan bahwa teman-teman Vihara boleh berkunjung ke Gereja Nandan yang terbuka 24 jam. Artinya, Gereja juga terbuka untuk saudara-saudara yang berkeyakinan lain. Gereja bukan hanya sarana umat Katolik untuk beribadah, tetapi juga sarana untuk membangun persaudaraan lintas iman.
PIR Nandan melakukan perjalanan ke Vihara dengan berjalan kaki. Lebih dari itu, mereka juga berupaya melakukan aksi konkret dengan mengambil sampah yang ada di jalanan sebagai bentuk konkret menjaga Bumi Indonesia agar alam tetap terpelihara dengan baik.

Sesampai di sana, PIR Nandan mulai berdinamika dengan anak-anak remaja Vihara. PIR Nandan mulai diperkenalkan salah satu ibadah umat Buddhis yakni ibadah Puja Bhakti. Ibadah ini sama halnya dengan Perayaan Ekatisti yang dilaksanakan umat Katolik. Hal ini dilakukan bukan sekadar memperkenalkan, tetapi juga harapannya untuk menghormati saudara yang berbeda keyakinan.
Setelah Puja Bhakti, dinamika mulai dilaksanakan. PIR Nandan dan Remaja Vihara mulai berbaur dalam dimanika. Dinamika itu diisi dengan ice breaking dengan tema “Cinta Kasih”. Setelah itu, kegiatan diisi dengan refleksi bersama tentang cinta kasih dari agama Katolik dan agama Budhha. Tujuannya adalah untuk saling mengenal cara cinta kasih antaragama.
Setelah itu, keduanya mengkonkretkan cinta kasih itu. PIR Nandan mengkonkretkan dengan mempersembahkan sebuah lagu “Persahabatan Bagai Kepompong” dan remaja Vihara mengkonkretkan dengan aksi “Fang Shen” (melepaskan makhluk hidup).
Cinta kasih antara dua agama ini memiliki kesamaan, hanya berbeda cara pandang, tetapi yang menjadikan kesatuan adalah memiliki ajaran cinta kasih. Cinta kasih bukan sekadar kata dan ucapan manis, melainkan mampu dikonkretkan bagi seluruh mahkluk hidup.
Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan sebagai simbol ujud cinta kasih. Harapannya, persaudaraan ini tidak hanya sebatas acara ini selesai, melainkan ada tindakan lanjut yang semakin mempererat tali persaudaraan lintas iman antara umat Katolik dan umat Buddha.
Relasi lintas Iman dan persaudaraan ini perlu dikenalkan sejak dini agar anak-anak juga mulai memahami pentingnya persaudaraan antarumat beragama. Indonesia bukanlah negara berbasis agama, maka terdapat enam agama di dalamnya, yakni Protestan, Katolik, Islam, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Relasi lintas iman ini berguna bagi anak-anak untuk mengenal dan belajar membangun persaudaraan dan cinta kasih seperti Yesus sebagai Gembala Utama yang telah mengajarkan cinta kasih kepada semakin banyak orang tanpa pernah membedakan agama, status, dan budaya.








