Disiplin dan Jujur, Nilai Lebih SMP Aloysius Turi yang Disyukuri Orang Tua

Papan Tulis883 Views

Selebrasi kelulusan siswa kelas IX SMP Aloysius Turi pada Senin, 2 Juni 2025 pagi itu dilakukan dengan cara berbeda. Saat Kepala Sekolah Agnes Natalia Endry Krisnawardani membacakan surat keputusan, membimbing siswa membuka amplop yang sudah dibagikan, dan menyatakan, “Seratus persen siswa dinyatakan lulus,” tidak ada gegap-gempita berlebihan menyambutnya. Siswa langsung tenggelam dalam kehangatan bersama orang tua. Mereka sungkem, orang tua memeluk.

Yanto, mewakili orang tua murid, saat menyampaikan sambutan berkata-kata dengan lugas, “Saya pernah dipanggil guru BK.” Anaknya, Vito, berulah.

Ini bukan kali pertama Yanto dipanggil ke sekolah. Dua kakak Vito yang juga pernah bersekolah di SMP Aloysius Turi pernah bikin gara-gara. Saat Vito berulah, Yanto tak kaget. Ia menerima ada kenakalan anaknya. Tak ia tampik itu. “Saya justru bersyukur, sekolah ini memberi perhatian pada anak saya,” ujarnya.

Hal anak nakal, baginya, wajar-wajar saja. Itu bagian dari pertumbuhan. “Bapak Ibu masih ingat, saat pertama masuk sekolah, kita mengantarnya sampai ke dalam. Anak kita masih kecil waktu itu. Tapi lihatlah sekarang, ada anak kita sudah berkumis,” lanjutnya disambut tawa orang tua lainnya.

Kostum Nusantara yang dikenakan anak-anak saat pelepasan bukan sekadar simbol, melainkan wajah nyata keseharian mereka.

Anak-anak berubah. Mereka tak lagi anak kecil yang dulu. Mereka kini lebih besar fisiknya. Bagi Yanto, sekolah berperan besar dalam masa pertumbuhan anaknya. Tak hanya bertambah pintar secara akademik, tetapi juga bertambah dewasa secara mental dan sikap.

Menyitir tema pelepasan “Kulepas dengan Kasih untuk Terbang Meraih Mimpi”, Yanto mengapresiasi pendampingan sekolah asuhan Bruder CSA ini pada anaknya. “Kasih punya daya ubah luar biasa. Anak saya sekarang lebih jujur. Dia mau cerita kalau ada masalah,” ungkapnya.

Ini penting. Usia SMP tidaklah mudah, baik bagi anak-anak maupun orang tua. Bagi anak-anak, SMP itu usia melawan. Mereka sedang terdorong untuk melepaskan diri dari dekapan orang tuanya. Sikap ini tak selalu dipahami orang tua. Sulit bagi orang tua berdialog dengan anaknya. Maka, bagi Yanto, anak mau terbuka pada orang tua itu keberkahan luar biasa.

“Kalau tambah ngeyel itu wajar,” tukas Yanto. Ngeyel ia maknai sebagai sikap berani dan kritis. Bagi Yanto, ini menunjukkan iklim sekolah mengasah anak-anak berani menyatakan pendapat.

Mama Rose memeluk Bene. Mengenal lingkungan yang berbeda dari lingkungan asalnya itu penting.

Rose mengamini pernyataan Yanto. Ibu dari Bene ini bersyukur anaknya bisa menamatkan pendidikan di SMP Aloysius Turi. Datang dari Nabire, Papua, ibu yang pernah berkuliah di Yogyakarta ini merasakan perubahan anak perempuannya.

Sesuai harapannya, anaknya kini lebih disiplin dalam belajar. “Ia juga kenal lingkungan sekitar sekolah dengan baik,” pujinya. Bagi Mama Rose, panggilan akrabnya, mengenal lingkungan yang berbeda dari lingkungan asalnya itu penting.

Sementara itu Hengki, ayah dari Edwel, merasakan hal yang sama. Didukung dengan sistem asrama, Hengki melihat anaknya lebih bisa mengatur waktu. Datang dari Sorong, Papua Barat, bersama istri dan anaknya, Hengki menyatakan kebanggaannya akan perubahan-perubahan positif pada anaknya. Menurutnya, sekolah ini berhasil meletakkan dasar-dasar kuat bagi anaknya.

Salah satu sikap dasar itu, menurut Rose dan Hengki, adalah pandangan anak tentang keberagaman. Dengan tinggal di asrama, anak-anak secara nyata hidup dalam perbedaan. Beda suku, agama, dan latar belakang kebudayaan.

Hengki bersama Edwel serta istri dan anak keduanya. Sekolah ini berhasil meletakkan dasar-dasar kuat bagi anaknya.

Maka, kostum Nusantara yang dikenakan anak-anak saat pelepasan bukan sekadar simbol, melainkan wajah nyata keseharian mereka. Siswa sekolah yang terletak di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini memang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain dari Papua, ada yang datang dari Medan, Jambi, Jakarta, dan daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa.

Membaca pernyataan-pernyataan orang tua murid di atas, terasa sekali SMP Aloysius Turi menjaga, menghidupi, dan terus menghidupkan semangat pendiri Bruder CSA, yakni Rm. Hellemons OCSO, ketika menetapkan pelayanan kongregasi ini pada pembentukan karakter orang muda. Secara khusus, pembentukan lewat asrama.

Asrama putra-putri menjadi kekhasan SMP Aloysius Turi. Asrama dikelola bruder. Tidak semua anak tinggal di asrama. Sebagian tinggal di luar bersama keluarga masing-masing. Namun, semangat asrama terintegrasi dengan pendidikan di sekolah, terutama dalam penanaman nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, dan kebersamaan.

Maka, menjadi bisa dipahami ketika orang tua memercayakan pembentukan pribadi anak-anaknya di sekolah ini tidak semata-mata pada keunggulan akademi—yang ini tetap penting mengingat anak-anak perlu bekal intelektual memadai untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, melainkan pada kekukuhan karakter—terutama karena anak-anak perlu bekal yang kuat untuk hidup mereka di dunia yang terus bergerak dan berubah.

AA Kunto A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *