Ada perbedaan antara mendidik dan mengajar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1991: 232), mendidik berasal dari kata “didik” dan mendapat awalan me-. Maka, “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, dan pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Mendidik fokus pada pengembangan karakter, moral, dan kepribadian siswa. Berorientasi pada pengembangan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, berkreasi, dan berkomunikasi efektif. Tujuannya adalah untuk membantu siswa menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kemampuan untuk belajar sepanjang hidup. Prosesnya lebih bersifat dua arah, yaitu antara guru dan siswa, serta antara siswa dengan lingkungannya.
Sedangkan mengajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa dengan cara menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif untuk melakukan proses belajar. Mengajar fokus pada penyampaian pengetahuan, keterampilan, dan informasi. Berorientasi pada kurikulum dan materi pelajaran. Tujuannya adalah untuk memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa. Prosesnya lebih banyak bersifat satu arah, yaitu dari guru ke siswa.
Dari apa yang dikemukan di atas, terdapat perbedaan antara mendidik dan mengajar. Bobot mendidik adalah pembentukaan sikap, mental atau kepribadian peserta didik. Sedangkan bobot mengajar adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan keahlian tertentu dari peserta didik. Mendidik dan mengajar adalah dua konsep yang terkait tetapi memiliki perbedaan yang signifikan.
Sekolah merupakan rumah kedua atau second home bagi seorang murid. Dengan pendidikan yang diberikan oleh guru, murid akan terbentuk karakternya. Oleh karena itu, dalam mendidik, setiap guru hendaknya bisa menyentuh heart, head, dan hand murid-muridnya.
Dalam mendidik, hal pertama yang harus disentuh dari seorang murid adalah “heart”, hati sang murid. Sentuhan hati ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Berdoa bersama, membaca Kitab Suci, atau mendengarkan Kitab Suci yang dibacakan, mendengarkan renungan sebelum pelajaran dimulai dapat membentuk karakter religius pada anak.
Jika ingin membentuk anak yang memiliki karakter peduli sosial atau empati kepada yang miskin, lemah, sakit, atau menderita, kegiatan yang dapat dilakukan adalah mengajak mereka mengunjungi teman yang sakit, mengunjungi panti asuhan, dan lain-lain.

Para guru hendaknya menjadi “papi-mami” di sekolah bagi para murid. Setiap murid yang mendapatkan perhatian yang tulus dari guru-gurunya, niscaya mereka juga akan membagikan perhatian yang dimiliki pada orang lain.
Hal ke dua yang disentuh adalah “head”, kepala atau otak mereka. Guru hendaknya selalu mengajak para muridnya berpikir tentang tanggung jawabnya sebagai pelajar, tanggung jawab menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru, dan tanggung jawab akan masa depan dirinya, keluarganya, bangsa dan negaranya.
Hal ketiga atau terakhir yang perlu disentuh adalah “hand”, tangan para murid. Sentuhan tangan ini berkaitan dengan aksi yang dilakukan para siswa. Dalam hal ini, guru perlu mengajarkan dan membiasakan para siswa beraksi ketika melihat hal-hal yang tidak semestinya.
Sebagai contoh ketika melihat sampah berserakan di kelas segera mengambil sapu untuk membersihkan. Ketika melihat meja-meja kelas tidak rapi segera merapikan. Ketika melihat tanaman hias di depan kelas layu, segera mengambil air untuk menyiramnya.
Intinya, para siswa dibiasakan melakukan tindakan-tindakan positif apabila melihat hal-hal yang negatif. Hal ini perlu dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi karakter yang peduli pada lingkungan.
Jika guru tidak hanya mengajar, tetapi mendidik dengan hati, niscaya akan terbentuk murid-murid yang memiliki karakter yang hebat. Guru berkontribusi menciptakan calon-calon pemimpin negara dan gereja yang hebat. Selamat mendidik dengan hati, teman-teman guru di mana pun berada. Tuhan memberkati.
Y. Jaka Prastana








